Mohon tunggu...
Arman Kalean
Arman Kalean Mohon Tunggu... Akademisi

Nahdliyin Marhaenis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Manusia Imaji di Maluku

9 Agustus 2019   01:00 Diperbarui: 9 Agustus 2019   01:09 0 5 3 Mohon Tunggu...
Manusia Imaji di Maluku
Sumber foto: https://instogram.pro/tag/pesonakei

Sejak Belanda angkat kaki dari tanah Maluku, kita dibuat lena dengan kasta makan, kasta bahasa, dan kasta bergaya.

Kita tak pernah mampu menghilangkan angan-angan tentang kenyamanan roti di pagi hari sebagai sarapan, kehinaan ungkapan semacam "buta huruf" dalam candaan maupun makian, serta keelokan puji diri sendiri saat bergaya dengan sepatu dan kaus kaki bila hendak bepergian.

Macam ragam hal serupa masih banyak lagi, andai kita periksa lebih detil satu demi satu ruang budaya keseharian kita hari ini. Kebiasaan kolonialis itu memang sudah banyak purna, tetapi kebiasaan membangun imaji terus berlanjut hingga kini.

Kasta Roti

Roti dianggap punya prestise tersendiri, apalagi roti ditambah dengan teh hangat di waktu pagi. Menyantap roti sebagai sarapan dimaknai telah melompat kelas ekonomi, selera berkelas. Mungkin ini yang menjadi sebab bahwa pabrik roti dari skala besar sampai skala rumahan yang dikelola oleh banyak saudara kita asal suku Jawa masih eksis dan meraup keuntungan cukup baik.

Tak penting berapa gajimu, yang penting adalah roti bisa dikonsumsi maka kita berhak dikatakan lagi bebas dari "meti Kei". Roti lalu menjadi petanda bagi seseorang yang sedang dalam keadaan kurang finansial, atau berkelebihan.

Ironisnya. Bukan roti sebagai eksistensi, melainkan esensinya yang kuat tertanam, yakni terigu. Sekarang, terigu telah menjadi kelas paling mutakhir menjawab sejumlah kegengsingan dan budaya konsumtif paling paragmatis. Suatu imajinasi yang terus hidup dalam banyak keseharian orang Maluku.

Seringlah berkunjung ke Desa kecil, di pinggiran kota, bahkan yang paling jauh jaraknya dari pusat kota. Kita akan lebih banyak disuguhi biskuit hangus dan teh celup, nyaris belum duduk lima menit kita sudah dipersilahkan menikmati.

Kopi Kampung, enbal bunga, dan sagu lempeng, hanya akan kita nikmati dengan serius di kesempatan yang serius saja. Misalnya bertamu untuk urusan percakapan serius tentang adat yang bersendikan agama, ataukah saat melayat ke acara "turun tanah" untuk keluarga yang meninggal.

Kopi dan segala cemilan lokal ditaruh pada posisi paling sakral, dari kopi kampung kemudian mewabah ke kebiasaan mengolah enbal lulun dan sagu tumang. Bubuhuk (panganan lokal dari olahan Singkong yang beracun) dan Sinoli (panganan lokal dari olahan Sagu) pada waktu tertentu akan sangat mahal dibandingkan beras sekilo, lama kelamaan rindu akan kopi, enbal, dan sagu hanya bisa kita nikmati dengan rasa syukur ketika ada keluarga kita yang meninggal dunia.

Seperti candaan luas yang beredar, ada nasi kuniny di tempat keluarga yang meninggal dunia. Nanti kita akan ada pada ruang itu, orang lain berduka karena rindu akan keluarganya yang tak mungkin kembali lagi ke dunia, tapi kita justeru menahan rindu dan bersiap meledakannya dengan penuh syukur saat mendapati kabar ada yang meninggal dunia. Sebab ada kopi kampung, enbal, dan sagu di sana. Rindu kita akan segera terbayar, benar-benar ngeri ketika tiba pada zaman itu andai saya masih hidup di dalamnya.

Kasta Bahasa

Dulu setelah politik etis berlaku, terdapat banyak sekali kemudahan bagi pribumi Maluku untuk bersekolah dan bekerja di pemerintahan Hindia Belanda.

Banyak anak kampung seusia kakek buyut kita berhasil menjadi serdadu KNIL, mereka pulang dari latihan selain membawa makanan khas Eropa semisal Keju, juga membawa sejumlah tata nilai kognitif baru.

Mereka pandai membaca huruf latin, huruf yang digunakan hanya oleh manusia asing Belanda. Huruf Arab sebagai aksara lama yang mengakar dalam bahasa Ibu di beberapa kesultanan dan kerajaan Islam lokal, mungkin dianggap ketinggalan zaman, kala itu. Apalagi kalau huruf Arab itu hanya dipelajari untuk membaca Qur'an dengan fasih, tanpa pengajian yang mendalam soal arti dan nilai ibadah sosialnya dalam kehidupan sehari-hari. Maka aksara itu tetap di ruang sakral, tak membumi di masa itu, tak mampu memberi perubahan pada sendi keduniaan masa itu.

Hingga akhirnya makna buta huruf bukan lagi buta huruf Qur'ani tetapi buta huruf Latini. Saat pulang dari pendidikan KNIL, banyak orang kampung terdecak kagum. Tak sedikit orang-orang kampung akan menasehati anak-anak mereka agar mencontohi sosok KNIL jebolan kampungnya itu.

"Kalian harus seperti dia, dia tak lagi buta huruf, sekolah kalian mestilah rajin!", atau kalimat serupa lainnya yang intinya jangan buta huruf.

Buta huruf selanjutnya bertransformasi menjadi ungkapan "jadi manusia", maka belajarlah agar kelak menjadi manusia. Kalau sudah manusia tentu tidak buta huruf, singkatnya buta huruf latin dapat menyebabkan anda tidak menjadi manusia, dalam artian modern dari segi pendapatan.

Sekarang, buta huruf memang sudah tak banyak lagi. Tetapi imajinasi menjadi manusia modern dari segi pendapatan, terus tertanam. Bukan sebatas jadi Tentara atau Polisi, namun juga PNS dianggap sebagai proses menjadi manusia.

Mungkin di berbagai penelitian sosio linguistik lainnya akan ditemukan beragam relasi antara bahasa dan pergeseran kelas menengah baru.

Kasta Bergaya

Dugaan saya, ada kenyamanan lain di Maluku yang oleh Belanda ketika menerapkan kebebasan mengenyam pendidikan bagi orang Maluku dengan tak mencirikan kasta berpakaian.

Di Jawa, memang kaum priyayi bebas bersekolah. Hanya saja diberi tata aturan normatif menggunakan blangkon, sarung batik, dan sendal sepatu. Menyangkut tata ini perlu dicek lebih jauh, semoga saja aturan itu bukan dari Belanda.

Di Maluku, kalau kita perhatikan setiap foto atau lukisan zaman Belanda tentang kakek buyut kita dan para penguasa lokal kita, pasti semuanya menggunakan setelan perlente. Kecuali untuk para Imam dan kaum agamawan Islam lainnya, tetapi saya amat yakin saat anak-anak Imam bersekolah, hampir pasti tak menggunakan gamis dan serban.

Makanya tak aneh bila padanan kata Perlente terserap dalam bahasa Melayu Ambon menjadi "Parlente" (artinya: Pembohong). Bisa saja karena orang Maluku di masa itu menganggap setelan Perlente sebagai bentuk kamuflase budaya orang asing Belanda agar mereka dapat bersekolah, agar tak buta huruf lagi.

Hingga saat ini, banyak orang Maluku masih merasa Belanda. Selain sejarah yang cukup panjang dibahas soal domisili keluarga orang Maluku di Belanda, imajinasi bergaya itu lalu membentuk selera dan menjadikan Belanda sebagai kiblat bergaya.

Namun, transformasi berikutnya bergeser pada Jakarta. Telah banyak antropolog yang mengulas makna kemajuan yang datang dari arah barat, orang Maluku masih nyenyak dengan pemaknaan tersebut. Barat adalah simbol segala macam kemajuan, gedung tinggi lebih dari sepuluh tingkat dan jalan aspal melebar dari ukuran rentang tangan sepuluh orang dewasa adalah hal-hal maju lainnya yang hanya ditemukan di Jakarta. Majunya Indonesia patokannya Jakarta, barang siapa yang ke Jakarta dia sudah dianggap menjadi Indonesia.

Membunuh Imajinasi
Bahwa orang Maluku menuntut infrastruktur adalah keniscayaan, tetapi infrastruktur itu jangan sampai merusak nilai kearifan lokal yang telah ada. Pembangunan yang relevan budaya tentunya, baik untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan, maupun pengelolaan sumber daya alam (SDA) lewat eksploitasi sejumlah barang tambang.

Tujuannya adalah menaikkan taraf ekonomi orang Maluku, tapi tetap menjaga nilai kearifan lokal terwarisi dengan baik dalam banyak praktik, bukan hanya sebatas momentum ritual yang kering dan kosong sebagai nostalgia masa lalu yang di dalamnya terdapat perlengkapan adat serta panganan lokal bermakna simbol kerinduan semu belaka, sakralitas hambar.

Bahaya transformasi imajinasi seiring waktu dapat kita temui di Kei. Di sana, imajinasi terhadap orang Arab sebagai yang paling keren dan paling maju dalam berbagai aspek masih sangat kental sekali, membekas tak peduli di desa Islam ataupun Kristen. Saudara kita yang di sana, kerap dapat dengan mudah menggunakan kata ganti orang pertama selain Beta dengan "Ana" (artinya dalam bahasa Arab: Aku/Saya).

Memang itu hal yang lumrah di Lebanon, Palestina, dan Negara-negara Arab yang jumlah minoritas penduduknya penganut Katolik atau Koptik. Tapi di Indonesia, khususnya di Maluku oleh suku Kei, anda jangan kaget saat berkunjung ke sana dan mendengar pembicaraan hari minggu semacam begini:

"Ana mau ke Gereja jam 6 pagi, karena siang ana ada janjian ketemu sama teman di kompleks Islamic Center".

Bahkan doa Bapa Kami dalam bahasa Arab pun di Timur Tengah bisa dibedakan dengan jelas oleh penduduk Islam dan penduduk Kristen, karena memang orang Timur Tengah mengerti bahasa Arab. Tapi kalau itu dilafalkan dalam Gereja di Maluku, malah lain lagi soalnya. Bisa saja orang akan berpikir negatif, padahal di satu sisi mereka kerap menuturkan kalimat sehari-hari menggunakan kata "Ana", suatu keanehan akulturasi, tentu ada kelebihan dan kekurangannya bila ditinjau lebih spesifik.

Pasar Tual, seputaran pelabuhan besar, dan kompleks pertokoannya, memberi imaji tersendiri bagi orang Maluku di Kei. Ada suatu daya tarik di situ, bisa jadi karena dulunya memang orang Arab banyak bermukim dan menjalankan usaha dagang, dan memang hingga kini pun masih kita jumpai beberapa toko di antaranya toko Aiwa dan Banda Neira milik keluarga keturunan Arab.

Secara sederhana ini suatu hal yang biasa saja, tak mencurigakan, tapi jika kita delik lebih dalam, ada persepsi yang terlanjur terbangun bahwasanya untuk menjual Ubi Jalar, Singkong, Pisang, dan segala macam hasil bumi lainnya, kita harus menggelar lapak di kompleks pasar Tual.

Ada cerita tentang Nenek yang punya banyak Cucu usia 3 s.d 5 tahun, Cucu-cucunya bertengkar sampai menangis-nangis lanataran berebut pisang molen yang sempat dibeli sang Nenek dari pasar Langgur sebelum mengganti angkutan umum kembali ke kampung. Uang beli pisang molen diperoleh Nenek dari hasil menjual pisang masa yang dibawa dari kampung ke pasar Tual. Jadi, Nenek jualan pisang masa di pasar Tual, beli pisang molen di pasar Langgur, lalu bawa pulang ke kampung untuk Cucu-cucunya tadi.

Saya tak habis merenung mendengar cerita ini, kemana perginya selera keistimewaan pisang goreng tepung enbal dan kue putar berbahan dasar enbal itu? Terigu seolah menjadi penjajah baru dalam dunia selera anak Kei di kampung.

Bukan hanya oleh orang Kei, suku-suku lain dari Aru dan Tenggara Jauh ketika musim panen Ubi-ubian tiba, mereka bahkan datang dalam jumlah besar dan menjajakan dagangannya di pasar Tual. Semoga imajinasi semacam ini dapat diminimalisir dengan pemerataan pusat keramaian dan pembiasaan pasar tradisonal  yang efektif.

Harusnya, hasrat merindukan kota dan tujuan mencari rejeki perlu diatur sedemikian rupa. Pemerintah sudah saatnya membangun kepastian jual beli yang terukur, hingga masyarakat tetap untung banyak tanpa harus meluangkan waktu, tenaga, dan biaya berlayar lagi dengan kapal menuju pusat-pusat imajinasi.

Nanti, bisa saja imajinasi lain akan muncul, yakni orang Cina sebagai yang paling sukses. Menyangkut penjualan keuntungan rumput laut, buah Pala, buah Kenari di Pulau Kur dan hasil tanaman palawija lainnya di Pulau Dullah dan Pulau Kei Kecil serta Pulau Kei Besar. Imajinasi orang Kei meruncing ingin ke pulau Jawa, membawa sendiri hasil panennya. Daripada dibeli borongan oleh tengkulak keturunan Cina, mereka ingin menjual sendiri dengan harga tinggi di pulau Jawa.

Saya teringat tuturan keluarga, dulunya memang leluhur kami bahkan ada yang pergi menjual pala dan cengkih sampai ke Tanah Melayu, Malaysia, hingga VOC memberlakukan aturan monopoli dagang. Entah karena imajinasi Cina atau semangat nenek moyang, yang jelas pemerintah harus berani memborong hasil panen orang Kei dengan harga menjanjikan dan menjualnya ke pembeli di pulau Jawa agar imajinasi serupa tak akan pernah muncul. Apalagi ke Jawa tujuannya bukan harga jual saja, tapi sekedar ingin melihat gedung mewah dan jalan layang seperti di Televisi.

Simpulannya imajinasi dari kasta roti, kasta bahasa, dan kasta bergaya dapat dibunuh dengan keterlibatan aktif pemerintah. Melalui berbagai cara kreatif apapun, seharusnya dapat dilakukan. Pemerintah harus bertindak sebagai tameng budaya, jangan sebaliknya, termasuk mendiamkan imajinasi ini terus bertransformasi.

VIDEO PILIHAN