irvan sjafari
irvan sjafari Jurnalis

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Sosial Pilihan

Perpustakaan Nasional untuk Edukasi, Rekreasi, dan Sosialisasi

17 Mei 2018   17:51 Diperbarui: 17 Mei 2018   18:11 578 2 1
Perpustakaan Nasional untuk Edukasi, Rekreasi, dan Sosialisasi
Perpustakaan Nasional (Foto: Travel.kompas.com).

Kalau tidak sengaja baca tulisan Kompasianer bernama Dora Melisa , saya tidak "ngeh" pada 17 Mei 2018 ini genap sudah Perpustakaan Nasional RI berusia 38 tahun. 

Padahal sejak 1990-an saya sudah menjadi anggota perpustakaan dan berupaya menyediakan waktu untuk berkunjung sesibuk apa pun pekerjaan. Saya sampai mencantumkan hobi di CV yang saya kirim untuk melamar pekerjaan: Movie (menonton film), Travelling (wisata) dan Library (bertandang ke perpustakaan).

Pada masa itu letak Perpustakaan Nasional di Salemba benar-benar menyenangkan bagi saya ketika punya waktu sehabis suntuk dengan pekerjaan. Kebetulan saya juga suka ke Pusat Kebudayaan Prancis yang waktu itu juga di Salemba untuk kursus atau nonton film Prancis, juga mengunjungi perpustakaannya. Ketika Pernas tutup, saya lanjutkan membacanya ke CCF yang tutup lebih sampai tujuh malam. Tinggal jalan, menyeberang lewat jembatan.

Perpustakaan punya tiga fungsi untuk saya. Pertama untuk edukasi, mulai kebutuhan kuliah saya di Jurusan Sejarah UI waktu itu, kemudian dilanjutkan untuk keperluan pekerjaan sebagai jurnalis untuk mencari bahan untuk tulisan tertentu hingga sekarang.

Termasuk juga untuk keperluan menulis di blog Kompasiana ini, yang tujuannya agar ilmu yang didapat waktu kuliah dulu tidak hilang dan tetap bisa menjadi sejarawan walau tidak secanggih para dosen dan peneliti. Tepatnya: jadi sejarawan amatir J, "public history," cetus seorang kawan saya.

Kalau lagi mood untuk meneliti, saya tidak saja ke Lantai 3 (ruangan untuk buku umum), tetapi juga lantai satu (koran mutakhir), lantai 4 (audiovisual atau koran lama microfilm), Lantai 7 (majalah langka) dan lantai 8 (koran tua).

Petugasnya sampai hafal muka saya. Sayang ketika pindah ke Merdeka Selatan majalah langka masih belum buka, saya hanya di Lantai 8 (microfilm) untuk melanjutkan penelusuran soal sejarah kota Bandung yang rutin saya tulis.

Hebatnya lantai 8 itu disediakan bioskop mini bagi yang menonton film, namun belum saya coba karena waktu saya kian terbatas. CCF juga punya koleksi film Prancis,kadang Iran, Vietnam. Biasanya saya pinjam film bawa pulang dari CCF di mana saya jadi anggotanya. Nyambung dengan hobi saya lain menonton film.

Menjadikan film (bermutu tentunya) sebagai bagian perpustakaan inovasi dari Perpustakaan Nasional agar masyarakat, khususnya kaum muda suka ke perpustakaan. Saya sering lihat keluarga muda wara-wiri di sini. Tinggal tunggu waktunya saja koleksi filmnya mencapai ribuan dan kalau perlu film jadul yang diproduksi Indonesia, sudah direstorasi bisa ditonton dan juga koleksi film mancamegara.

Eksplorasi perpustakaan ini memberikan fungsi kedua bagi saya Fun (untuk rekreasi), sebetulnya juga mengasingkan diri ketika bte (saya sengaja gunakan bahasa gaul), semakin beragam perpustakaan semakin menyenangkan. Letih baca buku atau koran lama, ya, nonton film atau kalau koleksi audio untuk kaset juga komplit dengarkan lagi. "One Stop Shopping" ala literasi menurut saya.

Uuhh.. seandainya perpustakaan nasional bisa buka sampai malam, saya bisa betah di dalamnya. Toh, kantin ada, musala ada, toilet bagus, tinggal matiin hape deh...Kalau tidak mau diganggu oleh orang luar.

Walau pun enak untuk tempat menyendiri, bukan berarti perpustakaan tidak punya fungsi lain, fungsi ketiga yaitu sosialisasi. Waktu di Salemba, saya hafal kalau ke lantai tiga kebanyakan orang-orang yang terpaksa ke perpustakaan, kalau tidak tugas sekolah, ya tugas kuliah. Tetapi kalau sudah ke lantai 4, 5, 7 dan 8 itu peneliti serius. Biasanya pengunjung di lantai 4, 7, dan 8 enak diajak diskusi. 

Kalau pengunjung lantai tiga,kebanyakan tidak baca bro, tetapi fotokopi. Kalau saya lebih suka mencatat, karena kalau fotokopi suka menunda bacanya dan bikin kamar penuh. Bagi saya fotokopi bikin orang jadi pemalas. Saya hanya fotokopi kalau waktunya terbatas dan referensi itu perlu. 

Ketahuan tidak pernah atau jarang ke perpustakaan, ketika mencari buku saja tidak tahu caranya. Kerap saya bantu cari kata kuncinya dan kalau ada biasanya ditemukan.

Tentu saya jadi banyak kenalan di perpustakaan. Apalagi di lantai 4, 7 dan 8, biasanya sesama jurusan sejarah atau peneliti.

Sayangnya Perpustakaan Nasional di Merdeka Selatan belum berjalan sempurna. Memang ada tempat diskusi, tetapi kalau semua lantai lengkap saya kira sudah jadi "mal literasi" yang menakjubkan. Pertanyaannya apakah berani buka sampai larut malam? Kalau saya nonton berapa film luar negeri ada perpustakaan buka sampai tengah malam (mungkin 24 jam).

"Kita kekurangan tenaga buka sampai malam. Selain itu ada yang menggunakannya untuk pacaran di tangga," keluh seorang petugas. Tangga di sini untuk naik turun lantai kalau tidak menggunakan lift.

Itu juga jadi pertanyaan kedua saya berapa banyak jenis manusia spesies "homo literalicus libralicus" (istilah saya ngasal bagi orang yang suka ke perpustakaan), tidak usah di Indonesia, tetapi di Jakarta ini sehingga bisa dibuka sampai jam 21.00 misalnya?

Kalau di Bandung bertebaran perpustakaan alternatif menandakan spesies jenis ini banyak, kota yang menurut prediksi saya suatu ketika akan mengalahkan Jakarta.

Misalnya di sana ada perpustakaan Batu Api di kawasan Jatinangor, yang tidak sempat saya kunjungi. Semangat literasi di kalangan orang Bandung terbilang tinggi, sayang perpustakaan daerahnya tidak strategis dan koleksinya tidak komplit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2