Mohon tunggu...
Kalista Setiawan
Kalista Setiawan Mohon Tunggu... Mahasiswi / Penulis Amatir

Hasil dari gadget dan pikiran yang saling berkompromi

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Tren Bersepeda, Antara Solusi Ekonomis atau Krisis Strategis

25 Juni 2020   12:00 Diperbarui: 25 Juni 2020   11:57 44 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tren Bersepeda, Antara Solusi Ekonomis atau Krisis Strategis
Sumber: (shutterstock) klikdokter.com

Di tengah berbagai permasalahan, bersepeda bisa menjadi alternatif atau solusi ekonomis bagi masyarakat perkotaan. Sepeda yang biasanya jarang dipakai, kini kembali diperbaiki oleh ayah biar bisa bersepeda pas CFD. Peningkatan popularitas moda transportasi yang ramah lingkungan ini, pun akan mendukung pemerintah dalam rencana penghapusan BBM beroktan rendah. Namun, apakah ini akan menjadi solusi ekonomis atau malah krisis strategi pemerintah pada infrastruktur moda transportasi?

Kita tak bisa hanya menyalahkan masa pandemi yang belum tahu akan usai kapan. Harapan besar dan berpikir positif saja kepada para peneliti diluar sana yang masih berkulik pada vaksin untuk mengentaskan coronavirus. Atau, menunggu hingga sistem imun tubuh manusia kebal terhadapnya. Walaupun, ini juga alasan yang merubah segala tatanan hidup masyarakat. Segala sektor kini tengah berusaha menyesuaikan diri. Baik sektor pemerintah, gugus terdepan kesehatan masing-masih daerah, hingga yang terkecil adalah sektor rumah tangga.

Tentu saja beberapa alasan tersebut menuntut masyarakat mengatur strategi untuk ekonomi rumah tangganya masing-masing. Mulai dari biaya kebutuhan rumah tangga yang harus menyesuaikan kondisi. Sebagai contohnya keluarga kami yang tinggal di perkotaan. Sumber nafkah utama adalah ayah. Kami harus bersyukur, lantaran ayah bukan termasuk pekerja yang di-PHK oleh kantornya. Lalu, bagaimana nasib mereka yang mengalami PHK?

Kini, pengeluaran kami jadi lebih besar dari pemasukan. Walaupun selain ayah, adik saya juga bekerja kurang lebih satu tahun di klinik hewan untuk biaya kuliahnya. Agak meringankan setidaknya. Saya pun sebagai mahasiswa perantauan juga terpaksa balik ke rumah agar menghemat biaya. Beruntung jika ada tawaran kerja sampingan, freelance yang bisa saya tekuni saat ini.

Biaya hidup terdiri dari lima orang yaitu ayah, mama, dua anak yang sedang berkuliah termasuk saya dan satu lagi yang masih SD. Perincian sederhananya, mulai dari biaya kuota internet yang kini menjadi kebutuhan primer. Bukan sekadar untuk nonton youtube, streaming drama korea atau berselancar medsos semata. Primer, karena ayah bekerja di kantor yang melayani produk penjualan online. Sedang, saya dan adik yang juga harus kuliah daring. Selain biaya tersebut, biaya kuliah saya, biaya kebutuhan pendidikan adik saya yang SD, kini biaya listrik dan biaya kebutuhan sehari-hari pun turut meningkat. Bagaimana tidak? Kebiasaan kami jadi serba di rumah sekarang. Hiburan pun hanya berasal dari televisi, gadget, makanan dan senda gurau antar keluarga saja.

Bersepeda adalah hiburan ekonomis nan menyehatkan yang pasti kami pilih untuk melepaskan penat di ruangan berbulan-bulan. Sensasi asik ketika hunting sarapan. Menghirup udara pagi yang menyegarkan walau terhalang masker. Bercengkerama dengan tetangga atau teman, menjadi suatu hiburan terbaru dan menyenangkan yang hanya bisa dirasakan tiap minggu pagi dengan bersepeda saat pandemi seperti ini. Menurut kami jalan-jalan keluar kota atau tempat wisata tertentu akan menjadi hiburan melelahkan yang menghabiskan biaya banyak. Jadi, jangan salahkan pesepeda yang meramaikan CFD di perkotaan.

Namun, saya juga mulai khawatir dengan isu klaster baru yang akan timbul jika kebanyakan orang juga berpikiran seperti kami. Walaupun, kami menggunakan masker dan merasa sudah mematuhi protokol kesehatan jika berada di luar rumah. Tetap saja, peluang itu pasti ada jika banyak orang berkerumun pada satu tempat yang sama. Mungkin, CFD bisa jadi hiburan sebulan sekali bukan seminggu sekali yang bisa dilakukan.

Selain itu, kekhawatiran lain yaitu jika popularitas sepeda dijadikan moda transportasi pribadi semakin meningkat. Seharusnya hal ini harus segera dipahami dan ditangani pemerintah. Karena akses jalan bagi pesepeda yang aman belum diterapkan di seluruh daerah. Tidak seperti negara lain, Jepang salah satunya yang sudah mengatur jalur khusus bagi pesepeda hingga pejalan kaki.

Jika, memang ranah pemerintah ingin menuntun masyarakat beralih ke moda tranportasi umum atau transportasi yang ramah lingkungan dengan rencana penghapusan bahan bakar oktan rendah tersebut. Maka, penyediaan jalur khusus bagi pesepeda dan pejalan kaki harus segera dilakukan. Agar masyarakat turut nyaman dan beralih ke moda transportasi yang ramah lingkungan nan layak digunakan. Apalagi, pandemi seperti ini turut mendukung pengurangan polusi di jalan raya. Daripada mengatur kendaraan ganjil genap, lebih baik mengatur dan gencar menyosialisasikan jam-jam operasional dan aturan bagi tiap moda transportasi yang diperbolehkan beroperasi di jalan raya hingga jalur khusus bagi pejalan kaki.

Selain itu, juga perlu ada kesadaran para pesepeda dan pengguna jalan lainnya untuk mematuhi beberapa aturan seperti yang diungkapkan Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo Dirlantas Polda Metro Jaya (PMJ) dilansir kumparan.com dengan artikel "Wajib Paham Ini Ruas Jalan yang Beresiko untuk Pesepeda". Ruas jalan yang dapat digunakan oleh pesepeda adalah ruas jalan yang risiko kecelakaannya minim. Pada jalan raya tanpa ada lajur sepeda, ruas jalan tersebut memiliki risiko terjadi kecelakaan karena adanya mix traffic dan kecepatan kendaraan bermotor.

Sedangkan, kecepatan kendaraan bermotor yang tinggi, dan adanya tekanan angin di jalan layang non-tol, bisa mempengaruhi keseimbangan bagi pengendara bermotor. Sehingga, pesepeda harus menghindari jalan tersebut. Selain itu, pesepeda juga harus menghindari jalan yang memiliki permukaan tidak rata dan sempit, serta tidak memiliki kemiringan yang standar.

Jika, seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, hingga berbagai stakeholder mampu mematuhi dan menggencarkan aturan-aturan yang ada. Tatanan moda transportasi seperti di luar negeri mungkin bisa kita rasakan. Bahkan bisa menjadi common baru di era new normal. Sehingga kita bisa belajar menyesuaikan diri pada berbagai situasi. Tidak usah berusaha mencari dan menyalahkan siapa dalang atau tersangka dari berbagai masalah, melelahkan hati yang ada. Melainkan bagaimana kita menyikapi, menyesuaikan dan memperbaiki diri terhadap masalah tersebut.

VIDEO PILIHAN