Hukum

Kisah Pengkhianatan Sudrajat Kepada Gus Dur, Ketika Prajurit Menantang Panglima Sendiri

9 Juni 2018   21:57 Diperbarui: 9 Juni 2018   21:55 512 3 3

Bagi warga Nahdhatul Ulama (NU) sosok Calon Gubernur Jawa Barat, Sudrajat, memiliki kesan tersendiri. Pasalnya, dia pernah membuat noktah hitam saat menjalani karir sebagai Jenderal TNI dulu.

Sudrajat disebut pernah mengkhianati Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Padahal, bagi warga NU, sosok Gus Dur tersebut tak hanya sebagai seorang pemimpin organisasi, namun sudah dianggap setara dengan Wali.

Oleh karenanya, pengkhianatan Sudrajat kepada Gus Dur itu setara dengan pengkhianatannya terhadap jamaah NU secara keseluruhan. Dan, itu tidak akan pernah dilupakan oleh para jamaah.

Kisah pengkhianatan Sudrajat itu diawali saat Presiden Gus Dur mencopot Sudrajat dari Kapuspen TNI. Ketika itu, dirinya akan digantikan oleh Marsekal Muda Graito Usodo.

Pergantian Kapuspen TNI ini membuat Sudrajat sangat marah. Ia lalu mengkritik Presiden Gus Dur mengenai pendapatnya bahwa Presiden merupakan penguasa tertinggi AD, AL, AU, dan Kepolisian.

Parahnya, kritikan Sudrajat itu dinyatakan di hadapan publik. Pada saat itu, posisinya sama saja dengan seorang prajurit TNI yang menghina panglima tertinggi di hadapan publik. Itu adalah sebuah pelecehan, sekaligus hilangnya hormat seorang prajurit kepada panglimanya sendiri.

Pernyataan pedas Sudrajat itu mengundang komentar dari sesama Jenderal TNI. Mantan Pangkostrad di masa pemerintahan Gus Dur, Agus Wirahadikusumah, menyebut bahwa Sudrajat itu tidak memahami rambu-rambu profesionalitas tentara. Dalam tataran demokratis, tentara itu tidak bisa mengkritik dan menyalahkan Presidennya.

Selain itu, menurut Agus, Sudrajat itu hanya Kapuspen. Kalau memang ada kritikan, harusnya itu diserahkan saja pada panglima melalui jalur semestinya, bukan diumbar di hadapan publik.

Selama menjadi tentara pun, rekam jejak Sudrajat juga tidak terlalu baik. Ia dikenal sebagai perwira yang bandel karena sering menentang dan berkonflik dengan para petinggi militer lainnya.

Pasca pensiun dari dinas kemiliteran, Sudrajat melanglang buana secara politik. Dia loncat kesana-kemarin demi mendapatkan patron politiknya.

Sebelum bergabung dengan Partai Gerindra saat ini, diketahui bahwa Sudrajat pernah menjadi Ketua DPW Ormas Nasdem Jawa Barat. Ormas ini yang menjadi cikal bakal Partai Nasdem yang dimiliki oleh Surya Paloh.

Tentu saja, kritikan Sudrajat kepada Gus Dur ini bisa sebagai cacat politik kepada dirinya, dan kemungkinan warga NU tidak bakal memilih Calon Gubernur Jabar dari Partai Gerindra tersebut.

Sebagaimana disebutkan di atas, bagi kalangan NU sangat susah untuk melupakan kejadian pengkhianatan tersebut. Karena bagi mereka Gus Dur adalah pemimpin yang kharismatik dan dihormati. Pengkhianatan pada seorang Gus Dur maka sama saja, penghinaan kepada warga NU secara keseluruhan.

Oleh karenanya, di momen Pilkada seperti ini setiap warga sebaiknya memeriksa rekam jejak calon yang hendak dipilih. Hal itu agar menghindarkan kita dari memilih pemimpin seperti membeli kucing dalam karung.

Masyarakat hendaknya dapat memilih calon pemimpin yang terbaik secara rasional berdasarkan rekam jejak dan kemampuan calon kepala daerah itu sendiri.