Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Prasasti Mati

25 Juni 2019   07:08 Diperbarui: 25 Juni 2019   09:33 0 6 3 Mohon Tunggu...
Puisi | Prasasti Mati
Pixabay.com

Di bawah reruntuhan bangunan peradaban, di sela-sela puing kehancuran oleh sisa kemarahan, mengais-ngais kepingan hati yang hitam terbakar, berharap tiupan angin tak melumatkan perasaan, menerbangkan debu-debu kemanusiaan yang mengambang

Jejak langkah terhenti di ranting pohon meranggas, dengus napas tersedak aroma mesiu, masing-masing kita menggendong kelam masa lalu, sempoyongan menyeberang titian menuju era baru

Jangan berpaling ke belakang. Bila setumpuk kenangan akhirnya menumbuhkan tunas dendam, menyuburkan kebencian yang hendak di tanam di tanah harapan. Cukup kita yang menyaksikan, cukup kita yang merasakan

Jangan pernah ceritakan kisah ini pada rumput dan ilalang, jangan buat kisah ini sebagai bantal tidur malam. Biarlah sampai di sini jejak pedih harus terjadi, tak perlu menghantui hingga kita mati

Bagan batu 25 juni 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x