Humaniora

Bekerja dan Ibadah

12 Januari 2018   15:33 Diperbarui: 12 Januari 2018   15:42 245 0 0

Waktu itu usia kami masih sangat remaja. Namun langkah kami sepertinya kalah cepat oleh sosok sepuh namun penuh semangat. Beliau adalah KH. Imam Dimyati, pengasuh pesantren Gedongan, Cirebon. Setiap waktu kosong, beliau biasa mengajak para santri untuk berkebun, seperti bawang, padi atau palawija. Begitu pula kami, sebelum berangkat sekolah di siang hari, kami sesekali diajaknya untuk menengok kebun palawija yang mulai mendekati musim panen. Di masa itu masih banyak hamparan kebun di Cirebon yang menghijau.

Satu yang kami ingat dari ujaran beliau di sela-sela mencabut rumput-rumput adalah bahwa bekerja itu ibadah. Namun ada syaratnya, lanjutnya, bekerja itu harus bernilai sebagai amal saleh. “Kalian harus bekerja dan memberi manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Di manapun kalian bisa bekerja dan beribadah, asalkan itu berupa amal saleh”. Begitulah salah satu cara beliau dalam menanamkan nilai-nilai kepribadian kepada para santri. Saya bersyukur bisa merasakan itu.

Dari nasihat itulah saya pun berkesimpulan bahwa bermanfaat itu tak melulu harus di posisi tertentu. Amal saleh itu sangat luas maknanya, tidak sebatas berinfak dan bersedekah. Bagi siapapun yang menjalani profesi dengan penuh tanggung jawab, berdedikasi dan memberi manfaat, maka ia tengah melakukan amal saleh. Dan itu bernilai ibadah.

Dalam al-Qur’an, istilah “amal saleh” disandingkan dengan kata “iman””. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat al-Ashar: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati tentang kebenaran serta saling menasihati tentang kesabaran.” Begitu pula dalam surat at-Tiin, “Demi Tin dan Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Makkah) yang aman ini. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka, apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya?.”

Selain di dua surat tersebut, menurut para ulama tafsir, persandingan antara dua kata tersebut juga terjadi di 71 ayat. Para ahli tafsir berpendapat bahwa hal ini menegaskan iman dan amal saleh adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Mereka yang beriman juga seharusnya menjabarkan keimanannya dalam perilaku positif di kehidupannya. Dalam istilah lain, bagi mereka yang telah beriman secara utuh, maka ia akan mewakafkan hidupnya untuk menciptakan rasa aman, damai dan berbagai kebaikan bagi lingkungan dan kehidupannya.

Hal ini sejalan dengan hadits Nabi yang bercerita tentang perilaku orang-orang beriman, seperti memuliakan tetangga, berkata yang baik, menghormati tamu. Nabi SAW bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan rasulnya, maka berkatalah yang baik atau diam. Dalam hadits lainnya disebutkan: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, maka muliakanlah tamunya.  Kedua hadits ini menegaskan kembali betapa iman dan amal saleh senantiasa beriringan.

Birokrasi dan Amal Saleh

Konsep “Amal saleh” dijabarkan dalam birokrasi sebagai pengambilan kebijakan yang menjunjung tinggi profesionalitas, netralitas dan tanggung jawab. Seorang aparatur negara harus bekerja untuk memastikan masyarakat mendapat layanan publik, seperti akses pendidikan, kesehatan, ekonomi bahkan politik. Profesional dapat diartikan sebagai cara berfikir dan perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai tanggung jawab, amanah, dan cerdas. 

Orang yang profesional berarti bekerja sepenuh waktu dan jiwa, tidak sepotong-potong, tidak menjadikan pekerjaan tersebut sebagai aktifitas sampingan. Ia bekerja sesuai dengan keahlian dan keilmuannya, melaksanakan tugas tersebut dengan terukur dan bertanggung jawab, mampu memberikan inisiatif dalam meningkatkan kinerja. Profesional juga dapat diartikans ebagia kerja mandiri terbebas dari intervensi yang berorientasi pada bsinis maupun politik.

Dalam sejarah kekhalifahan, telah banyak narasi yang menggambarkan bagaimana perilaku terpuji keempat khalifah pasca Rasulllah SAW wafat. Abu Bakar, Umar, Utsman hingga Ali, kesemuanya menjalankan fungsi pelayanan secara komperehensif. Abu Bakar di awal kepemimpinannya memberikan besar terhadap hak orang miskin dalam memperoleh akses bantuan. 

Hal itu diwujudkan dengan perintahnya untuk mengambil zakat dari mereka yang sudah nisabnamun enggan menunaikan zakatnya. Zakat yang terkumpul itu kemudian didistribusikan kepada orang-orang miskin dalam konsep layanan yang cepat dan mudah.

Begitu pula dengan Umar ibn Khattab, dimana dikisahkan ia harus membawa sendiri bahan makanan untuk dibagikan kepada fakir miskin yang hidup dalam kekurangan. Utsman bin Affan dikenal dengan kebijakannya dalam membukukan al-Qur’an, sebuah kebijakan yang bertujuan agar umat Islam di luar jazirah arab memiliki akses terhadap al-Qur’an. al-Qur’an yang telah disusun dengan standar itu dikenal dengan sebutan rasm utsmani.

Sementara Ali bin Abi Thalib juga tercatat dengan langkah besarnya dalam memberikan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat saat itu. Kesemuanya menegaskan bahwa negara, dalam hal ini dapat dimaknai dengan birokrasi, hadir bukan dalam rangka memperkaya diri, mengeruk keuntungan atau meraih status sosial, akan tetapi hadir untuk memberikan pelayanan publik terbaik.

Sejalan dengan reformasi birokrasi, maka semangat beramal saleh bagi aparatur negara diwujudkan dalam beragam program dan kebijakan serta layanan publik yang berorientasi pada nilai-nilai profesionalisme, netralitas dan accesable. Pada setiap layanan atau program yang berdampak positif bagi publik, di sanalah ladang ibadah. Adalah sebuah tindakan zhalim jika terdapat masyarakat yang kesulitan mengakses layanan. Pun, mempersulit dan memperpanjang prosedur layanan yang seharusnya bisa sederhana, juga termasuk dalam bentuk kezhaliman. 

Karena itulah, prinsip dasar layanan publik adalah kemudahan untuk diakses. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan pekerjaan yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (al-Bayyinah ayat 7). wallahu a’lam bishowab.