Mohon tunggu...
Sulaiman Achmad
Sulaiman Achmad Mohon Tunggu... Mengabarkan yang fakta dan aktual

Percaya diri dan berjiwa petualang. Berani mencoba hal baru.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Jurnalis dan Tenaga Medis di Tengah Wabah Covid-19

1 April 2020   19:59 Diperbarui: 1 April 2020   20:23 39 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh Sulaiman Achmad

Jurnalis atau wartawan menjadi salah satu profesi yang berada di tengah wabah Corona atau COVID19, selain para petugas medis di garda terdepan.

Memang, petugas medis menjadi salah satu petugas garda terdepan ditengah wabah. Petugas medis itu bisa jadi perawat, bidan ataupun dokter. Mereka yang selalu bersentuhan langsung dengan pasien.

Tak jarang, banyak kasus petugas medis yang dinyatakan positif COVID19. Potensi penularan itu sangat besar terhadap mereka. Apalagi, secara kontak fisik mereka yang langsung bersentuhan dengan pasien.

Rumah sakit menjadi salah satu sarana yang tidak boleh tutup, meski suatu kota sedang mewabah virus ataupun lockdown. Karena disana, semua orang ditangani secara medis untuk sembuh. Bayangkan, bagaimana sebuah kota diserang virus, kemudian banyak rumah sakit tutup. Maka dapat dipastikan berbagai korban akan berjatuhan.

Sejak awal, para petugas medis sudah disumpah untuk melayani kepentingan pasien dari kepentingan apapun. Namun, petugas medis tetaplah seorang manusia yang memiliki keluarga dan kebutuhan manusiawi.

Mereka juga butuh waktu bersama anak dan keluarga, mereka butuh istirahat, mereka butuh vitamin dan mereka juga butuh perhatian dari masyarakat. Perhatian dari masyarakat dimaksud adalah dengan tidak keluar rumah, guna memutus rantai penyebaran virus yang sedang mewabah. Dengan itu, tugas para petugas medis akan semakin berkurang dan virus bisa mereda.

Lalu, bagaimana dengan jurnalis. Seorang jurnalis juga memiliki mobilitas tinggi. Wartawan harus ke lokasi, untuk mendapatkan berita. Meski saat ini jaman sudah canggih, narasumber dapat dihubungi untuk wawancara. Namun, jurnalis harus tetap memperoleh photo.

Apalagi, dijaman saat ini. Semua berita selalu tampil di media online, otomatis photo dan berita harus eksklusif. Jurnalis harus berkejar dengan jurnalis lain untuk mendapat informasi terkini dan mendahulukan tampil di media mereka masing-masing. Semakin eksklusif, maka semakin banyak pembaca di media online mereka.

Saling berbagi info sesama jurnalis, sudah biasa di lapangan. Biasanya mereka berkumpul di sebuah cafe atau warung kopi untuk saling bertukar informasi. Lalu, dengan sigap dan cepat mereka menuju lokasi sumber berita.

Potensi tertular, juga sangat besar kepada para pemburu berita ini. Jurnalis selalu berbaur dengan rekan sejawat bahkan orang lain yang menjadi sumber berita. Termasuk, jika seorang pasien positif Corona meninggal dunia dan dimakamkan, jurnalis harus ke lokasi untuk melakukan peliputan.

Padahal, disaat proses pemakaman, pasien positif tersebut dikuburkan oleh petugas tanpa pelayat dan keluarga yang mendampingi. Tapi jurnalis malah ke lokasi untuk meliput.

Alat Pelindung Diri (APD) juga sangat diperlukan, namun untuk menggunakannya sangat repot dan untuk memperolehnya juga susah. Jurnalis memiliki mobilitas tinggi, biasanya menggunakan sepeda motor kesana kemari. Menggunakan APD sangatlah sulit, mobilitas terbatas.

Bahkan banyak jurnalis media nasional sekalipun tidak dilengkapi APD. Lalu, bagaimana jaminan keselamatan jurnalis?. Berbagai organisasi profesi jurnalis sudah mengeluarkan panduan keselamatan peliputan, salah satunya menjaga kebersihan dengan sesering mungkin mencuci tangan pakai sabun dan selalu membawa hand sanitizer.

Lantas, bagaimana jika sebuah negara berstatus lockdown. Apakah jurnalis dan tenaga medis ikut lockdown? Tentu tidak, petugas medis harus tetap bekerja. Jurnalis juga harus terus melaporkan perkembangan di lapangan untuk berita yang dibaca oleh masyarakat.

Bayangkan, bagaimana jika jurnalis ikut stay at home, maka bisa jadi di internet, televisi maupun radio tidak ada sama sekali berita yang muncul. Jurnalis sendiri memiliki filosofi, "Jika kiamat sekalipun terjadi, jurnalis akan tetap bekerja meliput."

Lalu, bagaimana jaminan sosial terhadap kedua profesi diatas. Kedua profesi itu sangat rentan tertular dan menularkan. Namun, bagaimana jaminan sosial terhadap mereka khususnya dari negara.

Pak Presiden, jurnalis dan tenaga medis perlu lebih diperhatikan lagi jaminan sosial mereka. Mereka hanya manusia biasa yang memiliki keluarga dan kebutuhan hidup. Pak Presiden bisa memberikan stimulus khusus ataupun jaminan sosial dalam bentuk lain terhadap kedua profesi ini.***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x