Mohon tunggu...
Kanopi FEBUI
Kanopi FEBUI Mohon Tunggu... Jurnalis - Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UI

Kanopi FEBUI adalah organisasi yang mengkhususkan diri pada kajian, diskusi, serta penelitian, dan mengambil topik pada permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia secara makro. Selain itu, Kanopi FEBUI juga memiliki fungsi sebagai himpunan mahasiswa untuk mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi dimana seluruh mahasiswa ilmu ekonomi merupakan anggota Kanopi FEBUI.

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Bagaimana Rumor dalam Perekonomian Memengaruhi Perilaku Masyarakat?

18 November 2022   19:42 Diperbarui: 24 November 2022   12:18 1320
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi perilaku manusia dan ciri-cirinya(freepik.com/macrovector via kompas.com)

Another day, another gloomy article about the 2023 economy.

Hanya tersisa beberapa bulan lagi sampai kita merayakan tahun baru 2023. Namun, tahun baru yang biasanya identik dengan harapan dan resolusi, kini terlihat suram. 

Sulit rasanya untuk tetap optimis di tengah-tengah rumor resesi global dan krisis pangan. Hal ini disebabkan tahun 2023 diprediksi menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. 

Unggahan-unggahan mengenai potensi resesi sering sekali kita lihat di media sosial maupun televisi dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. 

Padahal, mereka baru saja merasa "aman" setelah melewati berbagai kemerosotan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, dan sekarang sudah kembali dipersiapkan untuk menghadapi resesi global yang tidak pasti. 

Namun, dari mana asal usul rumor resesi global tersebut? Apa yang mendasarinya? Dan bagaimana rumor tersebut memengaruhi perilaku masyarakat?

Di balik Rumor Resesi Global 2023

Prediksi mengenai resesi global 2023 bukannya tanpa alasan. Peristiwa yang sedang terjadi di sekitar kita, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina, menyebabkan penurunan pada pasokan suplai dunia atau "krisis pangan". 

Kurangnya suplai barang-barang utama di pasar memicu terjadinya inflasi di seluruh dunia, terutama Amerika Serikat. 

Merespon fenomena tersebut, Amerika Serikat melalui The Fed berupaya menahan laju inflasi dengan menaikkan suku bunga, yang kemudian mendorong bank sentral di berbagai negara juga melakukan hal yang sama. 

Jika bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka kemungkinan besar dunia akan mengalami resesi. Begitulah kesimpulan yang bisa kita dapatkan jika mengikuti teori ekonomi

Namun, perekonomian di dunia nyata tidak sesederhana yang digambarkan melalui model-model ekonomi. Meskipun didukung dengan data-data yang relevan, tidak ada orang yang dapat memprediksi resesi secara akurat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun