Keamanan

Aksi Kekerasan "Goliat Tabuni" Kelompok Kriminal Bersenjata di Puncak Jaya

27 September 2018   17:23 Diperbarui: 27 September 2018   17:35 199 0 0

Kekerasan bersenjata yang pernah dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua masih saja terus terjadi tidak hanya aparat keamanan Polri/TNI yang menjadi korban, bahkan masyarakat pun sering menjadi korban seperti orang yang mempunyai keahlian tertentu diantaranya  tenaga pengajar juga tak luput menjadi korban.

Kejadian menimpa Akius, Guru SD Dondo Distrik Yamo Kab. Puncak Jaya ini menderita luka tembak pada tulang belakang, luka tembak pada pergelangan kaki kanan dan patah tulang belakang pada Oktober tahun lalu ketika pulang selesai mengajar di sekolah.

Tak pernah terbesit dalam benak Akius Wonda bahwa mengajar, membimbing anak anak generasi penerus bangsa dirasa mengganggu kelompok Goliat Tabuni, hari hari dilalui dengan ikhlas sebagai tenaga pengajar di pedalaman yang tak semua tenaga pengajar bersedia ditempatkan di wilayah itu.

Kejadian inipun terulang dalam bulan yang sama dengan kejadian pembakaran Kantor Distrik Tingginambut, Balai Desa dan kamp PT Modern di Kampung  Kolome serta pemalangan jalan dan pemutusan jembatan yang menghubungkan Kota Mulia dan Ilu, di Desa Kolome Distrik Tingginambut Kab. Puncak Jaya lagi lagi kejadian ini dibawah pimpinan kelompok dan area kekuasaan Goliat tabuni yang merasa terganggu dengan upaya memajukan wilayah distrik Tingginambut.

 

Tidak hanya melakukan pembakaran, menurut data aparat keamanan setempat, kelompok Goliat Tabuni pun melakukan  penembakan di Kampung Gurage Distrik Tingginambut  terhadap 5 unit mobil milik PT. Modern Group yang sedang membawa logistik  dari Wamena menuju  Mulia, yang mengakibatkan  5 orang masyarakat sipil meninggal dunia.

Tidak sampai satu minggu kejadian kelam berlalu, kelompok Goliat Tabuni melakukan pembakaran terhadap 6 buah honai masyarakat di kampung Yukum Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya serta  melakukan penganiayaan terhadap warga dan  pemerkosaan    di Kampung Birime.

Dua bulan berlalu kejadian pembakaran, penganiayaan dan pemerkosaan di kampung Birime, Kelompok Goliat Tabuni kembali melakukan pembakaran 2 unit Sekolah Dasar (SD Inpres Wurudigime dan SD Inpres Aulagme) di Distrik Illu.

Kedua sekolah itu merupakan sekolah yang menjadi tempat generasi harapan Papua menimba ilmu pengetahuan, harapan anak anak untuk mendapat pendidikan formal di Distrik lllu pun sirna,  sungguh ironis.

Kelompok Goliat Tabuni kembali melakukan penganiayaan terhadap masyarakat sipil di Kampung Kalome Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya. Kejadian tersebut menyebabkan seorang warga bernama Sola mengalami luka bacok pada tengkuk/leher bagian belakang sepanjang 9 cm dengan kedalaman 2 cm.

Pembunuhan yang  baru-baru saja terjadi adalah penyerangan terhadap dua orang angggota TNI dari  Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan yang sedang mengawal pendistribusian makanan  untuk  anak-anak di Tingginabut  pada hari Minggu , yang mana pada hari Minggu merupakan hari besar bagi umat Kristiani melaksanakan ibadah. Ini menunjukan bahwa aksi-aksi brutal kelompok KKB tidak mengenal waktu  dan tempat

Kedua Anggota TNI tersebut ditembak dan dipanah oleh kelompok bersenjata pimpian Goliat Tabuni di Distrik Tingginabut ketika bertugas menciptakan rasa aman kepada masyarakat di wilayah Papua.

Tanah Papua butuh rasa aman untuk menjamin kelancaran pembangunan. Semua elemen masyarakat Indonesia khususnya masyarakat di Papua harus selalu bersatu padu membantu proses pembangunan di Papua. Abaikan kepentingan perorangan maupun kelompok,   yang ingin  mencari keuntungan dibalik keterbelakangan pembangunan, dengan cara mengacaukan situasi keamanan di Papua yang hanya mengakibatkan kerugian dan ketertinggalan bagi masyarakat Papua.

Pembentukan isu dan opini pelanggaran HAM selalu menjadi senjata andalan apabila aparat keamanan mulai serius, intens melaksanaakan penegakan hukum diwilayah Papua. Para simpatisan, memberikan statemen dengan berbagai dalih untuk membatalkan peneggakkan hukum.

Kemanunggalan antara Polri/TNI dan rakyat Papua semakin kokoh. Mungkin hal ini yang menyebabkan KKB ketakutan dan berusaha memecah belah ikatan antara Polri/TNI dan masyarakat Papua  dengan cara melempar opini menyesatkan dan keji melalui situs-situs web host di luar negeri, dengan memberi informasi HOAX, menyudutkan aparat Polri/TNI kepada masyarakat melalui media sosial, selebaran dan ucapan dari mulut kemulut.

Sudah saatnya aparat keamanan Polri/TNI beserta komponen masyarakat melakukan peneggakan hukum secara tuntas guna menyelesaikan permasalahan kriminal bersenjata di Papua. Tidak ada kata mundur bagi aparat keamanan untuk melaksanakan peneggakkan hukum terhadap kelompok kriminal bersenjata di Papua yang jika dibiarkan akan semakin menjadi jadi.

Rasa khawatir muncul jika adanya dukungan pihak luar negeri yang memanfaatkan kelompok Kriminal bersenjata sebagai jalan untuk mencapai tujuan tertentu. Mari Kita jaga dan kita bangun Papua.....