Mohon tunggu...
Muhammad Khoirul Wafa
Muhammad Khoirul Wafa Mohon Tunggu... Santri, Penulis lepas

Santri dari Ma'had Aly Lirboyo lulus 2020 M. Berusaha menulis untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Instagram @Rogerwafaa Twitter @roger.wafaa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Bencana Sindrom Ingin Viral

2 Juni 2020   09:46 Diperbarui: 2 Juni 2020   09:43 8 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bencana Sindrom Ingin Viral
uzone.id

Sindrom Ingin Viral

Percaya atau tidak, ada kepuasan tersendiri saat menjadi selebgram. Jadi selebtwit. Jadi youtuber muda nan mendunia. Jadi influence itu katanya asyik. Bahkan saat kamu bahas sesuatu yang gak penting saja akan banyak yang membagikan postingan itu. Bagaimana mungkin seorang Kaesang Pangarep ketika ngetwit "jangan retweet twit ini" saja yang retweet begitu banyak. Bandingkan dengan saya. Bahkan kalau saya ngetwit, "mohon tweet ini di retweet sebanyak-banyaknya", tak ada satupun yang mau retweet. Meskipun sudah saya cantumkan bakal saya kasih give away. Komentar netizen paling hanya julid saja. "Apaan sih, akun bot gak jelas." Dunia Maya memang tidak adil.

Sudah cukup sambatnya. Kenyataan memang ada sedikit rasa puas kalau postingan anda bisa viral. Bisa terkenal. Masuk on the spot. Diundang ke hitam putih. Rasa puas yang gak bisa dibeli. Seperti kata seorang yitibir midi ying mindinii, "nih diamond play button YouTube tuh gak bakalan bisa kalian beli meskipun kalian punya duit..." Belum tahu dia barang-barang kw Made in China bisa semirip apa dengan aslinya. Yah, meskipun kw. Dia mungkin belum lihat video ...

Yah gara-gara sindrom semacam itulah akhirnya para teroris jadi gak perlu susah-susah bikin bom dengan daya ledak tinggi. Gak butuh riset jutaan dolar dan membangkitkan kloningan Albert Einstein untuk membuat bom atom yang bisa membumi hanguskan seluruh kota. Demi untuk menciptakan tujuan akhir dari terorisme: ketakutan dan situasi labil suatu negara. Cukup modal bom kaleng kecil, yang kalau meledak gak sakit-sakit amat. Ide utamanya adalah undang para netizen untuk merekam kejadian tersebut. 

Dengan sendirinya tanpa disuruh tangan mereka akan gatal untuk membagikan video ledakan bom itu. Di Facebook, di YouTube, dan media sosial lain. Lalu juga dengan sendirinya netizen lain akan sangat gatal untuk membuka postingan tersebut karena diliputi rasa penasaran sebesar gunung Everest. Bagaimana tidak? Video prank ojol saja bisa tembus empat juta penonton, apalagi video bom. Mungkin gak sih seluruh Indonesia bisa nonton. 

Yang muda yang tua. Tak ada batas usia. Lebih-lebih kalau Tribunnews group sudah mulai bikin artikel-artikelnya. Sang teroris pun tinggal leyeh-leyeh duduk di sofa sambil nonton liputan enam. Menikmati bagaimana merebaknya situasi ketakutan yang sedang terjadi di luar sana. Yang radius seratus meter dari bom wajar kalau takut. Karena lihat secara live. Tapi yang ada di kota Merauke sana juga ikutan takut karena melihat siaran ulangnya. Mission complete.

Gara-gara sindrom macam begini pula, kemarin banyak isu aneh yang merebak gara-gara postingan embuh. Sampai Habib Luthfi berkomentar... Mereka itu punya agenda mau menghancurkan keutuhan NU.

Postingan embuh itu sebenarnya tanggung jawab siapa? Siapa yang akhirnya membuat hal tersebut viral? Hadeh, susah amat sih mau nulisnya sumprit... Biar gak nyinggung prinsip tulisan ini gimana caranya sih?

Langsung intinya saja yah... Kita gak usah menyinggung soal hal yang viral itu loh, nanti jadinya tambah viral. Iya gak sih, andaikan saja pidato Ahok di kepulauan seribu yang dulu itu gak gatal dibagikan oleh seorang l mikir dulu. Sungguh gilanya selera humorku.

Kalau bisa begitu, mungkin saja akan lain ceritanya hari ini. Gak ada demo berjilid-jilid. FPI dan garda oposisi mungkin gak akan sekuat hari ini. Kalau masih ada pengaruhnya, setidaknya ya seperti era sepuluh tahun silam. Dan yang paling penting, core of the core, segala aktivitas FPI gak menggangu timeline Twitter saya.

Ide tulisan ini masih belum tersampaikan sebenarnya... Saya mau nulis apa, masih menjadi rahasia. Sementara jutaan orang tak menyadarinya.

VIDEO PILIHAN