Mohon tunggu...
Ahmad Kafin azka
Ahmad Kafin azka Mohon Tunggu... Human Resources - Mahasiswa dan Santri

mahasiswa dan santri

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Menilik Usaha Menjaga Kitab Kuning

1 Agustus 2021   12:05 Diperbarui: 1 Agustus 2021   12:05 141 6 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Menilik Usaha Menjaga Kitab Kuning
Foto: Dokumentasi Pribadi

Mengkaji kitab kuning adalah suatu tradisi yang harus dilestarikan di dalam pesantren sebagaimana suatu institusi yang mempunyai core atau kekhasan tertentu. Awal mula berdirinya pesantren tentunya juga bukan melalui pengajaran seperti sekolah-sekolah saat ini, namun lebih identik dengan kajian kitab kuning. Meskipun zaman semakin canggih, pesantren dengan keotentikannya tidak bisa berkiprah begitu saja ke dunia lain melainkan hanya dengan kitab kuning. Pesantren harus mampu memodernisasi pengajarannya dengan tidak meninggalkan tradisinya yang dulu.

Pengajaran kitab kuning di pesantren sudah dianggap kompleks melihat didalam kitab kuning sendiri telah memuat berbagai bidang keilmuan yang dapat menyelesaikan berbagai problematika yang dihadapi umat. Meskipun zaman semakin berubah dan problematika umat semakin nyeleneh, penyelesaian melalui kajian kitab kuning tidak bisa begitu saja diragukan, karena isi kitab kuning akan tetap selaras dan terus mengiringi untuk memecahkan problem-problem dimasyarakat dengan ijtihad-ijtihad para ulama.

Beberapa pesantren saat ini sudah mulai terasa bahwa telah mengalami pergeseran dalam tradisi mengkaji kitab kuning, mungkin dikarenakan kebanyakan pesantren saat ini sering mengadopsi pelajaran-pelajaran umum dan memasukkannya didalam pendidikan pesantren. Sehingga pengajarannya pun tidak sinergis dan akan sulit dalam mengkolaborasikannya, dan tak bisa dipungkiri jika waktu demi waktu tradisi mengkaji kitab kuning pun akan mulai hilang.

Hal ini banyak terjadi di pesantren-pesantren yang berstatus sebagai pesantren modern. Mengkaji kitab kuning pun terasa seperti tidak ada baunya, karena pesantren seperti ini lebih memilih untuk terus mengikuti arus tehnologi, eksistensi kitab kuning sudah tidak begitu diperhatikan lagi, yang ada hanya sarana dan prasara serta infrastruktur belajar yang serba canggih, sehingga unsur keberkahan dalam suatu pembelajaran tidak begitu diprioritaskan.

Berbeda dengan pesantren yang berstatus sebagai pesantren salaf, yang lebih mengutamakan keorisinalannya, yaitu dengan bertendensi melalui pengkajian kitab kuning dan menjadikan tradisi membaca kitab kuning sebagai keunggulan yang harus terus ditumbuh kembangkan dan terus dilesatarikan. Namun, pesantren seperti ini bila tidak merevitalisasi pengajarannya sesuai dengan arus zaman, pesantren ini pun akan semakin terbelakang.

Untuk saat ini, pesantren yang ideal harus mampu bertumpu pada dua model, yaitu menjaga tradisi kajian kitab kuning serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman seperti di zaman modern ini baik dalam segi infrastruktuknya maupun tehnologi yang dimiliki. Bila pesantren hanya fokus pada salah satu model ini, maka tidak dapat dipungkiri pesantren seperti ini akan terpojokkan.

            Dalam menghadapi problematika seperti ini munculah sebuah inisiatif dari para kyai yang memunculkan sebuah ide dengan merevitalisasi dan terus mengeksistensikan pesantren yang diasuh dengan sebutan "pesantren salaf modern" yaitu pesantren yang aktif barpartisipasi dalam mengikuti arus zaman dengan tidak meninggalkan tradisi salafnya, yaitu kajian kitab kuning.

Salah satu yang pesantren yang menganut model seperti ini yaitu "Pondok Pesantren Darussalam", dengan terus mempertahankan eksistensi dari kitab kuning, tapi pesantren ini tidak buta akan tehnologi, arus zaman pun tetap terus diikuti. Seperti contoh saja, pelayanan santri yang serba tehnologi seperti dalam hal pembayaran melalui mesin ATM, CCTV dimana-mana, gedung kurikulum, kampus perkuliahan dan masih banyak lagi.

Justru dengan adanya pembaharuan melalui tehnologi yang serba bisa, seharusnya pesantren harus dapat memanfaatkannya dalam rangka memudahkan para santri untuk belajar di pesantren. Karena banyak kita ketahui, santri-santri salaf yang kita temui sulit sekali untuk mengakses tehnologi, mereka amat konservatif. Padahal tugas santri adalah untuk membina masyarakat, tapi jika santrinya tidak melek akan tehnologi, tentu akan sulit untuk santri dalam mengorientasikan agama islam kepada umat.

Nah, untuk mengantisipasi santri supaya tetap melek tehnologi dengan tanpa meninggalkan tradisi membaca kitab kuning, pesantren harus mencari alternatif supaya dapat menjaga tradisi yang dilakukan secara turun temurun dengan terus mengembangkan tehnologi yang ada.

Mungkin ada beberapa alternatif  yang bisa diimplementasikan supaya tradisi kajian kuning tetap terjaga dan dilestarikan disamping sarana dan prasarananya juga terus diperbarui mengikuti zaman, antara lain:

  • Penguatan tradisi diskusi dan membaca kandungan kitab kuning.
  • Memotivasi santri untuk menumbuhkan semangat dalam memahami serta memberikan jawaban atas problematika umat.
  • Dukungan infrastruksur dan program-program untuk memperkuat tradisi baca kitab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan