Mohon tunggu...
Rudy Kakaby Kilonressy
Rudy Kakaby Kilonressy Mohon Tunggu... NGURKANDUNG

CINTA, BUKU DAN MUSIK

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Berlomba dengan Waktu

15 Juni 2020   09:28 Diperbarui: 15 Juni 2020   09:47 35 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Berlomba dengan Waktu
ubackground.com

Pengeras suara masjid itu kembali menggaungkan bunyinya mengingatkan warga sekitar beragama muslim datang dalam perjumpaan dengan Sang khalik, dalam keadaan setengah terlelap pemuda itu mengingat untuk harus mengasah kemampuan menulisnya. 

Pukul 04.20 WP, Ia terbangun dari tempat tidurnya yang berada di belakang rumah, di atas tinggkat tak berdinding utuh. Jika pandangan diarahkan ke arah timur terlihat bukit-bukit gelap serta pepohon subur yang mengepung sekumpulan bambu kuning menjulang terdiam dalam sunyi karena unggas malam masi terlelap, angin yang belum beritup. 

Jika menatap ke sebelah barat, dari cela-cela tumbuhan jalar merayap seakan sebagai pengganti dinding tingkat, terlihat lampu-lampu yang berkediap-kedip dilingkungan rumah-rumah warga yang sepih, lebih jauh padangan diangkat terlihat puncak-puncak bukit yang ditumbuhi pepohonan gelap.

Udarah pagi yang segar bercampur aroma pepohan yang datang perlahan dari bukit, begitu terasa. Pemuda itu mulai berkemas bangun dari tidurnya, sejenak dalam hening ia duduk menyilang kaki, tangan disatukan untuk menaikan syukur pada pincaptanya, karena baginya hidup adalah semata-mata datang melalui pemberian tangan yang tak terlihat. 

Ia mulai menulis, namun tidak mudah untuk menyelsaikannya. Berbagai tantangan datang silih berganti sebagaimana yang telah dialami oleh penulis pemula pada umumnya. Memiliki niat dan keinginan untuk menulis namun itu hanya sebatas keinginan. Jika diperhadapkan dengan fasilitas yang tersedia didepannya maka semua seakan sirna dalam sekejap seperti keinginan diusir oleh alat tulis menulis itu.

Memang susah juga bila alat tulis menulis tidak bersahabat dengan rasa ingin menulis, begaima caranya mereka dapat disatukan? Ia bertanya dalam diam, hati yang tak relah membiarkan suasana subuh tenang itu diambil oleh pagi yang segera datang membawa suara-suara manusia dan kendaraan kota. 

Tidak. Aku tak membiarkan waktu itu diambil oleh sang pagi seblum tanganku menghasilkan satu buah cerita walaupun itu cerita pendek, namun harus ada cerita yang kurangkai pagi ini. Ia terus menulis, jari jemarinya terus bergerak cepat diatas tombol-tombol netebooknya, seakan sedang berlomba dengan sang waktu menuju garis finis, seakan ada kesepakatannya dengan mentari untuk berlomba merebut ujung pagi.

Pemuda itu menulis tanpa membaca kembali apa yang ia tulis, baginya jika menulis berhenti dan dibaca ulang maka mentari pagi akan mengejar bahkan meninggalkannya jauh ke belekang. Menulis terus dilakukan, waktu terus mengejarnya. 

Terdengar suara orang tua yang bercakap pelan dibawa loteng rumah, menyadarkannya bahwa waktu hampir pagi, orang-orang segerah beraktivitas, mentari segera keluar dari peraduannya. Ia berhenti sejenak, membaca tulisan tangannya. Tidak masalah. hari ini mentari menang, akan kuusahan pada hari berikutnya, sebelum engkau terbit di ufuk timur, hasil tulisan tanganku suda harus ada untuk menginspirasi sesama.

Terdengar suara ayam, burung dan unggas pagi bersahut-sahutan, hari mulai terlihat samar-samar, pepohanan dan bukit-bukit mulai terlihat, dari ketinggian terlihat para pemulung berkeliaran mendorong gerobak tuanya menuju tumpukan sampah-sampah warga yang tak ter-urus. 

Angin yang datang entah dari mana mulai terasa, orang usia lanjut mulai jogging dan berolahrga kecil-kecilan menjaga kesehatan, sedangkan generasi +62 masi terlelap ditemani hanpone kesayangan akibat bermedia sosial semalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x