Mohon tunggu...
Kanopi FEBUI
Kanopi FEBUI Mohon Tunggu... Jurnalis - Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UI

Kanopi FEBUI adalah organisasi yang mengkhususkan diri pada kajian, diskusi, serta penelitian, dan mengambil topik pada permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia secara makro. Selain itu, Kanopi FEBUI juga memiliki fungsi sebagai himpunan mahasiswa untuk mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi dimana seluruh mahasiswa ilmu ekonomi merupakan anggota Kanopi FEBUI.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Fast Fashion: Si Murah yang Tak Ramah

10 Januari 2020   20:07 Diperbarui: 10 Januari 2020   20:42 3605
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Produksi fast fashion juga menghasilkan emisi sebesar 1.715 juta ton CO2 per tahun menjadikannya salah satu industri yang paling banyak menghasilkan polusi dan menghasilkan potensi kerugian ekonomi sebesar US$500 miliar per tahun akibat pakaian yang jarang dipakai dan tidak dapat didaur ulang, limbah ini juga memancarkan gas berbahaya di udara akibat sulit terurai. Dilansir dari New York Times, sebanyak 4,3 juta pakaian H&M tidak terjual tiap tahunnya.

Lalu kemana limbah pakaian ini ditempatkan?

Kebanyakan pakaian bekas dari Amerika diluar pakaian yang disumbangkan untuk kegiatan amal akan dikemas dan dikirim ke negara berkembang untuk dijual kembali sehingga menyebabkan menggunungnya limbah pakaian bekas di negara-negara berkembang ini.

Adanya limbah hasil produksi pabrik dan limbah pakaian yang tidak terpakai mengindikasikan adanya eksternalitas negatif dari produksi fast fashion. Masyarakat disekitar pabrik akan terdampak kesehatannya akibat proses produksi yang dilakukan pabrik.

Di Kanpur, India, tanah di lingkungan sekitar pabrik terkontaminasi kromium akibat produksi dan satu-satunya sumber air pun ikut tercemar. Berbagai masalah kulit dan masalah pencernaan bahkan kanker mengintai masyarakat akibat kromium dalam air.

Nilai eksternalitas negatif yang tidak diinternalisasi oleh perusahaan menyebabkan produksi yang ada di pasar saat ini mengalami overproduce dan underprice sehingga tidak menggambarkan kondisi keseimbangan pasar yang optimal.

Sebuah Kontradiksi?

Dari segi ekonomi, fast fashion memang membuat harga pakaian menjadi murah dan bisa dijangkau lebih banyak kalangan masyarakat, namun dampak negatifnya terdapat pada timbulnya budaya konsumtif, kesejahteraan pekerja pabrik yang jauh dari kata wajar dan limbah yang merusak lingkungan.  Terdapat trade off antara harga murah dengan kesejahteraan pekerja dan kondisi lingkungan.

Terdapat sebuah kutipan mengenai fast fashion yang sangat menggambarkan industri ini di pikiran saya.

"Fast fashion isn't free. Someone, somewhere is paying" -- Lucy Siegle

Jika terus berproduksi dengan orientasi mendapatkan profit sebesar-besarnya dan mengabaikan kondisi lingkungan, maka tinggal menunggu waktu sampai dampak buruk dari alam yang sudah dicemari ini akan kita dapatkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun