Mohon tunggu...
Kang Win
Kang Win Mohon Tunggu... Penikmat kebersamaan dan keragaman

Ingin berkontribusi dalam merawat kebersamaan dan keragaman

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Energi Ibadah Haji

18 Juni 2020   01:00 Diperbarui: 18 Juni 2020   01:02 56 25 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Energi Ibadah Haji
Okezone.com

Tidak seperti kebijakan lain dalam masa pandemi covid-19, keputusan pemerintah untuk tidak memberangkatkan jemaah calon haji tahun ini, tidak menimbulkan reaksi berlebihan dari masyarakat. 

Kalaupun ada reaksi, seperti biasa muncul dari beberapa “orang pintar”. Reaksi itupun sebatas isue tentang dana haji. Selebihnya tidak tampak adanya pro kontra di tengah-tengah masyarakat.

Kita tentu bersyukur bahwa kebijakan untuk tidak memberangkatkan jamaah calon haji pada tahun ini tidak menjadi amunisi bagi para “pengrajin kegaduhan” untuk membuat situasi pandemi ini lebih sulit.

Kegagalan para “pengrajin kegaduhan” mengangkat isue dana haji menjadi “arena pameran” hasil kerajinan mereka, tampaknya disebabkan kebijakan pemerintah ini bisa diterima dengan baik oleh para jamaah calon haji yang menjadi “objek” dari kebijakan ini.

Perasaan kecewa, sudah pasti dirasakan oleh seluruh jamaah calon haji yang seharusnya bisa berangkat tahun ini. Perasaan kecewa ini sejatinya tidak hanya dirasakan oleh para calon jemaah haji yang sudah dijadwalkan berangkat tahun ini, tapi juga menghinggapi calon-calon haji lainnya yang sudah terjadwalkan untuk berangkat tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.

Pembatalan pemberangkatan jamaah calon haji pada tahun ini, akan menyebabkan mundurnya jadwal keberangkatan mereka secara keseluruhan. Menambah panjang masa penantian.

Namun, tampaknya kekecewaan itu bisa tereliminasi oleh kesadaran yang tinggi dari para calon jemaah haji.

Kesadaran bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang bersifat “panggilan”, yakni panggilan dari Alloh SWT khusus untuk mereka yang beriman. Maka ketika sampai pada satu titik dimana panggilan itu belum bisa dilaksanakan oleh karena sebab yang bersifat darurat, maka bisa diartikan bahwa Alloh SWT belum menghendaki panggilan itu dilaksanakan. 

Dengan kesadaran inilah maka para calon jamaah haji yang seharusnya bisa berangkat tahun ini, dengan penuh keikhlasan bisa menerima keputusan pemerintah tersebut.

Hari-hari ini menjelang akhir bulan syawal, biasanya merupakan hari-hari terakhir persiapan keberangkatan calon jemaah haji ke tanah suci. Acara-acara pengajian walimatul hajj dalam rangka syukuran rencana keberangkatan dilakukan oleh calon jemaah haji dengan mengundang kekuarga besar dan handai taulan. Toko-toko yang menjual oleh-oleh haji semakin sibuk melayani para calon jemaah haji.

Kesemarakan persiapan keberangkatan haji seperti itu, tentu saja tidak terjadi pada tahun ini. Semoga saja pandemi covid-19 ini bisa segera berlalu, sehingga tahun depan ibadah haji bisa terlaksana kembali.

Ibadah haji merupakah rukun Islam yang kelima. Menjadi kewajiban bagi yang mampu menunaikannya. Pengertian mampu dalam ibadah haji tidak terbatas kepada mampu dalam konteks biaya, tetapi juga meliputi hal-hal lain, seperti kesehatan pribadi. Oleh karena itulah kesehatan menjadi syarat bisa tidaknya seseorang berangkat ke tanah suci.

Ibadah haji merupakan panggilan Alloh SWT. Akan tetapi tidak semua orang terpanggil untuk menunaikannya. Banyak orang yang secara financial mampu dan sehat secara fisik, tetapi dengan berbagai alasan tidak berkeinginan untuk berangkat.

Sebaliknya banyak dari mereka yang secara financial cukup sulit untuk bisa menunaikan ibadah haji, dengan keinginan yang kuat akhirnya bisa berangkat. Banyak contoh tentang hal seperti ini.

Dalam pelaksanaan ibadah di tanah suci pun banyak terjadi hal-hal unik. Meski ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan kebugaran prima, tidak semuanya bisa menjalankan ibadah dengan baik, meski tidak bermasalah dengan kesehatan. Sebaliknya banyak yang tidak memiliki kebugaran prima atau punya masalah dengan kesehatan dapat melaksanakan keseluruhan rukun dan wajib haji serta sunahnya secara baik.

Tentang keunikan melaksanakan ibadah haji, saya teringat pengalaman ibu saya.

Ibu saya itu bisa dikatakan betul-betul orang rumahan. Sehari-hari hampir tidak pernah bepergian seorang diri, bahkan untuk sekedar belanja ke pasar yang letaknya hanya 200 m dari rumah. Hanya ke masjid untuk mengikuti pengajian ibu-ibu sesekali bisa pergi tanpa ada pendamping, lebih sering dijemput oleh ibu-ibu yang lain.

Tetapi ketika secara mendadak mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji, mampu menjalaninya sendirian dalam arti tidak ada keluarga yang mendampingi. Dikatakan mendadak, memang betul-betul mendadak, tidak terdaftar sebagai calon jemaah haji yang akan berangkat tahun itu (2003). Pada tahun itu berangkat haji masih relatif mudah, tidak ada daftar antrian bertahun-tahun seperti sekarang.

Menjelang musim haji itu, ibu mendapat rejeki yang tidak diduga cukup untuk membayar ONH dan keperluan lainnya. Pada saat yang sama di KBIH yang ada di kampung kami, salah satu calon jemaah haji, karena sesuatu hal harus nenunda keberangkatannya. Maka berangkatlah ibu saya dengan menggunakan nama calon jemaah haji yang tidak jadi berangkat itu.

Sejatinya kami anak-anaknya, juga ayah (yang sudah berhaji lebih dulu), merasa khawatir melepas ibu berangkat seorang diri, mengingat dalam keseharian yang tidak pernah bepergian seorang diri. Tapi melihat semangat yang ditunjukkan ibu, akhirnya kami mengikhlaskannya. Dan pada kenyataannya, dari Informasi yang diterima dari pendamping KBIH kami dapat mengetahui bahwa selama di tanah suci ibu tidak mengalami masalah yang serius. Kami sangat bersyukur karenanya.

Ibadah haji memang memberikan energi yang luar biasa bagi orang-orang yang punya niat yang kuat semara-mata mengharap ridlo Alloh. Itulah orang-orang yang terpanggil oleh panggilan Alloh SWT.

Salam hangat

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x