Mohon tunggu...
Kartika Eka H
Kartika Eka H Mohon Tunggu... Perajin Souvenir

...pembuat souvenir dan penikmat kuliner berkuah kaldu ..... ingin sekali keliling Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

[Wisata Banua] Menemukan "Pasar Terapung Lok Baintan" dari Jalur Darat

6 Mei 2016   01:14 Diperbarui: 6 Mei 2016   08:50 0 9 16 Mohon Tunggu...
[Wisata Banua] Menemukan "Pasar Terapung Lok Baintan" dari Jalur Darat
pp1aa-572b2f3107b0bdcc068842d7.jpg

Pasar Terapung di Banjarmasin dikenal luas sejak dijadikan iklan ID Station  oleh salah satu televisi swasta nasional di awal tahun 90-an. Pasar terapung yang dijadikan syuting saat itu adalah Pasar Terapung Muara Kuin, yaitu Pasar Terapung yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun yang lokasinya di muara Sungai Kuin, anak Sungai Barito. Sayang, sejak pertengahan tahun 2000-an pamor pasar terapung alami satu-satunya di dunia ini turun drastis seiring dengan menurunnya pamor pariwisata di Kalimantan Selatan, karena berbagai sebab. Pasar terapung di tepian Sungai Barito yang berarus kuat dan bergelombang ini seperti hidup segan mati tak mau!


Bersyukur, sejak sekitar 5 tahun terakhir geliat pasar terapung mulai terlihat kembali, terutama sejak ditemukannya pasar terapung di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar Terapung di DAS Sungai Martapura ini tidak kalah eksotiknya dengan Pasar Terapung Muara Kuin di jaman keemasannya. Bahkan beberapa kalangan menilai Pasar Terapung Lok Baintan lebih menjual dan lebih atraktif dibanding dengan pendahulunya. Lokasinya yang berada agak masuk ke di tengah pedalaman memberikan sensasi wisata yang unik dan sedikit menantang. Pemandangan alam sekitar yang masih perawan dibalut dengan diorama budaya sungai khas kehidupan masyarakat  Banjar, semakin mendekatkan kita pada alam. Terlebih lagi, untuk menikmati suasana pasar terapung alami di Lok Baintan kita tidak terganggu oleh lalu lintas kapal-kapal besar penarik tongkang batubara atau pengangkut hasil hutan lainnya layaknya di Pasar Terapung Muara Kuin dan satu lagi, diatas lokasi Pasar Terapung terdapat jembatan gantung bertali baja yang membentang dari masing-masing tepian sungai yang bisa dijadikan tempat untuk mengabadikan eksotisnya pasara terapung. Benar-benar enjoyfull!

Berbeda dengan Lokasi Pasar Terapung Muara Kuin yang masih di dalam Kota Banjarmasin dan bisa diakses dengan jalan darat yang lebih cepat, untuk mengunjungi lokasi Pasar Terapung Lok Baintan di butuhkan waktu yang agak lama dari Kota Banjarmasin, sekitar 1jam perjalanan dengan menaiki perahu kelotok khas Banjarmasin. Tapi jangan kuatir, 1 (satu) jam perjalanan menuju lokasi Pasar Terapung Lok Baintan akan terasa singkat jika anda adalah penikmat wisata alam dan budaya. Karena sajian ekosistem alam perawan Kalimantan dan budaya sungai masyarakat Banjar akan memanjakan mata dan wawasan anda.

Menemukan Pasar Terapung Lok Baintan sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan melalui jalur sungai saja, seperti yang sudah lazim di lakukan oleh sebagian besar pengunjung. Untuk wisatawan/pengunjung yang ingin merasakan sensasi berbeda atau mungkin ada phobia dengan air/sungai,  ada jalur darat yang bisa dimanfaatkan sekaligus dinikmati untuk menemukan eksotisnya Pasar Terapung Lok Baintan. Walaupun sebenarnya bisa untuk kendaraan roda 4 sekelas minibus, tapi disarankan akan memberikan sensasi lebih jika menggunakan kendaraan roda dua seperti sepeda motor atau bahkan sepeda. Selain jalan yang sempit hanya cukup untuk melintas satu mobil saja, jarak menuju lokasi juga tidak terlalu jauh apalagi bagi anda para goweser! Jaraknya sekitar 10 km dari pusat Kota Banjarmasin. Memang, untuk eksplorasi jalur darat relatif kurang familiar bagi wisatawan. Tapi tunggu dulu, sensasi petualangannya tidak kalah seru lho....! Pokoknya dijamin bikin  fresh.....! Berikut ulasannya!

Dari arah Kota Banjarmasin, perjalanan langsung menuju ke arah luar kota menuju Jalan Veteran atau jalan martapura lama ke Pasar Sungai Lulut, pasar unik di tepian anak sungai Martapura. Disekitar Pasar Sungai Lulut anda bisa berhenti sejenak untuk menikmati suasana pasar tradisional masyarakat Banjar yang sekelilingnya terdapat kanal kanal yang masih aktif dilalui masyarakat dengan menggunakan jukung atau kelotok, melihat fragmentasi ini akan membawa angan kita ke venezia versi Banjarmasin!

Di ruas Pasar Sungai Lulut yang lokasinya tepat di pinggir jalan veteran (sebagian ada yang menyebut jalan Sungai Lulut, tapi ada juga yang menyebut jalan Martapura lama), kita akan bertemu dengan jembatan berkonstruksi baja yang bentuknya unik seperi busur di sebelah kiri jalan. Konstruksi Jembatan ini menurut saya juga termasuk unik dan khas Kalimantan Selatan. Jembatan sengaja dibentuk melengkung seperti busur karena sungai dibawahnya merupakan jalur lalu lintas aktif masyarakat. Jadi maksudnya, agar kepala pengendara kelotok/jukung tidak nyangkut di badan jembatan. 

Kalau Jembatan busur sudah terlihat, sebenarnya kita sudah meninggalkan wilayah Kota Banjarmasin. Posisi jembatan sudah masuk wilayah desa Sungai Bakung, Kec. Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Untuk menuju ke Pasar Terapung Lok Baintan, maka kita harus belok kiri dengan menaiki jembatan busur, karena kalau lurus terus maka kita akan menuju Kota Martapura. Ibu kota Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai kota Intan.

Turun dari Jembatan busur kita terus lurus meyusuri jalan yang terbuat dari susunan paving blok sejauh sekitar 1km, selanjutnya jalanan di dominasi oleh tanah keras yang bertabur dengan batu-batu split hasil pengerasan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Jujur! saya sebenarnya agak bingung ketika melihat kondisi jalan menuju destinasi wisata andalan Kalimantan kok sepertinya kurang mendapat perhatian ya...? Padahal....! Ah sudahlah kita jalan lagi aja yuk...! 

Hijaunya alam di sepanjang jalan menuju Pasar terapung (Foto : Koleksi Pribadi)

Ternyata semakin jauh saya memacu kendaraan, jalanan semakin menantang . Kali ini bukan batu split yang terhampar di jalanan tanah tersebut, tapi berupa pecahan batu kali yang berbentuk bongkahan. Jadi saya tidak bisa memacu kendaraan lebih kencang lagi. Untung pemandangan hijau segar areal kebun jeruk, nangka, pisang, area rawa lebak/persawahan dan hutan nipah yang banyak mendominasi sepanjang jalan berhasil merayu mata saya untuk menikmati kesegarannya. Tapi, saya tetap tidak merekomendasikan akses jalur darat ini untuk ibu-ibu hamil, apalagi jika harus mengendarai kendaraan roda dua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x