irvan sjafari
irvan sjafari Jurnalis

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

[Review] "Rampage", Kisah Dampak Rekayasa Genetika

16 April 2018   22:36 Diperbarui: 16 April 2018   22:50 712 0 0
[Review] "Rampage", Kisah Dampak Rekayasa Genetika
Adegan dalam Ramapge (Kredit foto: www.tabloidbintang.com).

Seekor gorila albino kecil meringkuk dengan ketakutan di bawah kolong mobil. Dia menyaksikan ibunya dibantai oleh pemburu liar dengan keji. Saya kemudian menyelamatkannya. Para pemburu menembak saya, tetapi meleset.  

Davis Okoye (Dwayne Johnson) menceritakan pertemuannya dengan gorila yang kini bernama George di sebuah tempat di Afrika, sewaktu aktif di militer. Kini Davis adalah ahli primata, tepatnya pelatih gorila di sebuah pusat perawatan binatang Chicago.

Di tangan Davis, George menjadi seorang "sahabat".  Dengan bahasa isyarat, termasuk menggunakan tinju tanda pengertian, Davis mampu membuat George ketika dia jadi gundah. Cerita Davis tentang George kepada  Dr Kate Caldwell (Naomie Harris), pesan penting dalam film ini bahwa homo sapiensalias manusia berada di puncak rantai makanan, kerap menjadi spesies paling keji di muka bumi.

Hewan sebuas apa pun hanya membunuh untuk makan atau mempertahankan diri. Tetapi manusia membunuh untuk kesenangan atau hal-hal yang sebetulnya bukan substansi kehidupannya.  Manusia dianugerahi akal dan pikiran, tetapi sering menyalahgunakannya, untuk membuat bencana di muka bumi.

Cerita beralih ilmuwan Claire Wyden (Malin Akera) bersama saudaranya Bret Widen (Jake Lecy) memiliki sebuah perusahaan rekayasa genetika. Eksperimen mereka menggabungkan DNA dari berapa spesies yang mampu membuat hewan yang jadi obyek bukan saja menjadi besar, tetapi juga lebih perkasa, seperti menyembuhkan luka dalam waktu cepat.

Sebuah kecelakaan di luar angkasa, menyebabkan tabung berisi cairan hasil eksperimen itu jatuh ke hutan di sekitar pusat perawatan binatang Chicago. Akibatnya, George tumbuh cepat jadi raksasa membunuh beruang grizlly, spesies pembunuh terkuat di muka bumi.  Mulanya Davis bisa menjinakkan.

Persoalan lain suatu institusi di pemerintah membawa George demi penyelidikan. Di sisi lain cairan berisi hasil rekayasa genetika membuat seekor serigala dan buaya menjadi besar. Masalah menjadi besar karena Claire memanggil ketiga hewan itu melalui gelombang radio untuk datang ke Chicago. Dia tidak menduga bencana yang akan ditimbulkannya.

Davis dan Kate, yang pernah bekerja di perusahaan Claire bekerja sama menghentikan ketiga hewan raksasa itu. Mulanya para pejabat pemerintah dan militer tidak mau mendukung mereka. Kecuali Harvey Russel (Jeffrey Dean Morgan), yang menyadari bahaya akan terjadi. 

Rampage menurut saya bisa dikategorikan sebagai fiksi ilmiah dengan dasar ilmu biologi. Film ini satu kelompok dengan Jurassic Park, Island of Dr Monroe yang juga terinspirasi dari genetika.  Kalau soal binatang raksasa mengamuk di kota bukan hal yang baru, Kingkong dan Godzilla sudah lebih dahulu, bahkan sejak puluhan tahun lalu. 

Tentu saja dari segi teknologi, di antaranya CGI jauh lebih baik dan menjadi kelebihan yang disutradarai oleh Steven S DeKinght ini.  Bagi mereka menyukai film dengan teknologi efek, Rampagecukup pas, bagaimana buaya raksasa memanjat gedung jangkung berlomba bersama serigala menyuguhkan sinematografi yang baik.

Beberapa adegan cukup menyeramkan dan sadis. Misalnya adegan, bagaimana serigala membantai satu regu tentara bayaran, mengingatkan saya pada sekelompok  raptor menyergap tentara tanpa rasa takut. Sekali lagi manusia bisa saja melakukan rekayasa, tetapi dia tidak bisa mengalahkan hukum alam.

Masih ada beberapa adegan lain yang mengerikan membuat Rampage tidak cocok untuk penonton anak-anak.   Terutama beberapa adegan pamungkas,  seperti nasib yang diterima para tokoh antagonis, evil must pay (kejahatan harus membayar).  Dalam Jurrasic Park juga begitu.

Film ini juga masih menampilkan hero Hollywood yang kerap berulang. Tidak terlalu beda karakter yang diperankan Dwayne Johnson dalam San Andreas (2015).  Endingnya pun nyaris sebangun di tengah kota yang hancur, hanya beda tokoh sekitarnya.  Sosok sang jagon berantakan keadaanya, tetapi lega.

Di luar sinematografi yang memang luar biasa, tidak terlalu banyak kelebihan lain. Karakter para tokohnya biasa saja lazimnya pada kebanyakan film Hollywood bergenre ini.  Pimpinan militer tetap digambarkan kaku dan arogan. Pejabat pemerintah sok tahu, ada tokoh antagonis yang ambisius, terutama dari kalangan koorporasi. 

Di antara film bergenre fiksi ilmiah dengan dasar ilmu biologi, sosok binatang raksasa belum merupakan kiamat yang sesungguhnya yang bisa diciptakan manusia dengan rekayasa. Dalam Rampage atau Jurrasic Park, walau kewalahan, manusia tidak terancam eksistensinya.  Begitu juga dalam Kingkong dan Godzilla, manusia tetap menjadi pemenang.

Dalam Planet of The Apes sebaliknya ulah manusia bereksperimen pada kera, mencari jalan menyembuhan alzheimer berakibat membalikan keadaan dalam rantai makanan. Sebagai cerita jauh lebih mencekam karena mengancam eksistensi manusia.   

Tetapi yang paling berkesan dan mencekam  bagi saya sebagai fiksi ilmiah dengan dasar ilmu biologi, ialah Twelve Monkeys, ketika manusia berksperimen dengan virus.  Film ini memberi isyarat bahwa bisa saja kiamat mendatang diakibatkan oleh virus, yang mampu bermutasi hingga tidak bisa ditanggulangi dan mengakhiri eksistensi manusia.

Irvan Syafari