Mohon tunggu...
Kamaruddin
Kamaruddin Mohon Tunggu... Jurnalis - Mengingat bersama dengan cara menulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kisah Abdullah, 16 Tahun Bertahan Hidup Jadi Penambal Ban di Gubuk Reyot

11 November 2021   12:43 Diperbarui: 11 November 2021   13:48 392
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lapak jasa tambal ban dan gubuk reyot milik Abdullah | Dokumentasi Pribadi


Tak perlu menjelaskan panjang lebar, secara sigap, pria paruh baya itu mengambil semua peralatan, peralatan yang memiliki fungsinya masing-masing. Ember yang berisikan air misalnya, itu berfungsi untuk memeriksa sumber ban bocor. Dilakukan dengan cara, ban terlebih dahulu diisikan angin, lalu dicelupkan ke dalam air. Maka, sumber bocor nantinya akan mengeluarkan buih-buih kecil.

Kemudian, tabung kompresor angin, berfungsi untuk mengambil udara atau gas dari sekitar yang kemudian akan diberi tekanan di dalam tabung, lalu disalurkan kepada pengendara yang mengalami kempes atau bocor ban. Selain itu, alat tambal ban bakar pres, yang berfungsi untuk mengepres ban yang akan ditambal, sehingga karet merekat erat pada ban.

Abdullah sedang menambal ban motor | Dokumentasi pribadi
Abdullah sedang menambal ban motor | Dokumentasi pribadi

Peralatan itu sudah disusun rapi di samping Abdullah. Dia sangat lihai, hanya butuh waktu tiga menit untuk mengetahui sumber ban bocor. Kayu-kayu yang dirapikan tadi di pinggir pagar GPIB Jemaat Banda Aceh, rupanya dikumpulkan untuk digunakan sebagai bahan bakar. Kayu itu dipotong kecil-kecil, lalu dimasukkan ke bagian bawah alat pres.

Cara tersebut tergolong masih tradisional, dibandingkan tempat lain yang mulai menggunakan cara-cara modern. Meski demikian, Abdullah tidak mengalami kesulitan saat menyalakan api. Hanya sekali percobaan, api langsung menyala. Ban bocor tadi pun di pres dengan tekanan kuat.

Alu alang kendaraan di Jalan Pocut Baren, sesekali mampu mengalihkan pandangan saya yang sedang fokus melihat sekeliling lapak tambal ban milik Abdullah. Saya menunggu di kursi santai napolly, di bawah pohon nangka yang sudah mulai berbuah.

Abdullah memang bukan tipikal orang yang suka duduk, meski usianya sudah tidak muda lagi. Sembari menunggu ban yang sedang ditambal, ia kembali membereskan kayu yang tadi belum selesai.

Tidak lama berselang, dua pria berboncengan berhenti di depan lapak tambal ban. Mereka berhenti untuk mengisi angin pada ban motor yang kempes. "Isi angin satu ban Rp1 ribu aja, kalau dua ban Rp2 ribu. Sedangkan untuk tambal ban Rp15 ribu," kata Abdullah.

Abdullah mengisi angin motor pelanggan | Dokumentasi pribadi
Abdullah mengisi angin motor pelanggan | Dokumentasi pribadi

Sepuluh menit dibuat menunggu, karet yang ditambal pada ban sudah melekat dengan baik. Kemudian dipasang kembali ke roda dan siap untuk dikendarai lagi.

Kepada Kompasiana, Abdullah, mengatakan sudah 16 tahun berprofesi sebagai tukang tambal ban dan tinggal di gubuk reyot itu. Penghasilannya sehari-hari sebagai tukang tambal bal pun tidak menentu. Bahkan pernah dalam sehari, lapak yang dibukanya mulai pukul 09.00 WIB - 22.00 WIB itu, tidak ada orang sama sekali, baik yang menambal ban maupun sekedar mengisi angin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun