Mohon tunggu...
Kaha Anwar
Kaha Anwar Mohon Tunggu...

MJS Press

Selanjutnya

Tutup

Media

Upaya-Upaya Pembunuhan terhadap Bung Karno

5 Juni 2015   13:31 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:21 0 0 0 Mohon Tunggu...

 

Judul                        : Benarkah Soekarno Dibunuh? Tabir Misterius Percoban-Percoban Pembunuhan terhadap Soekarno

Penulis                      : Lukman Santoso Az

Penerbit                    : Palapa, Yogyakarta

Tahun terbit              : cetakan pertama, 2014

Tebal                        : 186 halaman

ISBN                        : 978-602-7695-60-3

 

Benarkah Bung Karno dibunuh? Siapa yang berani melakukan pembunuhan itu? Tentu saja, pertanyaan ini membuat kita kaget. Pasalnya, selama ini, sejarah yang kita terima adalah Bung Karno meninggal secara wajar: beliau sakit, dan kemudian meninggal. Tidak ada satu catatan yang menyebutkan bahwa Bung Karno meninggal dunia akibat dibunuh oleh seseorang atau sekelompok orang. Di Indonesia i, kasus pembunuhan terhadap presiden belum pernah terjadi.

Namun, pertanyaan tersebut juga tak serta merta bisa disanggah. Meski dalam catatan sejarah belum pernah terjadi pembunuhan terhadap presiden, boleh jadi ada dan sengaja ditutupi. Apalagi hal itu terjadi terhadap pribadi Bung Karno. Mengingat, Beliau merupakan presiden pertama Republik Indonesia, yang pada saat itu masih sebagai masa-masa penuh gejolak. Indonesia baru lahir sebagai negara merdeka dan kaki-kaki penjajah masih banyak yang bercokol di Nusantara. Tentu saja para kolonial itu tak serta merta ikhlas melepas Indonesia dengan mudah. Mereka masih menginginkan Indonesia sebagai “sapi perah”.

Selain itu, kepribadian Bung Karno dikenal kontroversial sehingga sering menimbulkan perbedaan pendapat. Ia tak pernah jauh dari hal yang bersifat kontradiktif, pergumulan antara nasib mujur dan malang yang berujung tragedi. Orang-orang yang berada di balik upaya pembunuhan terhadap dirinya adalah mereka yang menginginkan Indonesia lain, bukan Indonesia yang pernah dikemukakan Bung Karno sebagai tempat leluasa “milik semua untuk semua”.

Bung Karno adalah manusia yang unik. Pembicaraan tentang sosoknya tak lekang ditelan zaman dengan jalan hidup yang penuh kontroversi. Saat muda, ia dipuja dan saat jaya ia diagungkan. Namun saat tua, ia disingkirkan dan ‘dilenyapkan” pelan-pelan. Berbagai tragedi membalut hidup presiden yang biasa disapa Bung Karno. Beberapa pihak berupaya menenggelamkan namanya dari hiruk pikuk sejarah.

Faktor-faktor tersebut menjadi alasan kuat bahwa Bung Karno berada dalam bayang-bayang upaya pembunuhan. Selama 21 tahun menjadi seorang presiden, Bung Karno mengalami beberapa kali ancaman pembunuhan. Sayangnya, sulit sekali mengetahui jumlah pasti upaya-upaya pembunuhan tersebut. Menurut Megawati, upaya pembunuhan terhadap Bung Karno sebanyak 23 kali. Namun, mantan ajudan pribadi Bung Karno, Sudarto Danusubroto, mencatat ada 7 kali upaya pembunuhan terhadap Bung Karno.

Lukman Santoso, penulis buku Benarkah Soerno Dibunuh?, menyuguhkan kepada pembaca berbagai peristiwa yang pernah mengancam presiden pertama RI itu. Penulis asal Lampung ini, setidaknya, mengajak sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa posisi presiden sejatinya bukanlah hal nyaman. Posisi itu banyak diincar oleh berbagai pihak yang tujuannya hanya satu, yakni menggulingkannya.

 

Peristiwa Granat Cikini

Sabtu, 30 November 1957, Perguruan Tinggi Cikini merayakan ulang tahunnya ke 15. Beragam kegiatan dilaksanakan, salah satunya bazar amal yang bertujuan untuk mengumpulkan dana. Acara ini sangat meriah karena dihadiri oleh para orangtua murid. Bung Karno merupakan salah satu pengunjung bazar tersebut. Beliau hadir karena anaknya (Rahmawati, Sukmawati, dan Guruh) menjadi salah satu siswa di sekolah tersebut.

Melihat kehadiran Bung Karno, para pengunjung lainnya berdesak-desakan ingin melihatnya. Salah satu yang berdesak-desakan itu adalah Mak Ani dan kedua anaknya, Julia dan Mariani. Sebetulnya, mereka buka murid dari Perguruan Cikini. Kehadirannya semata-mata ingin melihat presidennya. Mereka sabar menunggu Bung Karno.

Namun, tidak berselang lama, terdengar suara ledakan. Orang-orang mengira suara itu hanyalah ban meletus. Suara ledakan pertama kemudian disusul dengan ledakan kedua, terlihat asap mengepul, orang-orang mulai histeris. Banyak dari pengunjung yang roboh. Bung Karno bertiarap dan diselamatkan oleh para pengawalnya. Mak Ani dan kedua anaknya tak luput menjadi korban dari peristiwa tersebut.

Mak Ani merasakan ada yang mengalir dari perut anaknya yang sedang digendong. Ia lihat, ternyata darah keluar perut Julia. Sedangkan, Mariani terus mengerang kesakitan. Anak itu memanggil-manggil ibunya. Setelah berada dipelukan Mak Ani, Mariani diam dan tak memanggil lagi. Mariani telah tiada.

Granat yang dilemparkan Tasrif, pelaku penggranatan, tak hanya meluluhlantakkan halaman Sekolah Cikini, tetapi juga membangkitkan amarah Bung Karno. Beliau memerintahkan untuk penangkap pelakunya. Hanya selang 3 hari, pelaku tersebut tertangkap. Awalnya, ada sangkaan bahwa peristiwa itu didalangi oleh Kolonel Zulkifli Lubis, komandan intelijen pertama. Ia dituduh karena selama ini berseberangan dengan gagasan Bung Karno. Ia juga terkenal dengan anti-komunis dan berseberangan dengan Jenderal Nasution. Namun, di persidangan ia membantah semua tuduhan itu. Hakim pun membebaskannya dari segala tuduhan, karena tak ada bukti yang menunjukkan keterlibatannya.

Setelah itu, mendadak aparat menangkap tiga pemuda, yakni Tasrif, Saadun, dan Yusuf Ismail. Ketiganya dari Bima. Mereka dituding menjadi antek DII/TII yang dipimpin Kartosowiryo. Bung Karno pun memerintahkan ketiganya dihukum mati. Bung Karno geram dengan aksi mereka. Penuturan Beliau, “Aku selalu ingat kepada sembilan anak dan seorang perempuan hamil yang jatuh tersungkur tak bernyawa di dekatku. Oleh karena itu, tahun 1963 aku membubuhkan tanda tangan menghukum mati Kartosuwirjo. Bukan untuk kepuasan, tetapi demi menegakkan keadilan…” (Kompas, 30 November 2007).

Banyak kalangan yang menilai Peristiwa Cikini bukan hanya masalah sederhana. Ketiga pelaku yang dieksikusi pun hanyalah ‘pemain kecil’, sedangkan otak pelaku tak tertangkap. Ada juga yang menduka, peristiwa tersebut ada unsur campur tangan intelijen asing, khususnya CIA. Sebab, jauh hari sebelum peristiwa tersebut Bung Karno mengusir orang-orang Belanda dari Indonesia, sekaligus melarang pesawat udara melintas di wilayah Indonesia.

Jatuhnya kepemimpinan Soekarno konon banyak dicampuri oleh negara-nagara asing, terutama Amerika. Keterlibatan CIA dalam urusan politik dalam negeri Indonesia memang bukan hal yang tak bisa disangkal, namun aksinya bak siluman: tak kentara. Apalagi saat itu, Indonesia memang memilikli hubungan mesra dengan Uni Soveit. Dengan sikap politik tersebut, tak heran, bila sejak November 1957 hingga penghujung tahun 1965, terjadi berbagai upaya pembunuhan terhadap Bung Karno. Upaya-upaya asing ikut campur menggulingkan Soekarno baru terwujud ketika masalah PKI meletus di tahun 1965.

Arogansi kekuasaan,kepentingan, dan politik secara perlahan merontokkan kekuatan Bung Karno. Berbagai upaya percobaan pembunuhan dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan—termasuk rival politiknya. Aksi-aksi tersebut merupakan serangkaian upaya untuk menumbangkan Soekarno.

Berbagai tragedi yang menimpa Bung Karno, sebenarnya bukan hanya tragedi yang menimpa dirinya atau keluarganya. Namun, tragedi itu sekaligus kemalangan yang menimpa bangsa Indonesia, bahkan tragedi dunia ketiga.

Banyak sejarawan menyebut bahwa Bung Karno sejatinya telah dibunuh berulang kali. Hal ini membuktikan bahwa Putra Sang Fajar sangat ditakuti oleh kaum imperialis sehingga keberadaannya pun harus disingkirkan dalam kancah dunia.

Kaha Anwar

@KahaAnwar

KONTEN MENARIK LAINNYA
x