Karla Wulaniyati
Karla Wulaniyati Guru

Let the beauty of what you love be what you do (Rumi)

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Apakah Artikel Kita Tergolong Sampah?

12 Januari 2019   19:12 Diperbarui: 12 Januari 2019   19:25 370 24 15
Apakah Artikel Kita Tergolong Sampah?
pixabay.com

Artikel ini tercetus karena tipu daya akal dengan berpikir apa tulisan saya seperti sampah tak berarti. Kalau pengibaratan koran tertumpuk sebagai koran bekas tak bernilai yang berakhir sebagai alat bungkus, alas, atau dibakar. Begitupun dengan artikel yang saya tulis apa hanya sekedar tulisan sampah karena tertumpuk oleh artikel lain yang hebat dan mencerahkan.

Pemikiran seperti itu memang selalu meracuni saya agar masuk daftar alasan untuk berhenti dalam menulis tetapi tidak akan jadi hebat jika segala sesuatu dilewati tanpa kesulitan. Kesulitan yang hadir karena berpikir tulisan saya tidak berguna bisa jadi jalan saya lulus sebagai penulis pemula jika saya tidak patah semangat dan terus menulis membuat karya.

Saya mengingat-ngingat apa yang menjadi alasan saya menulis. Saya mendapati niat, kecintaan, gairah, dan kebanggaan. Saya jadikan modal berharga yang bisa menjadi bahan bakar saat saya menulis.

Lalu saat saya membaca buku Harga Sebuah Impian dari serial Chicken Soup for the Writer's Soul ada kalimat dari tulisan Valerie Hutchins, " Penulis membuat orang merasa senang dengan kata-kata."

Buat saya pesan yang disampaikan kuat dan memberikan semangat bahwa ternyata lewat penulis orang menjadi merasa senang dengan kata-kata. Lewat kata-kata penulis menitipkan pesan yang disampaikan persis seperti pesan yang disampaikan Valerie dengan kalimatnya tadi.

Pesan yang disampaikan seorang penulis bisa merupakan pesan yang baik,  membuat semangat, membahagiakan, memberikan pengetahuan, bahkan mencerahkan. Tapi sayangnya ada juga pesan yang disampaikan buruk, mencela, ujaran kebencian, bahkan perundungan.

Jika hanya lewat sebuah tulisan atau artikel bisa membuat perubahan menjadi lebih baik walau sedikit dan sederhana berarti tulisan yang dihasilkan bukan sampah dan tidak berguna.

Jadi kalau ada pemikiran atau ucapan dari siapapun tentang percumanya menulis artikel di Kompasiana abaikan saja. Justru jadikan saja menjadi pemicu agar terus menulis dan menyebarkan pesan yang baik, positif, dan mencerahkan.

Sedikit atau seringan apapun kalau kebaikan selalu menghasilkan dan mengundang kebaikan yang lain. Jadi terus saja menulis agar yang membaca merasa senang dengan kata-kata.

Semua manusia mempunyai bagiannya tersendiri dalam mengumpulkan bekal kepulangan ke kampung akherat, dan bukan hal yang tidak mungkin bekal kebaikan bisa dilakukan walau hanya lewat tulisan bermanfaat walau ringan dan sederhana sekalipun.

Karla Wulaniyati untuk Kompasiana
Karawang, Sabtu 12 Januari 2019