Mohon tunggu...
Sulfiza Ariska
Sulfiza Ariska Mohon Tunggu... Penulis - Penulis lepas dan pecinta literasi

Blog ini merupakan kelanjutan dari blog pada akun kompasiana dengan link: https://www.kompasiana.com/sulfizasangjuara 🙏❤️

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pulangnya Matahari yang Hilang

24 Agustus 2021   13:07 Diperbarui: 24 Agustus 2021   13:19 79 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pulangnya Matahari yang Hilang
13-6124853806310e6fa87661b2.jpg

Sumber foto: kemenlu.go.id

Setiap hari, 'biting' seruncing dendam di tangan Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya, meliuk-liuk seperti penari 'baris' . Mata alat jahit itu menjalin daun-daun dan bunga-bunga keramat. Begitu tangkas dan buas. Dalam waktu singkat, beragam perlengkapan upacaramulai dari 'canang', 'porosan', 'kwangen', 'asjuman', 'tipat kelanan', 'peras', 'daksina', 'segehan', hingga 'pejati'*tercipta di pangkuannya. Hasil 'mejejehitan'  itu bisa awet berhari-hari, sempurna, dan tersebar luas ke seluruh pelosok Bali.

Bagi Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya, mejejahitan tidak sekadar menjahit janur beserta bunga-bunga keramat, sehingga menghasilkan beragam perlengkapan upacara berbentuk kurva dan persegi. Tetapi, ia menjadikan mejejahitan sebagai sebuah upacara suci. Setiap bulan purnama dan 'bulan tilem' , ia senantiasa menghaturkan sesajen di 'sanggah pemerajan'. Agar para dewa menggerakkan tangannya untuk mejejehitan. Tidak mengherankan, kebutaan belum bisa mengikis keahliannya itu.

Namun, siang ini, 'biting'  tiba-tiba menyerang Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya. Tidak hanya sekali, mata alat jahit itu melubangi tangannya berkali-kali. Darah bangsawan yang mengaliri sungai-sungai dalam tubuhnya, menyerbu bumi dan setumpuk canang.

'Hyang Jagad'! jerit Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya sekuat tenaga. Tetapi, suara terperangkap di pita suaranya. Tidak ada jeritan yang terdengar. Bahkan, bisikan sehalus benang sutra pun, tidak tergelincir dari lidahnya. Lehernya seolah dicekik mantra pencabut nyawa.

***

Seumur hidup, baru siang ini tangan Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya terluka saat 'majejahitan'. Fokusnya buyar bagai serpih-serpih embun yang pecah. Hal ini disebabkan aroma bangsawan yang terbang dari halaman griya dan mendekapnya erat-erat. Membuat nafasnya sesak. Jauh di dalam hati, Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya menduga, aroma itu mengalahkan keharuman seluruh bunga kamboja yang mekar serentak di seluruh penjuru bumi.

Bersama angin yang terus berhembus mesra, aroma bangsawan tersebut perlahan-lahan mendekati Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya. Membuat perempuan buta itu merasa semakin kerdil. Telah ribuan bangsawan yang dijumpai Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya. Tetapi, aroma bangsawan yang mendekatinya, jauh lebih wangi dan perkasa. Ia merasa seolah-olah didatangi seorang 'Nareswari'.

Perlahan-lahan, sepasang tangan yang kokoh, meraih telapak tangan Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya yang dilubangi 'biting'. Meskipun tidak bisa melihat, Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya merasa sangat terhormat. Penderitaan dan perasaan terhina yang dipikulnya selama buta, terasa terangkat semuanya.

"Siapa 'Ratu'?" tanya Ida Ayu Telaga Dharmmawijaya setelah lubang-lubang di telapak tangannya dibalut dengan kain dan nyerinya berkurang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan