irvan sjafari
irvan sjafari Jurnalis

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Bandung: "Kota Lama" yang Tersembunyi

24 April 2013   12:38 Diperbarui: 24 Juni 2015   14:41 146 2 8
Bandung: "Kota Lama" yang Tersembunyi
13667814051191061784

[caption id="attachment_256866" align="aligncenter" width="300" caption="Panti Karya pada 2010 (Foto dokumen pribadi)"][/caption]

Bandung adalah kota tercinta bagi saya.Sekalipun saya tidak menetap di kota itu,kota itu memberikan kenang-kenangan manis terutama sewaktu saya masih kanak-kanak dan remaja sekitar 1970 hingga 1980-an karena kerap diajak berlibur oleh orangtua saya. Masa itu,sebagian kerabat dari ibu menetap diBandung, hingga saya menginap di beberapa rumah. Selama di Bandung ada sejumlah bangunan yang memberikan kenangan.

Di antaranya Jalan Merdeka Bandung. Di depan Bandung Indah Plaza masih tampak sisa gedung Panti Karya di belakang bangunan Dunkin Donut  yang pelapis temboknya yang berwarna hitam abu-abu sudah terkelupas hingga terlihat batanya. Sebagian lagi temboknya sudah rubuh.  Gedung yang mempunyai ciri khas mempunyai menara tinggi itu sudah compang-camping, dekil, muram dan seram.

Saya teringat masa kecil saya yang kerap menonton bioskop yang terletak di lantai dasar gedung ini pada 1970-an.  Pada lantai dua ada perkantoran sementara pada lantai tiga dan empat dipakai oleh sebuah akademi akutansi, sementara di bagian atasnya dipakai sebuah stasiun radio.  Bioskop ini mempunyai  balkonyang mampu menampung sekitar 200 kursi penonton.

[caption id="attachment_256867" align="aligncenter" width="300" caption="Panti Karya Tempo Dulu (kredit foto Bandung Heritage)"]

13667814711831105669
13667814711831105669
[/caption]

Di kanan koridor bioskop seingat saya di tempel gambar-gambar adegan film yang diputar dan akan diputar. Waktu kecil saya dan adik saya menonton bersama seorang bibi saya. Di antara film yang paling berkesan ialah Last Voyage, tentang sebuah kapal yang tenggelam karena ledakan di kamar mesin. Film itu sebetulnya produksi 1960, namunmasih diputar di Indonesia 1970-an. Saya masih ingat adegan ketika seorang perempuan terjepit di kabinnya tertimpa cerobong asap, suaminya dan anaknya yang masih kecil kalau nggak salah bernama Jill setia menunggunyadan untuk menyelamatkan dilas pada saat terakhir kapal hendak ditelan laut.

Panti Karya seingat saya masih beroperasi -setidaknya masih mengiklankan filmnya di Pikiran Rakyat pada 1980-an. Gedung ini mempunyai ciri khas mempunyai menara seperti Airport merupakan karya arsitek pasca kemerdekaan yang cukup terkemuka.  Gedung ini didirikan pada 1956 sebagai bangunan perkantoran Badan Sosial Pusat (BSP) salah satu organisasi anak perusahaan Jawatan kereta Api yang bergerak dalam bidang kesejaterahan Pegawai PJKA. Peresmiaan dilakukan Menteri Muda Perburuhan Ahem Amingpradja yang mewakili Perdana Menteri Djuanda.

Panti Karya bukan satu-satunya tempat yang terlintas di benak saya. DiJalan Cicendo ada bekas bangunan bengkel mobil, yang kini tinggal sebagian. Bangunan itu terletak di depan Pabrik Kina, yang juga bangunan bersejarah. Pada 1954 sebuah iklan yang dimuat dalam harian Pikiran Rakjat menyebutkan bangunan itu milik NV Damai yang bergerak di bidang jasa servis dan resparasi mobil. Segala jenis mobil mulai dari sedan hingga truk dilayani.Seingat saya kerap melintas di sana bangunan ini masih utuh pada 1970-an. Bentuk bangunannya yang bulat di bagian depan begitu unik.Kini di sebelahnya sudah menjadi sebuah showroom mobil.

Pada Selasa 23 April yang lalu saya melintas di jalan ini seperti masa lalu menjelajah Bandung dengan jalan kakike arah Cihampelas sehabismenghadiri sebuah diskusi berkaitan dengan peringatan Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka (yang juga bangunan bersejarah, bekas Gedung Societet Concordia).Pada waktu berusia belasan tahun saya suka berjalan kaki dari Cicendo ke Jalan Merdeka. Kebiasaan yang kerap saya masih lakukan kalau main ke Bandung.

[caption id="attachment_256868" align="aligncenter" width="300" caption="Sebagian bekas bangunan gedung 1950-an di Jalan Cicendo (Kredit foto dokumen pribadi pada 2012)"]

13667815511846044066
13667815511846044066
[/caption]

[caption id="attachment_256869" align="aligncenter" width="300" caption="iklan NV Damai di Pikiran Rakjat pada 1954 (kredit foto Pikiran Rakjat)"]

1366781678853281660
1366781678853281660
[/caption]

Pada 2010 saya pernah menulis Bandung Kota Lama yang Tersembunyi untuk Majalah Dewan.Saya mewawancarai Ketua Bandung Heritage Harastoeti, yang menyebutkan bahwa Bandung sebetulnya adalah laboratorium arsitektur.  Namun itu dulu sampai akhir 1980-an  sebelum banyak pembongkaran.

“Para arsitektur dari luar negeri sampai tercengang bahwa kota Bandung  kaya dengan  ragam bangunan,” ujar peraih doktor di bidang arsitektur konsrevasi dari ITB Bandung ini.  Tutur Harastoeti disebut kaya karena mewakili berbagai kebudayaan. Di antaranya yang masih utuh adalah Gedung Pakuan (yang kini menjadi Rumah Gubernur Jawa Barat di Jalan Otto Iskandar Dinata) yang mewakili kebudayaan Indies Empire.

Menurut catatan sejarah Gedung Pakuan didirikan sehubungan dengan perintah Gubernur Jenderal Ch.F. Pahud karena pemindahan ibukota Karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Tetapi pemindahan ibukota karesidenan itu baru dapat dilaksanakan oleh Residen Van der Moore pada 1864, setelah Gunung Gede meletus dan menghancurkan Kota Cianjur.  Gedung ini mulai dibangun pada 1864 sampai selesai pembangunannya pada tahun 1867.

Cikal bakal Bandung memang berawal dari Jalan raya Pos yang dibangun oleh Daendels yang kini menjadi Jalan Asia-Afrika. Jalan ini adalah bagian jalan Pos Anyer-Panarukan. Itu sebabnya banyak bangunan bersejarah ditemukan di kawasan alun-alun Bandung hingga Jalan Braga. Dari kawasan ini Pemerintah Kolonial mengembangkannya ke kawasan Dago. Di kawasan ini banyak ditemukan Taman-taman kota yang dibangun sejak dulu.

Bangunan bersejarah utuh lainnya yang menjadi ikon kota Bandung antara lain Gedung Sate yang menjadi pusat pemerintahan Kota Bandung, Gedung Sate mulai dibangun 1920-1924 untuk bangunan induk utamanya , arsiteknya Ir.J.Gerber dari Universitas Delf, Belanda. Disebut hedung Sate karena di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Ikon lainnya adalah bangunan yang dulunya Koninkklijk Instituut voor Hoger Technische Onderwijs in Nederlandsche Indie (ITB sekarang). Bagian bangunan bersejarah ini hasil rancangan Maclaine Pont dan dibangun pada 1918. Pendirian universitas ini diikuti rumah-rumah pegawainya yangbeberapa di antaranya masih ada di jalan ganesha ini. Menurut A.Bagoes R.Wiryomartono dalam bukunya Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1995), keberadaan universitas ini merangsang pertumbuhan pemukiman antara Jalan Dago(Jalan H.Juanda),Taman Sari dan Jalan Dipati Ukur.

Bandung Heritage, sebuah lembaga yang didirikan pada 1987 bertujuan untuk memperjuangkan pelestarian bangunan bersejarah di Kota Bandung menginvetralisir sekitar 200 bangunan sampai 2008. Baik yang masih digunakan untuk Gedung Pemerintahan, Hotel, Sekolah, tempat usaha komersial hingga rumah tinggal.

Namun menurut Harstoeti pihaknya sudah melakukan penelusuran dan menemukan sebetulnya terdapat seribu bangunan. Jumlah itu diseleksi lagi menjadi 650. dari jumlah itu dipres lagi menjadi sekitar 250 buah bangunan. Kebanyakan bangunan yang mempunyai nilai sejarah itu memang terletak di daerah strategis hingga sebagian di antaranya dibongkar pemiliknya untuk kepentingan komersial. Sekalipun ada juga pemilik yang berkompromi, menjadikan bangunan sebagai komersial tetapi arsitekturnya  tidak dirubah.

“Di antaranya adalah Factori Outlet Heritage yang terletak di Jalan  R.E. Martadinata (dulunya Jalan Riau),” kata perempuan kelahiran 1944 ini.   Gedung Heritage dibangun antara 1895-1900 dengan gaya arsitektur Belanda klasik dengan kolom doriknya yang khas. Bangunan ini dulunya bekas rumah dinas pejabat Belanda. Bangunan ini antik dan langka. Pilar ioniknya membuat bangunan ini menjadi tampak anggun.

[caption id="attachment_256870" align="aligncenter" width="300" caption="Factory Outlet menggunakan bangunan tua (Kredit foto dokumen pribadi pada 2010)"]

1366781760923270254
1366781760923270254
[/caption]

Bangunan FO Heritage ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang nyaris tersebunyi di antara gegap gempitanya perkembangan usaha Factory Outlet dan resto kafe di Bandung Utara. Di Jalan Martadinata itu juga ada bangunan yang jadi kedai kopi (Daken Kopi). Sebagian lagi bangunan-bangunan yang mempunyai nilai historis di jalan ini masih digunakan oleh pihak milter Indonesia.

Di daerah Dago, fenomena seperti ini tampak pada rumah-rumah penduduk. Di Jalan Juanda misalnya saya melihat beberapa rumah yang dibangun antara tahun 1920-1930 yang masih bertahan. Di antaranya adalah Rumah Prof.dr. R.Koestedjo (Mantan Rektor Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran) pada 1962 di Jalan H. Juanda No.68. Rumah itu sudah ditempatinya bersama keluarganya sejak lebih dari 50 tahun yang lalu dan pemberian seorang Belanda. Ada juga Rumah Dr. Rotinsulu (Jalan Juanda 45). Namun ada juga bangunan yang sudah berubah menjadi tempat usaha seperti Toko Sepatu Donatelo (Jalan H.Juanda 104).

[caption id="attachment_256871" align="aligncenter" width="300" caption="Sebuah rumah tua di Jalan Haji Juanda (Kredit Foto: Dokumen pribadi 2010)"]

1366781830453598101
1366781830453598101
[/caption]

Selain di Jalan Juanda rumah-rumah yang dibangun pada era antara dua Perang dunia tersebar di Cipaganti, Martadinata dan Jalan Aceh dan Jalan Wastu Kencana. Di antara bangunan yang punya arsitektur unik adalah bangunan di Jalan Wastu Kencana No. 43 yang dulunya eks Hotel Van Donk namun kini menjadi rumah tinggal. Kawasan Bandung Utara memang dirancang untuk pemukiman orang Eropa dan segala fasilitasnya. Sementara orang Indonesia ditempatkan di kawasan Bandung Selatan.

Menurut Harastoeti, rumah-rumah ini mula-mula didesain seperti di Belanda masa itu. Namun pada perkembangannya terjadi perubahan karena Indonesia memiliki iklim dan budaya berbeda. Kemudian mereka menyesuaikannya dengan iklim tropis. Itu sebabnya rumah jaman dulu memiliki teras di depan rumahnya biar enak untuk duduk-duduk. Perkarangannya luas dan masa dulunya banyak rumah nyaris tanpa pagar,

Irvan Sjafari