Mohon tunggu...
Darkim
Darkim Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pengangguran Terselubung

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi: Gemuruh Badai Biru di Padang Gersang September Penuh Haru

4 September 2022   06:25 Diperbarui: 4 September 2022   06:34 100 15 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jangan pandang remeh perselisihan yang kini terjadi, meja makan penuh intrik saling membully, pembaringan hampa oleh sinar mata penuh tanya penuh prasangka.

Jangan pernah menyederhanakan gemuruh batin seakan itu hanya fatamorgana. Jangan pernah.

Bermula dari kata, kemudian timbul curiga. Isu berseliweran di luar sana, berita sumbang tentang perselingkuhan membayangi setiap kali dua hati hendak menata kembali jalinan percaya.

Jangan pernah percaya bahwa perselisihan ini hanya pertengkaran biasa. Jangan pernah.

Bisa jadi ini adalah akumulasi kecewa, atau salah satu pihak tengah membangun citra sebagai sosok setia. Dan jangan lupakan politik, ia pernah membelah meja makan menjadi dua. Kejam nian narasi persatuan yang kerap di kumandangkan, ketika satu hati mesti terenggut dari hati yang lain.

Membiarkan angin tenang menjadi badai adalah kesalahan fatal. Jangan pernah.

Ini september! Mengenang pertemuan pertama hingga datanglah namanya cinta. Kisah indah mana mampu menandingi kepingan hati menjadi satu tatkalah mata batin belum lagi mampu memaknai rindu. Sungguh indah bukan?

Jangan pernah anggap biasa nostalgia yang telah tercipta. Jangan pernah.

Telah banyak badai di lalui, mungkin ketika april atau juni. Pusaran batin mengajarkan banyak hal tentang keterbatasan, namun kelapangan dada menganjurkan satu hal agar tidak pernah terlupa, "badai selalu berlalu ketika rindu berpijar ungu".

Sesederhana memahami bahwa ini september seperti pertama dulu.

#####

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan