An'im Kafabih
An'im Kafabih Pembelajar

Tempat nulis, Graduate Student

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

12 Oktober 2018   14:07 Diperbarui: 12 Oktober 2018   14:16 206 0 0

Nilai tukar adalah sutau hal yang penting bagi perekonomian nasional, karena banyak pengaruh yang ditimbulkan dari nilai tukar tersebut. Apabila nilai tukar suatu mata uang tinggi atau bernilai dari mata uang asing, maka kegiatan ekonomi akan sangat mudah dan roda perekonomian juga dapat berjalan dengan cepat. Pengaruh nilai tukar ini seperti barang-barang luar negeri menjadi lebih murah dan barang yang di ekspor juga lebih mahal, sehingga kuatnya nilai tukar menjadi stimulant untuk para pengusaha dalam meningkatkan kegiatan ekspornya.

Secara sederhana nilai tukar adalah catatan harga pasar dalam mata uang asing terhadap harga mata uang dalam negeri. Harga satu mata uang terhadap mata uang asing disebut kurs. Dalam beberapa minggu terakhir, kabar nilai tukar rupiah menjadi sangat panas jika dibicarakan, karena nilai tukat rupiah mencapai angka 15.200 per 1$. Hal ini menjadi angka tertinggi setelah masa krisis ekonomi pada tahun 1998-1999. Hal itu diperparah karena berbagai macam isu nasional seperti hutang Negara yang sangat tinggi.

Melemahnya Rupiah bukan sesuatu yang diinginkan semua pihak, dan kita sebagai masayarakat pastinya juga ikut resah. Tetapi apakah kita bisa menyalahkan permasalahan ini sepenuhnya kepada pemerintah? Melemahnya Rupiah ini bisa saja dikarenakan ekonomi global yang sedang terjadi, yaitu perang tarif antara Amerika Serikat dengan China. Dengan adanya persaingan antara negara besar tersebut, maka muncullah kebijakan dari bank sentral dari setiap negara yang berdampak pada perkonomian global. 

Secara sederhana melemahnya rupiah dikarenakan, The Fed (Bank sentral Amerika Serikat) menarik semua dollar-dollar yang tersebar di seluruh dunia dengan menaikkan tingkat suku bunga, sehingga investor-investor asal Amerika menarik uangnya dan kembali berinvestasi di negaranya. Dampaknya, jumlah dollar yang beredar di seluruh dunia menjadi sangat sedikit, dengan demikian nilai dollar di setiap negara menjadi tinggi karena jumlahnya yang semakin sedikit. Melemahnya nilai tukar tidak hanya dialami di Indonesia saja, tetapi perekonomian global juga merasakan dampaknya. Penarikan kembali dollar-dollar tersebut untuk membangun kekuatan ekonomi yang pernah jatuh pada tahun 2008 dan perang dagang melawab China.

Permasalahan ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah untuk menyelesaikannya, karena kebijakan pemerintah tidak akan terealisasikan apabila tidak adanya dukungan dari masyarakat. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia harus bersinergi untuk membangun dan memperkokoh perekonomian khususnya di bidang moneter atau nilai tukar.

Terdapat beberapa solusi yaitu pemerintah harus memperbaiki perdagangan untuk ekspor, meningkatkan goverment spending untuk meningkatkan investasi dan stimulus kegiatan ekonomi lainnya seperti mempermudah perizinan pendirian usaha, mengurangi biaya produksi (biaya listrik, bahan bakar minyak, menahan inflasi), membangun sarana dan prasarana kegiatan produksi (infrastruktur yang baik), tax holiday (meniadakan pajak). Ada juga beberpa usaha yang dapat dilakukan masyarakat untuk menguatkan nilai rupiah, yaitu menuruti himbauan pemerintah seperti gerakan cinta Rupiah, berikut beberpa isi dari kegiatan cinta Rupiah :

Mengurangi konsumsi barang-barang luar negeri (impor) dan lebih memilih produk lokal atau mencintai produk lokal.

Lebih menghemat uang dan mengurangi sifat konsumtif dan lebih rajin untuk menabung

Membuka usaha atau berwirausaha, sehingga menambah lapangan pekerjaan

Menginvestasikan sebagian penghasilannya

Lebih memprioritaskan untuk berpariwisata di dalam negeri

Dari beberapa solusi diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapai permasalahan ekonomi global harus adanya koordinasi dari pemerintah, Bank Indonesia, dan mayarakat. Jika ketiga komponen tersebut sudah sejalan dan bersinergi untuk memperbaiki perekonomian nasional, maka kemungkinan besar Indonesia menjadi negara yang kuat perekonomiannya.