Mohon tunggu...
Muhammad Khoirul Wafa
Muhammad Khoirul Wafa Mohon Tunggu... Santri, Penulis lepas

Santri dari Ma'had Aly Lirboyo lulus 2020 M. Berusaha menulis untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Instagram @Rogerwafaa Twitter @rogerwafaa

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Seberapa Penting Penampilan bagi Manusia Bila Ternyata Masih Memelihara Watak Serigala

5 September 2020   06:39 Diperbarui: 5 September 2020   07:29 32 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seberapa Penting Penampilan bagi Manusia Bila Ternyata Masih Memelihara Watak Serigala
Sumber: Pinterest

Salah satu makhluk yang kita anggap antagonis di dunia ini mungkin adalah serigala. Melekat dalam binatang karnivora itu segala macam hal yang buruk. Sampai-sampai manusia enggan memeliharanya. Orang bahkan membuatkan peribahasa untuknya, "serigala berbulu domba". Manusia jahat yang sembunyi dibalik penampilan baik.

Tak ada penggembala yang tidak kesal dengan serigala. Domba-domba yang merumput bisa kapan saja jadi mangsanya. Tapi serigala pun hanya makhluk hidup yang lapar dan butuh makan. Ia katanya sebenarnya bisa tahan tidak makan berhari-hari. Satu domba untuk menyambung hidup beberapa hari bersama kawanannya.

Serigala tak pernah memangsa sesama. Serigala sangat setia. Sangat menjaga kelompoknya. Tak pernah menimbun harta. Dalam keharmonisan dan kasih sayang mereka hidup dalam keluarga yang saling menjaga.

"Jika ingin kuat dan ditakuti, belajarlah kepada singa. Namun jika ingin menjadi pemimpin yang diikuti, belajarlah kepada serigala" demikian bunyi pepatah lama. Serigala memegang teguh prinsip hierarki. Jadi konon hanya pemimpin dalam kelompok yang akan dipatuhi.

Itulah mengapa kita bisa menemukan singa dalam sebuah sirkus. Tapi sulit menemukan serigala. Sebab mungkin saja selamanya serigala tak akan patuh pada seorang pawang. Sebab pawang bukanlah pemimpin kawanan. Serigala tak akan jinak dengan mudah.

Satu alasan realistis mengapa serigala jadi terkesan jahat dan antagonis, adalah karena serigala selalu gagal menyembunyikan taringnya. Cakarnya nampak mengerikan. Lolongannya menakutkan. Dan dimata manusia, serigala selalu dinilai licik. Padahal serigala hanyalah bagian dari rantai makanan, dan malangnya dia berada dipuncak.

Penampilan telah membuatnya jadi demikian. Kita takut pada serigala, sebab kuku, taring, dan lolongan yang dengan jujur selalu ditampakkan. Apakah salah jika saya bilang sebenarnya ada serigala yang baik, namun sembunyi dalam rupa yang sebaliknya.

Tapi manusia ini kadang jadi kebalikan serigala. Nampak anggun, namun menyimpan sikap tercela. Manusia menawan, rupawan, tapi kadang sebenarnya menakutkan. Dalam kejahatan yang mampu dengan rapi disembunyikan.

Jadi, apakah kita masih mementingkan penampilan? Namun diam-diam menjadi "serigala."

Sementara Tuhan maha mengetahui apa yang kita sembunyikan. Banyak hal yang dilakukan sekilas adalah sama, manusia sama melakukan kebaikan tertentu, tapi motivasinya yang kadang berbeda. Dan siapa pula yang tahu? Sebab itu akan menjadi rahasia masing-masing pribadi.

Manusia tidak berbulu, tidak punya taring untuk disembunyikan. Tidak ada cakar, manusia hanya punya kuku. Manusia yang pandai merawat diri bisa memenangkan kontes kecantikan.

Tapi dalam arti kiasan, manusia bisa jauh lebih berbahaya dari serigala. Tega memangsa sesama. Menumpuk makanan hingga ingin disebut kaya. Kadang juga tak setia. Pohon yang tumbang itu ulah siapa? Sementara serigala tak bisa menebang kayu.

Manusia seharusnya jadi makhluk terhormat dengan akalnya. Apakah kita tetap bangga menjadi manusia? Bila diam-diam ternyata masih memiliki watak sebuas binatang pemangsa.

Apakah kita tak bisa jujur? Untuk sekedar bercermin. Hal menakutkan apa dalam diri kita yang telah dengan rapi kita sembunyikan.

***

Sekian...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x