Mohon tunggu...
Kadir Ruslan
Kadir Ruslan Mohon Tunggu... pns

Pemerhati masalah sosial-ekonomi. Bekerja di BPS-RI. Penerima Beasiswa BPI-LPDP 2016 (PK-76) Program Magister Luar Negeri. Mendalami Applied Economics and Econometrics di Monash University. Berkicau\r\n@KadirRuslan. Sesekali menulis kolom untuk dimuat di koran nasional (http://menulisdikoran.blogspot.com/). E-mail: kadirsst@bps.go.id

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Pembangunan Pertanian Pedesaan Indonesia Terkendala Kelangkaan Data

26 Mei 2020   07:34 Diperbarui: 26 Juni 2020   13:24 535 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pembangunan Pertanian Pedesaan Indonesia Terkendala Kelangkaan Data
sumber ilustrasi: money.kompas.com

Di tengah transformasi struktur ekonomi nasional yang sangat cepat selama beberapa dekade terakhir, peran penting sektor pertanian tetap tidak dapat dielakkan. 

Pada tahun 2019, sektor ini, termasuk di dalamnya perikanan dan kehutanan, berkontribusi sekitar 13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 29 persen dari total tenaga kerja yang bekerja. 

Lebih dari itu, hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018 memperlihatkan bahwa jumlah rumah tangga usaha tani mencapai 28 juta rumah tangga, di mana sebagian besar tinggal di daerah pedesaan.

Pada saat yang sama, peran perempuan dalam kegiatan budidaya pertanian semakin menentukan. Hasil SUTAS 2018 juga memperlihatkan bahwa jumlah petani perempuan mencakup sekitar seperempat dari total jumlah petani yang sebanyak 34 juta orang. 

Itu artinya, kontribusi mereka dalam menggerakkan perekonomian pedesaan, yang umumnya bercorak pertanian, sangat signifikan. 

Sayangnya, secara umum petani perempuan jauh tertinggal dari petani laki-laki, baik dari sisi modal manusia maupun akses terhadap sumberdaya ekonomi, khususnya lahan pertanian. 

Sebagai contoh, SUTAS 2018 memperlihatkan bahwa rata-rata luas lahan pertanian yang dikuasai petani perempuan hanya sekitar 0,2 hektar, jauh lebih rendah dibanding petani laki-laki yang mencapai 0,6 hektar.

Hingga saat ini, kemiskinan di Indonesia masih merupakan fenomena sektor pertanian dan pedesaan di mana jumlah penduduk miskin di daerah pedesaan mencakup sekitar 62 persen dari total penduduk miskin pada September 2019. Selain itu, mayoritas penduduk miskin pedesaan menggantungkan hidup pada sektor pertanian. 

Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa sebagian besar pesar petani kita merupakan smallholders farmers. Hasil SUTAS menunjukkan bahwa rumah tangga petani gurem dengan penguasaan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar mencakup sekitar 58 persen dari total jumlah rumah tangga pertanian.

Itu artinya, pembangunan wilayah pedesaan yang difokuskan pada penguatan sektor pertanian yang memperhatikan aspek kesetaraan gender dan partisipasi kaum perempuan menjadi sangat krusial bukan hanya untuk perekonomian nasional yang lebih inklusif tapi juga pengentasan kemiskinan. 

Terkait hal ini, ketersediaan data yang mencakup aspek sosial-ekonomi sektor pertanian secara holistik dan reguler merupakan sebuah keniscayaan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN