Mohon tunggu...
Kang Win
Kang Win Mohon Tunggu... Penikmat kebersamaan dan keragaman

Ingin berkontribusi dalam merawat kebersamaan dan keragaman IG : @ujang.ciparay

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Jalan Tak Selalu Mulus

30 April 2021   09:58 Diperbarui: 30 April 2021   14:42 100 23 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jalan Tak Selalu Mulus
Media Indonesia

"Seorang Kompasianer Hebat menuliskan puisi khusus untuk saya "Goresan Puisi Perdana di Usia 55", yang membuat istri saya mengacungkan dua jempol sekaligus untuk saya, bukan untuk penulisnya "

Paragraf di atas saya kutip dari artikel saya  2 minggu yang lalu yang berjudul "16 April, Refleksi Setahun Berkompasiana". Sesaat setelah penayangan puisi tersebut di Kompasiana, Romo Bobby Sang Penulis puisi mengirim DM kepada saya sebagai berikut :

"Puisi ini bukan hoaks, kan? Saya susuòn berdasarkan tulisan Kang Win."

Tulisan-tulisan saya di Kompasiana sebagian besar merupakan kisah perjalanan saya. Sesuatu yang saya alami atau pernah saya saksikan. Saya tulis apa adanya tanpa dilebih-lebihkan atau dikurangi. Kalaupun ada banyak yang tidak diungkapkan, semata-mata karena terkait teknis penulisan saja. Kalau pembaca mencermati tulisan-tulisan saya tentang kisah perjalanan saya, akan tampak kesan bahwa perjalanan saya mulus-mulus saja. Dan jika kesan itu muncul, itu tidak salah, karena saya menulisnya dari sisi pencapaian yang positif. Sejatinya banyak hal yang ingin saya tulis tentang perjalanan saya dari sisi yang lain. Misalnya saja cerita tentang kegagalan atau keterpurukan.

Satu hal yang ingin saya katakan, bahwa ternyata menuliskan kisah perjalanan itu tidak mudah,  baik dari sisi pencapaian yang positif maupun dari sisi kegagalan. Kalaupun yang sudah muncul kisah-kisah pencapaian yang positif, semata-mata karena baru itu yang muncul sebagai inspirasi penulisan. Bagi saya menyengajakan diri mencari inspirasi untuk sebuah tulisan adalah sesuatu yang tidak mudah. Karena itulah saya lebih sering menulis ketika tiba-tiba inspirasi itu datang. Kesulitan lain yang seringkali datang, adalah ketidakpedean saya untuk melepas tulisan saya ke hadapan pembaca. Akhirnya sebuah tulisan hanya bisa menyesaki tempat parkir di hard disk saya.

Suatu saat saya berhasil menyelesaikan sebuah naskah yang mau saya terbitkan menjadi sebuah buku. Rangkaian tulisan yang saya buat dengan susah payah selama 2 tahun dan tinggal mengirimkan ke Penerbit, akhirnya saya buang (dihapus) seluruhnya. Pertimbangan saya, jika buku itu sempat terbit akan berpotensi "menyakiti" beberapa pihak. Saya tidak ingin berbangga diri bisa menulis sebuah buku, tetapi di sisi lain memberi "rasa sakit" kepada orang lain atau pihak lain, meski itu sesuatu yang apa adanya.

Kembali kepada keinginan menulis cerita perjalanan saya dari sisi yang lain, saya tidak pernah tahu kapan saya bisa melakukannya. Karena saya sungguh tidak bisa menebak kapan inspirasi datang menghampiri. Namun sesuatu yang tidak terduga tiba-tiba muncul di hadapan saya. Mas Guido (mohon maaf kalau saya sebut), seorang Sahabat Kompasianer yang tergabung di Inspirasiana menuliskan komentar di salah satu tulisan saya. Komentar yang sangat singkat. Ini saya kutipkan berikut ini :

"Gak baik terlalu alim di sekolah, banternya nakal dikit:):)"

Bagi saya komentar ini adalah semacam kritikan yang lumayan tajam dari seorang sahabat dan saya sungguh sangat berterima kasih untuk itu. Bagi saya ini bukan kritikan kepada isi tulisan saya, tapi kritikan kepada saya si penulisnya. Istri saya yang memang selalu membaca tulisan-tulisan saya berkata kepada saya.

"Ibu setuju dengan komentar Mas Guido. Selama ini tulisan Bapa lurus-lurus saja. Saatnya menulis dari sisi yang lain"

Dalam tulisan saya yang berjudul "16 April, Refleksi Setahun Berkompasiana" saya antara lain menulis sebagai berikut :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN