Mohon tunggu...
Kanopi FEBUI
Kanopi FEBUI Mohon Tunggu... Jurnalis - Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UI

Kanopi FEBUI adalah organisasi yang mengkhususkan diri pada kajian, diskusi, serta penelitian, dan mengambil topik pada permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia secara makro. Selain itu, Kanopi FEBUI juga memiliki fungsi sebagai himpunan mahasiswa untuk mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi dimana seluruh mahasiswa ilmu ekonomi merupakan anggota Kanopi FEBUI.

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Big Data, Instrumen Kebangkitan "Planned Economy"

26 Juli 2019   19:50 Diperbarui: 28 Juli 2019   15:05 3176
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi oleh KAJI POST - Kanopi UI

Namun, seiring berkembangnya teknologi dan kemampuan komputer, hal ini dapat memberikan presisi yang lebih tinggi tentang perekonomian dan dapat merestorasi economic planning yang dahulu dicoba di era negara-negara komunis Tapi, apakah benar semudah itu?

Tidak Semudah Itu

Perdebatan klasik mengenai planned economy pada abad ke-20 pernah terangkum dalam Socialist Calculation Debate. Kaum Sosialis dan Libertarian pada era tersebut berdebat mengenai kemungkinan kaum sosialis untuk memiliki kalkulasi mengenai perekonomian di tengah ketiadaan harga (hukum permintaan dan penawaran), modal, dan kepemilikan swasta atas alat-alat produksi. 

Kaum Libertarian berpendapat bahwa ketiadaan harga yang terjadi atas mekanisme pasar (permintaan dan penawaran) membuat seorang pengambil kebijakan mengalami kesulitan dalam menentukan sebuah alternatif yang paling efisien. 

Dalam mekanisme pasar, seseorang akan melakukan cost-benefit analysis dari setiap alternatif yang ia miliki. Misal, ketika sebuah negara memutuskan akan membangun sebuah pembangkit listrik, dari mana para pengambil kebijakan akan tahu jenis pembangkit listrik yang paling efisien untuk dibangun jika tidak ada harga? Atau bagaimana cara terbaik bagi negara tersebut untuk mengkalkulasi 'harga'? Kubu ini percaya bahwa kalkulasi yang dilakukan tanpa dasar pasar tidak akan pernah mencapai suatu perekonomian yang efisien [Mises. 1949].

Selain mengungkapkan opini tersebut, kubu Libertarian juga membumikan frasa the knowledge problem. Friedrich Hayek mengungkapkan bahwa pengetahuan mengenai kondisi perekonomian pada saat dan di tempat tertentu tidak mungkin tersentralisasi di tangan seseorang ataupun suatu instansi, melainkan terdesentralisasi di berbagai pihak. Desentralisasi ini akan tergambar dalam bentuk harga [Hayek. 1945]. 

Misalnya, ketika harga minyak dunia meningkat, konsumen hanya mengetahui bahwa mungkin ia perlu mengurangi konsumsinya atas minyak. Sementara produsen juga hanya perlu tahu bagaimana cara kembali meningkatkan produksi. Namun, semua itu tercermin dalam mekanisme kenaikan harga yang tidak dimiliki oleh sistem planned economy. 

Menurutnya, keberadaan sistem harga ini membuat tidak diperlukannya campur tangan manusia dalam merencanakan perekonomian karena perencanaan yang dibuat tidak akan pernah efisien.

Kemampuan big data untuk menangani masalah knowledge problem yang dibawakan oleh Friedrich Hayek juga diragukan oleh beberapa pihak. Information isn't knowledge: Big data hanya merupakan kumpulan informasi yang berasal dari data-data perekonomian pasar dan tidak mungkin ada tanpa pasar. Seorang pengambil kebijakan tidak akan sepenuhnya bisa membuat perencanaan untuk masa depan hanya bergantung pada data historis keadaan pasar di masa sebelumnya. Pasar harus terus ada.

Mungkinkah?

Lantas, bagaimana kita bisa melihat kebangkitan kembali planned economy mengingat keberadaan big data? Binbin Wang, seorang ekonom Tiongkok, dalam paper-nya yang termasuk di dalam World Review of Political Economy tahun 2017 berusaha menawarkan alternatif yang dinamakan: 'Plan-Oriented Market Economy System'. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun