Mohon tunggu...
Kaha Anwar
Kaha Anwar Mohon Tunggu...

MJS Press

Selanjutnya

Tutup

Media

Mereka yang Rela Jadi Debu

11 Juni 2015   07:25 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:07 0 0 0 Mohon Tunggu...

 

Selama hidup saya, saya telah mendedikasikan diri untuk perjuangan bersama orang-orang Afrika. Saya telah berjuang melawan dominasi putih, juga berjuang melawan dominasi hitam.” (Nelson Mandela)

 

Dunia tak membutuhkan banyak orang untuk mengubah wajahnya. Dunia hanya membutuhkan segelintir orang, tetapi mempunyai kesediaan diri untuk lebur, mati bahkan tak tercatat oleh sejarah. Mereka yang berani meniadakan dirinya yang akan berhasil mewarnai perjalanan sejarah dunia. Bahkan, merekalah yang bisa menggerakkan massa untuk menciptakan “peristiwa” yang tak disangka-sangka.

Berawal dari kiprahnya, dunia berubah. Mungkin, mereka sendiri tak akan pernah menyangka bahwa buah budinya akan mengubah kehidupan manusia lainnya. Tujuan dharma hidupnya memang bukan untuk dikenang, dicatat sejarah, atau dibuatkan replika beton di pojok kota. Mereka bekerja karena keniscayaan. Ada sesuatu keadaan zamannya yang harus diubah. Masyarakat harus disadarkan dari mimpi panjangnya, digerakkan untuk melawan kelaliman yang mengungkung. Mereka adalah “para nabi” yang menarik selimut “zona kenyamanan”, lalu bangkit dan menembus kepekatan zaman yang menghegemoni keadaan.

Namun, memang tak mudah dan tak enak menjadi seorang martir. Ia seperti pejalan sunyi. Para penguasa memburunya. Kenikmatan dunia bisa jadi hanya bagaikan angin lalu: berhembus sebentar, dan kemudian terbang entah kemana. Kehidupannya diliputi letupan-letupan api perlawanan. Tak jarang, dari mereka harus tersingkir dari dunia: mati. Tetapi, apalah arti sebuah kematian, bukankah semua makhluk pasti mati. Yang membedakan hanyalah “cara’ dan jejak semata.

Buku ini, yang ditulis dalam dua belas bab, mengajak pembaca untuk kembali memaknai tentang kepahlawanan. Pahlawan bukanlah orang cengeng, orang yang mudah menganggap enteng suatu masalah. Bagi pahlawan, setetes darah memiliki makna maka harus diperlakukan selayaknya. Kita, dari buku ini, diajak menelusuri bagaimana kiprah para martir dari pelbagai negara yang ada di dunia. Yang rata-rata negara-negara itu sekarang memiliki daya saing dan dihargai oleh negara lain. Sebuah negara memang harus memiliki “macan” untuk mengaumkan kewibawaan negaranya.

Sebut saja, misalnya, Nelson Mandela. Bapak Demokrasi Benua Afrika ini pernah mengalami kepahitan dalam hidupnya. Ia dibesarkan pada kondisi zaman yang masih mengagungkan warna kulit. Warna menjadi penentu keunggulan manusia, dan sudah bisa ditebak yang “putihlah” yang terbaik. Sedangkan, “hitam” (seakan) hanyalah orang yang terdampar di dunia. Orang-orang kulit hitam diasingkan di negerinya sendiri. Mereka tak dianggap ada, kalaupun ada mereka tak lebih sebagai jongos.

Mandela bangkit. Ia adalah warga sah benua Afrika. Biarpun warna kulitnya hitam, tetapi budinya putih. Mandela berdiri melawan kesewenang-wenagan atas dasar warna kulit. Baginya, warna kulit bukan patokan untuk menilai keunggulan manusia. Lebih dari itu, ada hal lain yang patut dihargai, dinilai sebagai penentu kualitas manusia.

Meski menentang warna “putih”, bukan berarti Mandela mengagungkan dan jumawa dengan warna hitam. Ia tak ingin warna hitam mendominasi, mengalahkan dan menyingkirkan warna putih. Yang ia pikirkan adalah jalan tengah, mencari jalan terbaik bagaimana kehidupan di benua Afrika bisa normal dan setara.

Di tempat terpisah, di Rusia. Setelah berkali-kali mengalami revolusi, sejak ditumbangkannya kekuasaan tsar, Rusia seperti anak muda yang sedang mencari jatidiri. Negeri komunis ini terus jatuh bangun menjadi negeri ideal. Paham komunisme seakan harga mati yang tak tergantikan. Siapapun pemimpinnya, komunisme harus menjadi landasannya. Namun, apakah dengan komunisme negeri ini makmur? Paham suatu negara, kalau boleh dibilang, hanya memberikan secuil kemakmuran bagi rakyatnya. Selebihnya, adalah komitmen pemimpinnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x