Mohon tunggu...
Hasan Aspahani
Hasan Aspahani Mohon Tunggu... Jurnalis, Penulis, Penyair.

MM Strategis dari Universitas Prasetiya Mulya. Berkarir di Jawa Pos Grup. Lahir di Sei Raden, Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim, 1971. Menulis novel (a.l. "Persimpangan", Gagasmedia, 2019), nonfiksi (a.l. "Chairil Anwar" sebuah Biografi, Gagasmedia 2016), puisi (a.l. "Aviarium", Gramedia, 2019), story developer (a.l. untuk skenario "Bumi Manusia", Falcon, 2019). Kerjasama hubungi www.kreatorkonten.com.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Daya Hidup: Libatkan Diri, Pedulilah

15 Agustus 2019   17:15 Diperbarui: 15 Agustus 2019   17:15 0 0 0 Mohon Tunggu...
Daya Hidup: Libatkan Diri, Pedulilah
Image by sathyatripodi from Pixabay 

BEBERAPA waktu lalu saya mulai menulis  di Kompasiana  tentang sikap ADIL. Tulisan tersebut dan tulisan ini adalah bagian dari serial tulisan saya tentang "memahami 25 sikap manusia yang utuh dan menjadikannya sebagai daya hidup", apa yang saya niatkan sebagai bayar utang, dan mengembalikan hal-hal baik yang saya dapatkan, sebagai jalan  saya berbagi motivasi dan inspirasi hidup.

Sikap kedua adalah PEDULI. Apakah peduli itu? Kenapa kita harus menjadi manusia yang punya kepedulian?  

Yang mula-mula harus kita sadari adalah selalu ada bagian dari apa yang dimiliki oleh seseorang atau bahkan bagian dari diri seseorang yang dibutuhkan oleh orang lain, diminta atau tidak diminta.

Selalu ada kesempatan bagi kita untuk memberikan bagian dari hak diri kita atau apa yang kita miliki yang diperlukan oleh orang lain.

Selalu ada momentum di mana kita bisa melibatkan diri dalam sebuah peristiwa yang membutuhkan keterlibatan kita.

Kepedulian adalah hal yang membuat kita nyaman mengambil andil untuk melakukan pemberian itu atau mewujudkan keterlibatan kita itu.

Kepada siapa kita harus peduli? Tak usah peduli pada orang yang tak peduli pada kita. Biarkan saja. Kita tak bisa mengatur hati orang lain, bukan? Tapi pedulilah pada orang yang tak memperdulikan orang lain demi mewujudkan kepeduliannya pada kita.  

Peduli adalah energi. Peduli adalah tenaga yang menggerakkan kita dari dalam. Peduli adalah cahaya dari dalam hati yang memancar sebagai perilaku dan perbuatan kita. Cahaya yang menerangi orang lain dan membuat diri kita juga bercahaya. Cahaya kebaikan yang menerangi dunia kecil kita. 

Saya hidup dengan limpahan banyak kepedulian orang lain pada saya. Di waktu SMA saya dibebaskan sewa kamar oleh seorang ibu yang kemudian bahkan mengangkat saya sebagai anaknya. 

Ketika saya tak sempat mengejar pendaftaran undangan masuk kuliah di Bogor, karena saya tak dapat tiket kapal, ada seorang baik yang membelikan tiket pesawat untuk saya.

Saya kenal banyak orang baik yang punya kepedulian yang mudah sekali menggerakkan dirinya menolong orang lain. Saya menulis ini untuk mereka. Saya menulis ini sebagai catatan pelajaran yang saya dapatkan dari mereka.  

Baca tulisan lain:

- Daya Hidup: Sikap dan Perilaku Adil.



 
 


KONTEN MENARIK LAINNYA
x