Mohon tunggu...
Muhammad Adib Mawardi
Muhammad Adib Mawardi Mohon Tunggu... Penulis Kelas Kecik

Profesiku adalah apa yang dapat kukerjakan saat ini. 😊

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Izinkan Aku untuk Melepasmu

21 September 2020   19:28 Diperbarui: 21 September 2020   20:07 76 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Izinkan Aku untuk Melepasmu
Sumber gambar: Siora Photography (Unsplash) 

Ratna, malam ini, di dalam kamar kosku, aku tengah membayangkanmu. Pikiranku melayang-layang mengembara terbayang saat kita masih bersama. 

Waktu itu, usia kita masih sangat belia. Dan mungkin saja kita masih begitu cumbuh dengan apa yang namanya cinta, malu, gengsi, dan semacamnya. 

Saat itu, di sekitar kita sedang demam-demamnya telenovela. Esmeralda, Maria Cinta yang Hilang, Betty la Fea hingga Amigos. Kisah-kisah di dalamnya itulah yang mungkin menginspirasi kita menjadi sepasang monyet yang belajar mengenal cinta. 

Setiap hari aku menonton kisah-kisah itu, demikian juga dirimu. Hingga tak terasa kita pun hanyut dalam romansa ceritanya. 

Aku sempat menitipimu sebuah cincin besi, sedangkan kamu menitipiku sebuah lampu. Kita laksana Jose Armando dan Esmeralda yang hendak bertukar kenangan.

Dulu, mungkin aku sempat menggodamu. Cincin besi itu kuberikan padamu agar bisa kugunakan untuk memenjara hatimu, supaya ia tak sempat berpindah ke lain hati. 

Demikian pula dengan tuah lampu hias yang kau beri itu. Katamu, ia akan selalu menerangi hatiku agar senantiasa benderang dalam mencintai hatimu. Ah.. Gombalan masa muda yang begitu indahnya. 

Selalu saja hatiku ini berdegup kencang manakala memandangi lampu itu. Serasa ia akan menjelma menjadi hologram dirimu yang datang menghampiriku. Bagaimana dengan nasib dirimu dan cincin itu, jelas aku tak tahu. 

Ratna, roda waktu telah memisahkan kita pada ruang yang berbeda. Namun, entah bagaimana ceritanya, secara ajaib aku pun bisa memiliki nomor kontakmu. Aku mencoba menghubungimu  yang ternyata juga masih sendiri. Apakah ini pertanda manjurnya cincin itu dalam memenjara hatimu?

Mungkin saja itulah kesempatan bagi kita untuk merajut kembali apa yang telah terputus dahulu. Sebab, saat itu seakan tak ada yang memisahkan kita, kecuali hanya jarak dan waktu. 

Hati kita telah bertaut begitu erat dan hanya tinggal menyisakan sebuah persoalan, apakah hati orang tua kita juga saling bertaut dengan ikatan kita? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
21 September 2020