Mohon tunggu...
Muhammad Adib Mawardi
Muhammad Adib Mawardi Mohon Tunggu... Lainnya - Sinau Urip. Nguripi Sinau.

Profesiku adalah apa yang dapat kukerjakan saat ini. 😊

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kawan yang Bodoh dan Musuh yang Pintar

17 Maret 2021   16:48 Diperbarui: 17 Maret 2021   19:58 899
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kawan dan lawan bertarung (Stillness InMotion-Unsplash)

Menghadapi musuh yang pintar itu jauh lebih baik daripada menghadapi kawan yang bodoh. Sebab musuh yang pintar akan membuat kita merasa tidak nyaman karena terus mewaspadai kehebatannya. Hal inilah yang secara tidak langsung juga akan mendorong kita untuk belajar lebih giat agar dapat menandingi keunggulannya.

Sedangkan kawan yang bodoh bisa jadi ia justru akan membuat kita terlena karena status atau keberadaannya sebagai kawan yang tak berbahaya. Padahal oleh sebab ketidaktahuan teman kita yang bodoh itu, bisa jadi ia akan berbuat sesuatu yang akan merugikan bahkan membahayakan diri kita. Sementara ia sendiri merasa bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang sudah baik, benar dan bahkan bermanfaat karena ia memang benar-benar tidak tahu akibat dari perbuatannya.

Dengan demikian, alangkah lebih bijaknya jika kita tetap bersikap waspada terhadap keduanya sehingga kita pun akan tetap terdorong untuk mengembangkan potensi diri sekaligus kita juga tidak mudah terlena dengan adanya kawan di sekeliling kita.

Di sisi yang lain, diantara musuh kita yang pintar tadi, bisa jadi mereka adalah pihak yang dianugerahi kebijaksanaan, baik itu dalam aktivitas berpikir maupun setiap tindakannya. Sehingga ia pun tidak akan tega untuk berbuat semena-mena kepada siapa saja, sekalipun orang itu adalah kita yang berposisi sebagai musuhnya sendiri.

Bahkan lebih dari itu, musuh yang memiliki kebijaksanaan itu mungkin juga akan berusaha untuk mendidik bahkan mendayakan diri kita selaku lawannya dengan harapan agar kita kelak menjadi lawan yang cukup tangguh dan pantas bagi dirinya, baik itu di bidang pengetahuan maupun kebijaksanaan seperti yang telah ia miliki.

Dengan demikian, tujuan mereka terhadap diri kita bukan melulu soal kehancuran apalagi kebinasaan, akan tetapi bisa juga ia berbentuk perbaikan pada diri kita sehingga kita pun akan terus dapat bersaing dengan dirinya dalam banyak hal kebaikan.

Bukankah keadaan ini jauh lebih baik daripada harus memiliki sekumpulan kawan yang bodoh yang tidak memiliki kebijaksanaan di dalam hatinya sehingga jika kita menjadikan mereka sebagai tolok ukur persaingan atas keadaan diri kita maka hasilnya adalah kemunduran. Kita merasa sangat santai untuk berkompetisi dan mengembangkan diri sebab di sekeliling kita adalah sekumpulan orang yang bodoh yang juga sangat lamban tingkat kemajuannya.

Di samping itu, seorang kawan yang bodoh yang tidak memiliki kebijaksanaan dalam sikapnya ia juga berpeluang untuk menghancurkan diri kita dari dalam secara perlahan-lahan dengan alasan pertemanan.

Hal ini dapat terjadi sebab ia merasa begitu mudah untuk membenarkan setiap tindakannya pada diri kita karena selalu menyangka bahwa kita adalah seorang teman sejati yang akan selalu membenarkan, memaklumi dan menerima setiap akibat dari tindakannya.

Jika sudah demikian, di samping berbekal kewaspadaan diri ketika bergaul dengan kawan yang seperti ini, maka kita pun harus memiliki segudang kesabaran untuk mengajari dan mendidiknya agar ia tidak semakin larut untuk berbuat kerusakan-kerusakan yang tidak ia sadari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun