Mohon tunggu...
Kakarima
Kakarima Mohon Tunggu... Jurnalis - Kakarima

Bercerita dengan kata untuk edukasi kita bersama.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Tidak Sekadar Upgrade Motor, Melainkan Ada Pesan di Dalamnya

9 September 2022   11:32 Diperbarui: 9 September 2022   11:40 217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Status FB Kangmox tahun lalu, dokpri

Sebenarnya untuk kajian di dalam kota sudah cukup dengan skutik 125cc yang pernah ada, namun karena sukanya touring jadi ingin rasanya merasakan bareng dengan rombongan Ustadz Subhan Bawazier dan Muslim Biker Indonesia (MBI).

Sebelum lebih jauh pembahasan, tujuan maksud ke MBI bukan karena ini touring saja melainkan ingin menjadikan hobi touring dan motoran sebagai dorongan untuk belajar ilmu agama. Jika tidak ada dorongan rasanya masih belum siap.

Muslim Biker Indonesia (MBI) sendiri bukanlah sebuah club motor atau komunitas motor seperti kebanyakan. MBI lebih menyebut perkumpulan ini sebagai wadah untuk mendapatkan ilmu agama, ukhuwa, dan kebaikan lain yang mengikuti. Sampai tahun 2022 ini jumlah member-nya sendiri mencapai 8000 biker.

Saya sendiri gabung di MBI kurang lebih tahun 2019. Sebelumnya saya dan satu orang teman dari Depok membentuk Biker Subuhan (BS) di Depok, namun karena harapan saya tidak didapat dari BS maka memutuskan untuk keluar dan pindah ke MBI.

Di tahun 2018 saya merasa ingin sekali belajar ilmu agama namun bukan di pesantren. Karena dari SMP dan Kuliah pun sudah masuk ke pesantren namun rasanya masih belum puas dengan yang didapat. Mengingat hobi saya adalah motoran maka iktiarlah mencari yang sejalan, motoran dapat ilmu pun dapat.

Di tahun yang sama masuk ke whatsapp group Biker Muslim Indonesia (BMI). Dengar dari teman bahwa di BMI motor kecil, matik, dan cc besar dipisah-pisahkan. Alhasil saya pun sedikit "gimana gituh" tapi yang namanya ingin belajar ya masuk saja dulu. Bergabungnya di grup tersebut tidak lama. Padahal jika dilanjutkan bisa juga membentuk chapter Depok.

Yang ada dalam pikiran adalah ketika sudah istiqomah belajar ilmu agama maka kebiasaan berlalu lintas pun akan taat. Pada satu malam saya coba komentar di WAG terkait motor ketua atau salah satu pendiri BMI yang tidak bisa disebutkan namanya. Motor dia menggunakan sirine, strobo dan rotator.

Padahal sudah jelas dalam UU No. 22 tahun 2019 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa yang berhak menggunakan beberapa alat tersebut adalah petugas dari Kepolisian, TNI, Angkutan Barang, dan kendaraan lain yang dicantumkan dalam aturan tersebut.

Alhasil jawaban yang saya terima dalam WAG tersebut adalah dia menyampaikan bahwa sudah dapat izin dari Polisi dan akhirnya menganggapnya legal. Daripada melanjutkan dan ujung-unjungnya jadi debat maka diputuskan untuk tidak melanjutkan bahasan tersebut selain menyampaikan bahwa aturan penggunaan benda-benda tersebut ada regulasinya.


Konsekuensi CC Kecil Mengikuti Yang Menengah dan Tinggi


Pembina Muslim Biker Indonesia, Ustadz Subhan Bawazier Hafidhzahullah ta'ala selalu menyampaikan bahwa jika dari teman-teman MBI yang mau touring (safar) setidaknya harus menggunakan motor dengan minimal 250cc. Hal tersebut bukan tanpa alasan, setidaknya dengan motor yang memiliki kubikasi mesin seperti itu kemampuan berakselerasi dan kecepatannya pun lebih tinggi meski perjalanan touringnya bukan untuk ngebut.

Hal lain yang terlihat relevan adalah dengan motor yang lebih besar, ergonomi berkendaranya pun berbeda. Karena umumnya motor 250cc ke bawah diperuntukan penggunaannya di dalam kota. Posisi berkendaranya pun cenderung tegak dan jika diajak riding lebih jauh akan membuat tidak nyaman.

Pernah kejadian, perjalanan saat itu bersama salah satu chapter MBI. Saya menggunakan motor 200cc, ada juga yang 250, 650cc, 125, dan 150cc. Perjalanannya melintasi jalan Cikidang. Kontur dan permukaan jalannya pun sudah terbayang banyak belokan, tanjakan dan turunan. Satu ketika saat saya sedang santai melewati turunan sambil berbelok ada satu motor member MBI yang masuk ke jalur berlawanan dan nyaris bertabrakan.

Setelah diperhatikan kecepatan motor yang saya kendarai sekitar 60 atau 70 km/jam. Sementara untuk motor sekelas itu kecepatan yang saya perolah tidak susah untuk dicapai, namun ia lupa bahwa kemapuan pengeremannya tidak mumpuni serta ergonomi berkendaranya pun beda.


Upgrade


Saat gaung menjadi bagian dari MBI saya menggunakan Kymco Metica 125cc dan itu bukan penghalang meski banyak yang menggunakan Moge (Motor Gede). Seiring berjalannya waktu dan ingin merasakan touring untuk kajian bersama ustadz-ustadz di MBI maka saya kuatkan doa dan ikthiar untuk dikaruniai motor dengan cc yang mumpuni untuk ikut bersama rombongan.

Alhamdulillah sekitar dua tahun gabung di MBI dikaruniai Kymco KXCT 200. Satu satu setelah itu dapat kesempatan touring (safar) bersama Ustadz Subhan Bawazier Hafidzahullah ta'ala, Ustadz Abdurrahman Dani Hafidzahullah ta'ala, Ustadz Muhammad Syukron Hafidzahullah ta'ala, dan beberapa rekan-rekan member dan pengurus MBI yang menggunakan motor mulai dari 250cc hingga 1000cc dalam touring Journey to Jannah (Jakarta-Bali).

Untuk urusan safar (touring) MBI Pusat atau bahkan Pembina MBI selalu mempersilakan kepada member untuk menggunakan motor mereka. Bisa juga si member untuk menyewa, meski di MBI motor tersebut sifatnya dipinjamkan. ##

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun