An'im Kafabih
An'im Kafabih Pembelajar

Tempat nulis, Graduate Student

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Perang Ekonomi melalui Perdagangan Bebas yang Berimbas pada Kesejahteraan Masyarakat

12 Oktober 2018   07:48 Diperbarui: 12 Oktober 2018   08:09 274 0 0

Penulis : Naufal Aminuddin F.

Korektor : An'im Kafabih

Hampir semua negara tidak dapat hidup sendiri, hal tersebut terjadi karena keterbatasan sumber daya yang dimiliknya. Dengan memiliki satu tujuan yaitu memenuhi kebutuhan sangatlah vital jika suatu negara melakukan perdagangan internasional. Salah satu perdagangan yang sangat terkenal dan familiar disetiap negara adalah perdagangan bebas. 

Beberapa kalangan meyakini bahwa perdagangan bebas dapat meningkatkan kesejahteraan suatu negara, karena akan timbul sebuah koneksi dan interaksi antara kedua negara tersebut. Selain itu kegiatan ekspor dan impor akan terus berkembang dalam bentuk perpindahan barang dan jasa. 

Jika dikaitkan dengan perang, sejatinya perdagangan menjadi salah satu solusi untuk mengakhirinya. Kerugian yang disebabkan oleh peperangan tidak dapat dikatakan kecil dimana dapat menyebabkan stabilitas kewasan tersebut turun dan berimbas pada perekonomian suatu negara yang mengakibatkan kesejahteraan masyarakatnya juga ikut menurun.

Jika dikembalikan lagi ketika perang dunia II berakhir negara -- negara yang memiliki kekuatan dan superpower berlomba -- lomba memprakarsai terjadinya perdagangan bebas dengan cara mendirikan rezim internasional yang bernama GATT (General Agreement on Tariff and Trade). 

Berkat GATT inilah perdagangan internasional dapat terjaga, dan pada 1995 GATT digantikan dengan World Trade Organization (WTO). WTO memiliki berbagai kesepakatan perdagangan, yang sejatinya bukanlah kesepakatan, karena kesepakatan tersebut adalah pemaksaan oleh WTO kepada negara-negara untuk tunduk kepada keputusan-keputusan yang dibuat WTO. Negara yang tidak mematuhi keputusan WTO, meskipun karena alasan tidak cocok, akan terkena sanksi ekonomi oleh WTO. 

Negara-negara besar seperti Amerika, Kanada, Jepang dan Uni Eropa, adalah pemegang keputusan di WTO, sementara negara-negara berkembang tidak punya hak suara untuk mengambil keputusan.

Perdagangan sejatinya menjadi pengganti perang dalam arti perang yang dimaksud adalah perang senjata. Kini ditandai dengan perang ekonomi yang memiliki efek destruktif dan ketidakadilan. Ketimpangan akan muncul karena terdapat jurang yang lebar antara negara yang memiliki perekonomian maju, berkembang, bahkan terbelakang. 

Dengan demikian negara maju dapat memanfaatkan negara berkembang maupun terbelakang untuk dilakukan eksploitasi besar -- besaran demi kepentingan dan kesejahteraan negara maju itu sendiri. lantas bagaimana dengan kesejahteraan negara berkembang dan terbelakang, akan dapat dikatakan sejahtera seperti negara maju tetapi tidak sepenuhnya merata. 

Perdagangan bebas dapat membuka jalan bagi negara berkembang maupun terbelakang untuk melakukan pemerataan kesejahteraan masyarakatnya. Akan tetapi negara maju juga melakukan penghambatan yaitu dengan pencabutan subsidi yang sebelumnya di berikan kepada negara -- negara berkembang disektor -- sektor terpenting dinegara berkembang seperti pertanian.

Negera maju juga membuat upaya agar negara berkembang bergantung sepenuhnya kepada negara maju dengan mendorong untuk melakukan kegiatan impor guna memenuhi kebutuhan domestinya. Tidak hanya disektor impor, negara maju juga menghambat di sektor ekspor yaitu dengan mengenakan non tariff barrier. 

Negara berkembang dan terbelakang sejatinya seperti boneka negara -- negara maju dengan diterapkannya kuota, syarat, dan tuntutan yang harus di penuhi. Perang tarif menjadi suatu penghalang kegiatan ekspor yang coba di tingkatkan negara berkembang. 

Secara hakikat negara berkembang dan terbelakang menjadi konsumen bagi negara maju yang tujuannya hanya untuk mensejahterakan masyarakat negera maju itu sendiri, bukan untuk kesejahteraan masyarakat negara -- negara berkembang dan terbelakang. 

Ada beberapa cara untuk keluar dari genggaman serta boneka negara maju yaitu pertama dengan melakukan pembenahan sistem ekonomi yang kuat dan stabil yang dimana dapat mengatasi permasalahan ekonominya sendiri saat terjadi goncangan atau ketidakstabilan perekonomian. Keduan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan profit yang dibagi merata. Ketiga, mengurangi utang yang dilakukan ke negara -- negara maju. 

Sejatinya perdagangan sangat penting dan memiliki manfaat besar akan tetapi saat melakukan perdagangan perlu diimbangkan antara kegiatan impor dan ekspornya. Jika hal tersebut berimbang bahkan lebih besar di sektor ekspor maka sejatinya akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat negara tersebut. 

Indonesia dituntut untuk melakukan pembenahan dan efektifitas dalam sistem maupun kebijakan ekonomi dimana masalah yang dihadapi tidak ringan, MEA sudah mulai memasuki negara ini dan secara tidak langsung mengganti tenaga kerja indonesia menjadi tenaga asing yang menyebabkan pengangguran meningkat dan dapat mempengaruhi kesejahteraan rakyat.

Referensi :

  • Boediono, Ekonomi Internasional, Yogyakarta: BPFE, 2012
  • Krugman, R. Paul dan Maurice Obstfeld, Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004