Abdul Kahar
Abdul Kahar

Peradaban harus terus berevolusi bersama roda pergantian waktu, dan setiap individu punya cara dalam membenahi apa saja yang harus dibenahi. Gunakan caramu!!!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Islam dan Tantangan Dakwah Kontemporer

14 Maret 2018   10:13 Diperbarui: 14 Maret 2018   10:16 368 0 0

Islam adalah agama kasih sayang yang telah mengangkat derajat manusia menjadi tinggi. Islam mampu menjadi sebab atas setiap kejayaan karena ia merupakan agama yang langsung mendapat jaminan kemurnian dari Allah SWT.

Bangsa Arab merupakan salah satu saksi bagaimana Islam mengangkat derajat manusia. Berkat hidayah Islam, masyarakat Arab yang semula terpecah belah menjadi bersatu; yang sebelumnya jahiliyah (bodoh) menjadi berperadaban; yang sebelumnya berhati keras menjadi berkasih sayang; yang sebelumnya menyembah berhala menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa[1]. Islam datang sebagai pembaharu yang mengantarkan bangsa arab pada kewibawaan, kejayaan, keagungan, dan kekayaan. Sehingga, Dalam tempo separuh abad saja Islam berhasil menguasai separuh bola dunia.

Islam di puncak kejayaan menjadi sebuah kiblat bagi umat -- umat yang ada di dunia, ia menjadi panutan sekaligus pedoman bagi masyarakat di berbagai belahan dunia. Sehingga nostalgia akan kejayaan yang pernah ada di masa lalu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi umat islam hari ini.

Pada zaman keemasan islam, banyak kemajuan dan prestasi yang diraih dibidang sains, matematika, dan teknologi. Sehingga islam pernah mendominasi dan menghasilkan penemuan -- penemuan yang menakjubkan dan membuka cakrawala dunia sains[2]

Potret umat islam hari ini mengalami proses degradasi tak berkesudahan yang mengakibatkan islam menjadi terbelakang. Sehingga setiap langkah kemuduran harus menjadi objek kajian tersendiri bagi setiap muslim yang mengharapkan kemajuan. Proses degradasi yang terjadi tidak pernah terlepas dari dari usaha -- usaha sistematis yang dilakukan oleh musuh -- musuh islam agar islam dihapuskan dari permukaan bumi ini. Allah Subhanahu wata'ala berfirman di dalam Alquran surah Al -- Baqarah/2:120.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu[3].

Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang -- orang kafir tidak akan pernah senang dengan Islam sampai seorang muslim mengikuti agama mereka, maka kita selaku seorang muslim harus berhati -- hati karena jauh -- jauh hari Rasulullah Sallahu 'Alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al -- Khudri Radaiyallahu 'anhu bahwa :

Terjemahannya :

 

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang -- orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang -- orang sebelum kalian ikuti itu masuk ke dalam dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) berkata apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, "Lantas siapa lagi?[4] 

Usaha yang dilakukan untuk meminimalisir kualitas dan kuantitas kaum muslimin hari ini terjadi di berbagai sisi, sehingga umat islam harus mampu meningkatkan kualitas di berbagi bidang pula, seperti fikih, hadits, tafsir, teknologi, kedokteran, bisnis, ekonomi, atau bahkan politik. Realitas dari kualitas umat islam zaman now mengalami keadaan yang sangat memilukan, itu bisa kita lihat dari bagaimana keadaan yang terjadi di negeri -- negeri kaum muslimin. 

Umat islam yang hingga kini menjadi penduduk dengan jumlah penganut terbesar kedua di dunia[5] justru diombang -- ambing oleh orang -- orang kafir dari berbagai sisi, sehingga umat islam  terkhusus bagi kaum cendekiawan harus kembali  melakukan proses rekontruksi gerakan dakwah yang akan mempertahankan eksistensi umat islam di masa yang akan datang.

Dalam sejarahnya, dakwah Islam hampir selalu meniscayakan adanya tantangan, tantangan itu berubah dari zaman ke zaman seiring perkembangan peradaban umat manusia.[6] Tantangan -- tantangan yang kemudian selalu diperhadapkan dengan berbagai polemik yang semakin kompleks menjadikan setiap langkah dakwah harus senantiasa dievaluasi sebagai bentuk penyesuaian terhadap permasalahan kontemporer yang dihadapi selama tidak bertentangan dengan prinsip akidah yang dimiliki.

Kegiatan dakwah yang kian hari kian mendapat tantangan yang semakin kompleks, mesti ditunaikan dengan beragam kekuatan dan potensi. Paling tidak tantangan yang menghadang lajunya perkembangan dakwah islamiyah di Indonesia menurut karakteristiknya ada dua bagian besar, yaitu klasik dan kontemporer. Klasik berupa praktek-praktek ritual yang bercampur dengan animism, dinamisme, singkritisme, dan pengakuan sebagai nabi (palsu). Sedangkan yang kontemporer berbentuk paham-paham keagamaan yang bercorak sekularisme, pluralism, liberalism, dan feminism.[7] Selain itu, ada juga gerakan-gerakan yang sengaja dimunculkan untuk memecah belah persatuan umat Islam, semisal gerakan Syi'ah, Ahmadiyah, dan NII.

Tantangan dakwah kontemporer yang telah disebutkan diatas merupakan tantangan yang sangat vital untuk kita antisipasi bersama sebab tantangan dakwah klasik akan habis dengan sendirirnya seiring proses modernisasi yang terjadi di era globalisasi. Sehingga gerakan dakwah harus kembali melakukan restrategi terhadap sikap atau metode dakwah yang dilakukan dalam menghadapi tantangan dakwah di masa yang akan datang.

Sumber:

[1] Syakib Arslan, Kenapa umat islam tertinggal,(Cet. I; Pustaka Al - Kautsar, Juni 2003 M), h. 12.

[2] Qori Ratna, 100 ilmuwan muslim para pelopor sains modern,(Cet. I; Galmas Publisher, Desember 2014 M), h . 3.

[3] Kementrian Agama R.I., At - Tayyib Al-Qur'n Transliterasi Per Kata dan Terjemah Per Kata,(Cet. I; Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2011). h. 12.

[4] Hadits Riwayat Muslim No. 2669

[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_menurut_jumlah_penganut

[6] https://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2016/12/29/tantangan-dakwah-389219

[7] Pembagian ini pernah disampaikan oleh Muhammad Avid Solihin dalam Daurah Pengurus DDII, dan ditulis kembali oleh Aris Munandar Alfatah dalam makalahnya, "Problematika dan Tantangan Dakwah di Indonesia",hlm. 2 (makalah S2 UIKA Bogor, tidak diterbitkan).