Mohon tunggu...
Kamaludin
Kamaludin Mohon Tunggu... https://www.kompasiana.com/kamaludin4604

Temukan Aku dikala sunyimu, inggat aku dikala kau merindu

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Bahaya Sampah di Masa Pandemi Covid-19

22 November 2020   22:05 Diperbarui: 22 November 2020   22:39 14 0 0 Mohon Tunggu...

                                                                          Oleh KAMALUDIN, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

                                                                                                           Email: rasyidkamal232@gmail.com

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah seringkali menjadi persoalan di beberapa tempat, sampah juga sangat berdampak bagi lingkungan manusia mulai dari lingkungan yang kotor serta menyebabkan polusi. Sampah juga bisa membawa dampak buruk, baik itu terhadap manusia maupun terhadap lingkungan. 

Selain mencemari sungai dan menghambat proses air tanah, sampah juga dapat mencemari tanah dan menjadikannya tidak sehat dimasa pandemi saat ini sampah sangat tidak baik bagi kesehatan tubuh manusia. Karena lingkungan yang kotor memudahkan tubuh terserang kuman, virus dan penyakit.

Corona Virus Disease atau yang dikenal dengan COVID-19 merupakan sebuah nama baru yang diberikan oleh Wolrd Health Organization (WHO) bagi pasien dengan infeksi virus novel corona 2019 yang pertama kali dilaporkan dari kota Wuhan, Cina pada akhir 2019. Awalnya, penyakit ini dinamakan sementara sebagai 2019 novel coronavirus (2019-nCoV).

Corona virus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). COVID-19 disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2).[1] 

SARS-CoV-2 memiliki struktur tiga dimensi pada protein spike domain receptor-binding yang hampir identik dengan SARS-CoV. Pada SARS-CoV, protein ini memiliki afinitas yang kuat terhadap angiotensin-converting-enzyme 2 (ACE2). Pada SARS-CoV-2, data in vitro mendukung kemungkinan virus mampu masuk ke dalam sel menggunakan reseptor ACE2. Studi tersebut juga menemukan bahwa SARS-CoV-2 tidak menggunakan reseptor coronavirus lainnya seperti Aminopeptidase N(APN) dan Dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4).[2] 

Virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah SARS pada tahun 2002-2004 silam, yaiu Sarbecovirus dan hanya berbeda jenis virusnya. Meskipun mempunyai gejala yang mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS dikatakan lebih tinggi dibanding COVID-19, walaupun jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak. Penyebaran COVID-19 juga lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS.

Dari hasil data filogenetik memungkinkan penularan dari COVID-19 merupakan zoonosis, yaitu proses penularan dari hewan ke manusia. Perkembangan data selanjutnya menunjukkan penularan antar manusia (human to human), yaitu diprediksi melalui droplet (tetesan kecil) dan kontak dengan virus yang dikeluarkan dalam droplet yang kemudian virus dapat masuk ke dalam mukosa yang terbuka.[3] 

Penyebaran virus melalui droplet ini dapat berasal dari hidung dan mulut pada saat batuk atau bersin. Apabila droplet tersebut mengenai benda di sekitarnya dan menjadi terkontaminasi, kemudian tersentuh oleh orang lain dan setelahnya ia  menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang tersebut dapat terinfeksi COVID-19. Atau bisa juga seseorang terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang yang sakit. Pencegahan utama dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini adalah dengan membatasi mobilisasi orang yang berisiko hingga masa inkubasi.

Pencegahan lain adalah meningkatkan daya tahan tubuh melalui asupan makanan sehat, memperbanyak cuci tangan, menggunakan masker, melakukan olahraga, istirahat cukup serta makan makanan yang dimasak hingga matang dan bila sakit segera berobat ke RS rujukan untuk dievaluasi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x