Mohon tunggu...
kardianus manfour
kardianus manfour Mohon Tunggu... belajar mencintai kebijaksanaan hidup

mahasiswa filsafat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kritis dan Selektif

17 Juli 2020   22:44 Diperbarui: 28 Mei 2021   16:22 2135 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kritis dan Selektif
Memahami Kritis dan Selektif (unsplash/sigmund)

Kritis berarti tidak menerima begitu saja segala hal yang ditawarkan. Perspektif kritis bekerja menurut logika berpikir yang unik. Titik tolaknya selalu berangkat dari keyakinan tentang masalah yang menggerogoti sebuah entitas, dilanjutkan dengan pelibatan subyek sasaran dalam analisis untuk membantunya dalam mengenal sejarah hidupnya dan diakhiri dengan aksi dan esksekusi terhadap program yang menjadi solusi atas permasalahan yang ada.  

Sedangkan,  selektif berarti tahu memilah-milah mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana yang baik dan mana yang buruk serta tahu menentukan prioritas. Kedua sikap ini merupakan sikap yang representatif dalam menyikapi setiap perkembangan media massa dan berbagai tawaran yang menyertainya. 

Kritis dan selektif dapat juga dilihat sebagai sikap yang menghantar manusia pada kedewasaan baik dari segi cara berpikir, cara menanggapi maupun cara menyikapi.

Baca juga : Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

Tak dapat dihindari, bahwa media massa menawarkan berbagai hal yang menuntut kita untuk  bersikap secara tepat. Jamak ditemukan, dilihat, didengar atau disaksikan berita-berita bohong yang kadang-kadang mengaburkan nilai kebenaran. Kebenaran menjadi buram  karena kebohongan pun dapat dianggap sebagai hal yang benar. 

Semua itu adalah contoh problematika sosial yang mau tidak mau harus disikapi secara tepat  dan benar. Dalam konteks inilah, sikap kritis dan sikap selektif sangat perlu bahkan harus dimiliki oleh kita saat ini. Akal budi memainkan peran yang penting berkaitan dengan sikap kritis dan selektif ini. 

Baca juga : 

Akal budi memampukan kita untuk melakukan tindakan yang benar  berdasarkan maksud yang murni serta keluar dari suatu disposisi yang tepat.  Dengan demikian, kita tidak mudah terombang-ambing oleh tawaran-tawaran teknologi yang mengarah hanya pada prinsip kesenangan belaka.

Kalau kita bertitik tolak dari persoalan-persoalan seputar media massa dan bagaimana media massa itu menyita perhatian banyak orang maka tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa era digital adalah era kebangkitan dari benda-benda yang berjiwa elektronik, yang dihidupkan oleh mesin. 

Baca juga : Pilahlah Informasi Secara Selektif

Manusia telah sedemikian rupa menjadi budak dari ciptaannya sendiri. Bisa dibayangkan, betapa hancurnya kehidupan kita ketika menjadi budak-budak tanpa masa depan yang cerah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x