Mohon tunggu...
Kanopi FEBUI
Kanopi FEBUI Mohon Tunggu... Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UI

Kanopi FEBUI adalah organisasi yang mengkhususkan diri pada kajian, diskusi, serta penelitian, dan mengambil topik pada permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia secara makro. Selain itu, Kanopi FEBUI juga memiliki fungsi sebagai himpunan mahasiswa untuk mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi dimana seluruh mahasiswa ilmu ekonomi merupakan anggota Kanopi FEBUI.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Menemukan Waktu Terbaik untuk Membunuh

1 Mei 2020   18:22 Diperbarui: 1 Mei 2020   18:30 977 2 1 Mohon Tunggu...

"Murder is not about lust and it's not about violence. It's about possession. When you feel the last breath of life coming out of the woman, you look into her eyes. At that point, it's being God."

Kata-kata yang keluar dari mulut seorang Ted Bundy berhasil membuat geram jiwa kemanusiaan kita. Dia adalah salah satu pembunuh berantai paling terkenal sepanjang sejarah dengan jumlah korban setidaknya 36 orang. Sekilas, kita setuju bahwa seorang pembunuh sudah sepatutnya diberikan hukuman yang setimpal. Namun, pernahkah kita terpikir sebuah kasus di mana pembunuh justru diberikan penghargaan?

Hal itu nyatanya sering terjadi di sekitar kita. Di Bekasi, seorang korban pembegalan menusuk pelaku hingga tewas dengan celurit milik sang begal. Tindakannya kemudian sangat diapresiasi oleh kepolisian setempat. Hal serupa juga terjadi di Jakarta Timur. Seorang pencuri tewas di tangan korbannya dengan tancapan belati milik pelaku. Dalam benak, kita pasti langsung memaklumi apa yang terjadi dan tidak berniat sama sekali untuk menghukum mereka. Lalu, bagaimana perubahan sikap itu bisa terjadi? Lantas pertanyaan lebih besar ikut muncul; Bagaimana cara ilmu ekonomi memaknai tindakan bela diri yang berujung 'pembunuhan' itu?

Dalam ilmu ekonomi, ada satu asumsi terkenal yang tidak jarang diperdebatkan, yaitu keberadaan manusia sebagai homo economicus dengan sifat rasionalnya. Sadar atau tidak, rasionalitas turut bekerja dalam otak para pelaku kriminal. Setidaknya, begitulah kata penerima nobel Gary S. Becker (1968). Dengan pendekatan expected utility, ia menyatakan bahwa pelaku kriminal tidak ada bedanya dengan rational man. Mereka juga mempertimbangkan jumlah pendapatan dari aktivitas legal sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia kriminal. Berawal dari sini, dikenal subdisiplin economics of crime yang kemudian populer.

Efficient Murder?

Di antara berbagai istilah yang ada di subdisiplin tersebut, salah satu yang menarik adalah efficient crime. Ekonom David D. Friedman (2000) menjelaskannya melalui teori hukuman optimal berikut:

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi
Menurutnya, upaya pencegahan tindak kriminal akan terus berlangsung selama net damage bernilai non-negatif. Jika nilainya mencapai negatif, alias gain lebih besar dari damage, suatu tindak kriminal justru layak disebut sebagai efficient crime. Lantas seradikal itukah ilmu ekonomi?

Selain menuliskannya, Friedman juga menjelaskan pentingnya atribut gain to criminal. Apabila tidak ada, ilmu ekonomi bisa kehilangan kontribusinya dalam mengembangkan pemberantasan tindak kriminal menjadi lebih efisien. Steven E. Rhoads (1988) juga menyatakan hal yang senada. Menurutnya, kehilangan yang diterima oleh korban kejahatan pasti diimbangi dengan gain yang dirasakan oleh pelaku kriminal. Contohnya, kehilangan dompet milik seorang korban penodongan akan otomatis menjadi milik sang penodong.

Berbicara soal penodongan, alangkah baiknya kita melihat kondisi Indonesia saat ini. Menurut BPS, terdapat 8.423 pencurian dengan kekerasan di tahun 2018. Para pelaku di klasifikasi itu menggunakan senjata tajam (sajam) ataupun senjata api (senpi) dalam melancarkan aksinya, dan kedua kasus di awal tulisan ini termasuk ke dalam aksi tersebut. Tak dimungkiri, penggunaan senpi dan sajam telah membuka ruang kesempatan terjadinya pembunuhan.

Jika seorang pencuri ataupun begal membunuh korbannya, pelaku akan mengambil harta yang dimiliki oleh korban. Sementara, si korban akan kehilangan harta dan nyawanya. Dalam menilai sebuah nyawa, moralitas ilmu ekonomi seringkali diragukan selayaknya dalam kasus Ford Pinto.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN