Humaniora

Pelajaran Jadi Diri Sendiri dari Anak Kecil

17 Juli 2017   18:02 Diperbarui: 17 Juli 2017   18:07 154 1 0
Pelajaran Jadi Diri Sendiri dari Anak Kecil
sumber: garasitulis.blogspot.com

PAGI ini saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Dari seorang anak sekaligus teman. Usianya baru tiga tahun lima bulan. Tepat 31 Januari 2017 lalu dia berulang tahun. Tidak ada perayaan. Hanya ucapan selamat saja dari bapak dan ibunya. Selamat.

Pelajaran yang sangat berharga itu bermula saat saya hendak berangkat kerja. Ngibadah. Tugas kepala keluarga. Mencari kebutuhan ekonomi agar kompor dapur tetap mengepul.

Seperti biasa, anak saya yang satu ini (karena memang baru satu, dan belum ingin nambah, meski istri saya sudah ingin nambah), selalu ikut ibunya mbuntuti saya dikala hendak berangkat kerja. Hingga ke depan rumah, dekat pintu pagar. Sekedar salim, memberikan kiss untuk si kecil (kalau suribu sudah tadi di dalam rumah), dan uluk salam.

Padahal, jarak rumah utama dengan pintu pagar itu hampir satu kilo meter. Bahkan, terkadang juga mbuntutsampai kantor. Dia lari bersama ibunya, saya naik sepeda. Wkwkwkwk...

''Assalamualaikum...''

''Waalaikumsalam...'' jawab si kecil. ''Hati-hati bapak...'' tambah Qila, karena saya biasanya memanggil Qila. Nama lengkapnya Aqila Maulida.

''Oke bos...''

''Mboten... (tidak...)'' jawabnya. Fikir saya mungkin dia tidak dengar, maka kalimat itu saya ulang lagi.

''Oke bos...''

''Mboten bapak... Aqila...'' katanya menjawab jawaban gaul bapaknya. Saya yang mendengar jawabn mboten untuk yang kedua kali, pun plengah-plengeh.

 

''Maksudte nopo toh buk... (Maksudnya apa toh buk)?'' tanya saya ke suribu yang hanya senyum saja mendengar jawaban anaknya. Seolah mereka berdua sudah sekongkol ingin memberikan suaranya kepada pasangan Anies-Sandi pada putaran kedua pilgub DKI Jakarta, bukan ke Ahok-Djarot seperti yang saya mau setelah jagoannya, Agus-Silvi tumbang pada putara pertama.

''Maksud Qila niku, piambake mboten bos, tapi Aqila (maksud Qila itu, dia bukan bos, tapi Aqila)'' jelas Suribu santai.

''Ooooooooooo............''

Tidak berfikir panjang, saya yang sudah tahu jawaban makna tersembunyi dari kalimat ''mboten'' itu langsung menyalakan mesin sepeda, dan ngluyur.

Baru, saat dalam perjalanan itulah pikiran saya berkelindan dengan kalimat yang diucapkan anak semata wayang saya tersebut. Apa makna, maksud, dan tujuan jawaban bahwa dia bukan bos, tapi Qila.

Ternyata, dia memberikan pesan implisit kepada bapaknya, bahwa menjadi diri sendiri itu lebih baik ketimbang menjadi orang lain. Apalagi bukan bos, tapi menjadi orang yang sok bos yang bergaya parlente.

''Terima kasih untuk pesan pagi ini, Nak'' kata saya menjawab pelajaran yang disampaikan anak se kecil itu.

@atok_baiq