Mohon tunggu...
Kania Indria Hadi
Kania Indria Hadi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi

Mahasiswi dengan ketertarikan dalam bidang menulis.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Fenomena Peredaran Film Illegal pada Aplikasi Tiktok

10 Agustus 2022   10:05 Diperbarui: 10 Agustus 2022   10:15 674 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(Sumber: play.google.com)

Aplikasi Tiktok merupakan aplikasi yang paling banyak digandrungi oleh orang-orang dengan total jumlah pengunduh sebanyak 2 miliar. Aplikasi ini berhasil mencuri banyak perhatian dengan daya tariknya dalam mengunggah bentuk format video pendek disertai dengan fiter dan fitur kreatif lainnya. Menurut laporan dari App Annie sendiri menyatakan bahwa pengguna Tiktok di beberapa negara menghabiskan lebih banyak waktunya untuk mengonsumsi konten di aplikasi Tiktok ketimbang aplikasi Youtube. Hal ini membuktikan bahwa format video pendek lebih efektif dalam memikat penggunanya dibandingkan dengan format video panjang. Namun meskipun posisi aplikasi Tiktok mengungguli aplikasi Youtube di App store, sayangnya tidak seperti Youtube, aplikasi Tiktok belum menunjukkan niat seriusnya dalam memerangi peredaran film illegal yang bebas terunggah sebagai konten di aplikasi tersebut. 

Hal ini diutarakan sendiri oleh seorang sutradara asal Indonesia bernama Ernest Prakasa yang diunggah di media sosial Instagramnya, “@tiktokofficialindonesia adalah aplikasi yang tumbuh & berkembang dari kreativitas para creator. Ironisnya, tidak seperti Youtube, Tiktok hingga saat ini belum menunjukkan niat serius memerangi pembajakan. Sedih.”

(Sumber: pramborsfm.com)
(Sumber: pramborsfm.com)
Foto diatas menunjukan tangkapan layar yang diunggah Ernest Prakasa ke akun Instagram pribadinya yang berisi unggahan-unggahan film karya Ernest yang dapat dinikmati secara gratis oleh khalayak umum. Pada tangkapan layar tersebut dapat dilihat cuplikan- cuplikan film Ernest Prakasa yang dibagi menjadi beberapa part dengan masing-masing part berdurasi 3 menit karena kebijakan dari Tiktok itu sendiri yang membatasi durasi video yang dapat diunggah penggunanya dengan maksimal waktu 3 menit. 

Setiap part bersambung ke part selanjutnya sampai film itu selesai. Tidak tanggung-tanggung, viewers dari konten video berisi film illegal tersebut bahkan ada yang menembus lebih dari 500.000 viewers atau hampir mencapat satu juta viewers. Namun kehadiran dari akun yang melakukan pelanggaran terhadap hak cipta tersebut tidak kunjung mendapat larangan resmi dari aplikasi Tiktok. Hal ini menunjukan bahwa aplikasi Tiktok tidak menanggapi kasus ini dengan serius dan justru menikmati traffic yang ada. Seperti unggahan Ernest Prakasa selanjutnya yang diunggah di akun pribadi media sosial Twitter miliknya,

(Sumber: aspirasiku.id)
(Sumber: aspirasiku.id)

Aplikasi Tiktok dikenal sebagai aplikasi yang mudah memberi larangan resmi akibat dari peraturan ketat yang dimilikinya. Semenjak aplikasi Tiktok pernah di blokir pada tahun 2018 akibat konten-konten dari aplikasi tersebut yang sudah semakin ke arah negatif, mulai dari pornografi, asusila, LGBT, pelecehan agama, fitnah, serta konten tidak mendidik lainnya yang dapat mempengaruhi penggunanya, aplikasi Tiktok kembali dengan aturan dan proteksi yang lebih ketat dari sebelumnya sebagai syarat yang harus dipatuhi dari pemerintah guna membersihkan dan mencegah konten-konten negatif yang dulu bebas terunggah di aplikasi Tiktok. Namun melihat kondisi sekarang dimana masih banyak peredaran film illegal yang bebas terunggah di aplikasi Tiktok tanpa diberi larangan resmi menunjukan bahwa hal ini merupakan pengecualian, yang artinya aplikasi Tiktok tidak menanggapi tindak pelanggaran terhadap hak cipta dengan serius. Konten yang mengandung pelanggaran terhadap hak cipta mungkin tidak memberikan dampak negatif secara langsung kepada masyarakat namun hal ini tetap memberikan dampak negatif berupa kerugian pada industri perfilman di Indonesia.

Berdasarkan UU No 33 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat 1 mengenai Perfilman, Film merupakan karya cipta seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dipertunjukkan. Dengan ini, maka setiap film yang sebagai karya seni merupakan objek hak cipta yang dilindungi oleh undang-undang. Untuk itu setiap pembuat film memiliki hak eksklusif untuk memonopoli karya ciptanya dalam rangka melindungi karya ciptanya dari pihak lain seperti dengan mengumumkan dan memperbanyak karya ciptanya atau memberikan izin kepada orang lain untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis sesuai dengan haknya. Peredaran film illegal pada aplikasi Tiktok sudah termasuk dalam pelanggaran hak cipta karena mereka dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan, memperbanyak, atau memberi izin terhadap karya cipta yang bukan milik mereka.

Pelanggaran terhadap hak cipta termasuk dalam pelanggaran yang serius karena pertama, hal tersebut dapat merugikan pencipta karena tidak mendapatkan keuntungan yang seharusnya mereka peroleh, kedua kepada konsumen dan masyarakat karena tumbuhnya sikap tak acuh mengenai apa yang sah dan tidak sah, ketiga kepada pemerintah karena dengan banyaknya tindak pidana hak cipta dapat merugikan sektor penerimaan atau pendapatan negara melalui pajak penghasilan hak cipta, dan terakhir hubungan internasional apabila film illegal yang tersebar menyangkut ciptaan asing. Seharusnya dengan ini aplikasi Tiktok dapat mengedukasi masyarakat terkait hal-hal tersebut, bukan dengan memfasilitasinya. Maraknya peredaran film illegal pada aplikasi Tiktok harus ditindaklanjuti dengan membuat kebijakan berisikan aturan mengenai sanksi terhadap pelanggaran hak cipta seperti yang diterapkan oleh aplikasi Youtube dalam rangka memerangi pembajakan film yang dapat merugikan industri perfilman Indonesia.

Namun maraknya peredaran film illegal pada aplikasi Tiktok tidak hanya disebabkan oleh kelemahan dari kebijakan yang diterapkan oleh aplikasi Tiktok saja. Faktor masyarakat juga menjadi salah satu penyebab masih maraknya peredaran film illegal pada aplikasi Tiktok. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang hak cipta, khususnya hak milik menyebabkan masih banyaknya masyarakat bersikap tak acuh terkait hal tersebut dan menganggap hal tersebut sebagai hal yang sah-sah saja. Buktinya, tangkapan layar yang diunggah di Instagram Ernest Prakasa menunjukan jumlah penonton yang menikmati konten film illegal di aplikasi Tiktok mencapai 700 ribu penonton. 

Dari 700 ribu penonton dapat dikatakan sedikit diantaranya yang menunjukan kesadaran dan kepeduliannya dengan melaporkan akun tersebut melalui fitur yang sudah disediakan, sementara sisanya menikmati konten film illegal tak berbayar yang diunggah oleh akun tersebut. Dikarenakan apabila memang mayoritas penonton memiliki kesadaran bahwa hal tersebut melanggar hukum maka mayoritas penonton akan melaporkan akun tersebut dengan segera sehingga menyebabkan akun tersebut di banned dari Tiktok. Namun dengan tetap berdirinya akun tersebut menunjukan bahwa memang mayoritas masyarakat Indonesia masih bersikap tak acuh dan kurang ter-edukasi mengenai pelanggaran hak cipta dan hak milik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan