Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Puisi | Kesyahduan Mengundang Rasa Keagungan

13 Juli 2019   04:46 Diperbarui: 13 Juli 2019   05:10 0 29 11 Mohon Tunggu...
Puisi | Kesyahduan Mengundang Rasa Keagungan
Pixabay.com

Di puncak keheningan yang menyelimuti alam, kata dan kalimat terdiam dalam keinginan, sanubari terpatri di kesucian diri. Hakikat mengikat makna kehidupan yang sebenarnya, di kedalaman jiwa, di samuderanya kesadaran yang membunca, titik-titik terang terasa sejuk menyelimuti

Bergetar kalbu mengucapkan keagungan, mengalir deras darah membongkar sekat yang kelam. Bergetar semakin keras dada mendidih oleh penyesalan diri, terisak tangis mengiringi, tertumpah air mata bersama gumpalan dosa. Pecah, rekah, bahkan kepingan-kepingan sesal menggenangi lantai hati

Ucapan tak lagi terdengar, mata terpejam jutaan bayangan berkelebat cepat, kadang hitamnya dosa berontak dari tahtah, berputar liar menyamarkan kedengkian dan kebencian. Sekejap, pedang kesadaran menebas keras, memenggal pekatnya selubung hati yang hitam berkarat

Tubuh tak mampu lagi menyokong waktu, jasad tertinggal ruhani melesat mencapai ketinggian. Dalam kesyahduan kesadaran, dalam hening yang menyejukan, aku bersimpuh memasrahkan seluruh perjalanan kehidupan. Yang fana akhirnya hilang, yang tiada kembali menemui asalnya, hanya titik-titik kecil kesadaran yang tertinggal, tapi terangnya lebih menyilaukan dari jutaan sumber cahaya

Bagan batu 13 juli 2019