Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bandung 1965, Konferensi Islam Afrika Asia 6-14 Maret

15 Desember 2019   17:25 Diperbarui: 15 Desember 2019   17:30 32 1 0 Mohon Tunggu...
Bandung 1965, Konferensi Islam Afrika Asia 6-14 Maret
Pemberitaan KIAA di Pikiran Rakjat-Foto: Repro Audiovisual Perpusnas.

Sejak Januari hingga awal Maret 1965  pemerintah kotapraja Bandung melakukan perbaikan jalan hingga membersihkan sejumlah ruas jalan protokol.  Selain dalam memperingati ulang tahun ke 10 Konferensi Asia Afrika,  Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Islam Afrika Asia (KIAA).   Bahkan Presiden Sukarno dalam amanatnya di depan para insinyur Indonesia di istana negara pada 10 Februari mengungkapkan, bahwa jalan raya yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Bandung diperbaiki dan disediakan dana Rp12 miliar (1)

Terinspirasi oleh keberhasilan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika 18-24 April 1955, dukungan pun mengalir hingga kalangan mahasiswa.  Aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Bandung dalam tulisannya meminta Kotapraja Bandung menggerakan warga kota memberikan jalan di depan rumahnya sendiri hingga selokan.

Nama Konferensi Islam Afrika Asia ini juga menjadi tanda tanya dari nama awal Konferensi Islam Asia-Afrika.  Sejarawan Universitas Padjadjaran Ahmad Mansyur Suryanegara menduga sebagai strategi untuk mendapatkan dukungan dari negara-negara Afrika, sekaligus sebagai persiapan ulang tahun ke 10 KAA yang akan digelar di Alajazair (2)

Digelarnya KIAA ini pasca keluarnya Indonesia dari PBB dan memuncaknya konfrontasi dengan Malaysia  merupakan anomali sendiri, mengingatkan Malaysia termasuk negara yang penduduk muslimnya cukup banyak. Malaysia sendiri justru tidak diundang.

Uniknya Republik Rakyat China hadir dalam KIAA yang digelar pada 6 hingga 14 Maret 1965 di Gedung Merdeka Bandung ini,  sekalipun negara itu juga mempunyai penduduk muslim dari Suku Hui. Namun juga hadir dalam KIAA delegasi Palestina dan Negara Kesatuan Kalimantan Utara yang dipimpinan Kolonel Ahmad Ismiran. Dua negara yang oleh PBB belum diakui.

Bisa jadi strategi Sukarno untuk menggalang dukungan dalam politik New Merging Forces (Nefos)-nya sekaligus terus menularkan semangat anti neo kolonialisme lebih luas lagi. Surkano mencari dukungan dari negara-negara berpenduduk muslim dari kedua negara itu. 

Jennifer Lindsay dalam bukunya mengungkapkan penyelenggaraan KIAA ini  sebagai "iritasi" Islam di Indonesia untuk mengimbangi dominasi komunisme dalam kebijakan luar negeri  dalam hubungan dengan negara Asia dan Afrika. Pada masa Demokrasi terpimpin Sukarno menjalan kebijakan Nasakom (Nasionalis Agama dan Komunis).   Keberadaan KIAA juga komitmen Sukarno dari sisi Islamnya terhadap Nasakom (3)

Itu sebabnya beberapa isu yang tadinya akan dibicarakan dalam KIAA diputuskan tidak akan dibahas. Di antaranya soal khilafiyah yang dikhawatirkan akan menimbulkan pertentangan di antara para delegasi, bahkan mungkin juga di kalangan delegasi Indonesia sendiri. Hal itu dinyatakan Wakil Sekretaris Jendral Koordinasi KIAA H Djafar Zainuddin di Masjid Krekot Jakarta (4).

Sebanyak 107 delegasi dari 33 negara  dan 8 peninjau mengikuti KIAA.  Dari tuan rumah Indonesia hadir KH Idham Chalid dan H. Achmad  Sjaichu (NU),  Arudji Kartawinata dan Harsono Tjokroaminoto (PSII), KH Siradjudin Abbas (Perti) K. H. A Badawi  dan Prof K. H Farid Ma'ruf (Muhammadyah) dan perwakilan lintas organisasi Islam Indonesia lainnya.

Dalam pidato pembukaannya di Gedung Merdeka pada 6 Maret 1965, Sukarno mengatakan hanya dengan kekuatan dan persatuan yang tangguh, hanya dengan rakyat Asia Afrika yang besatu kukuh, maka agama Islam akan berkumandang ke seluruh dunia. 

Suakrno mengumandangkan ajakannya kepada umat Islam di negara Asia dan Afrika bekerja sama menyusun kekuatan yang kompak serta militan untuk mewujudkan cita-cita bersama di dalam menghancurkan kolonialisme dan imprealisme.Sukarno mengharapan kepada negara-negara yang mengirim wakilnya dalam KIAA agar memakai dasar-sadar yang tercantum dalam Pancasila terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa (5).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x