Mohon tunggu...
Peter Jeandrie
Peter Jeandrie Mohon Tunggu... Menulis ketika ingin. Rehat ketika ingin. Mengkritik ketika diperlukan. Diam ketika mengendalikan. Seorang penulis lepas yang kadang omong kosong di dalam tulisannya. Namun kadang menyelipkan pesan tersembunyi di dalam tulisannya. Sekian.

Pengamat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kisah Sedih Perlakuan Buruk terhadap Tenaga Medis Pandemi

1 April 2020   21:03 Diperbarui: 1 April 2020   21:14 20147 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Sedih Perlakuan Buruk terhadap Tenaga Medis Pandemi
sumber gambar: Oriental Daily


Pandemi Covid-19 membuat kepanikan massal. Ribuan tenaga medis dikerahkan untuk merawat pasien. Tak hanya mereka yang positif terjangkit covid-19 saja, tetapi pasien penyakit reguler lainnya.

Setelah sekian waktu hidup dalam kecemasan pandemi ini, ada banyak cerita yang dialami oleh para tenaga medis. Kebanyakan adalah cerita sedih. Bukan bagaimana atau persoalan jam tugas yang panjang dan minim waktu untuk beristirahat, melainkan perlakuan yang mereka terima dari masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat haru menyaksikan purna tugas tenaga medis di Wuhan. Mereka melepas alat pelindung diri (APD)-nya dan tersenyum lega. Kepulangan mereka ke tempat asal juga disertai rasa syukur dari masyarakat yang memenuhi pinggiran jalan memberi hormat terus-menerus. Serta melihat para tenaga medis yang menangis haru bisa kembali ke keluarganya masing-masing.

Sekarang justru tenaga medis di Indonesia yang menuai cerita babak baru. Dari media sosial instagram saya mendapati berita bahwa ada sejumlah cerita dari tenaga medis yang diperlakukan dengan tidak baik oleh masyarakat. Ada yang diusir oleh masyarakat sekitar lantaran dicap sebagai pembawa virus. 

Tentu saya merasa sangat geram dan panas mendapati perlakuan buruk masyarakat terhadap tenaga medis kita ini. Bukannya mendapat dukungan dan semangat, para pahlawan garda depan pandemi ini justru dianggap sebagai pembawa bencana. Mereka yang sudah berjuang dengan kerelaan menjalankan tugas yang sangat berat dan melelahkan ini tidak dianggap sebagai manusia.

Tampaknya pandemi covid-19 hanyalah penguji bagi kita, dan ujian ini memperlihatkan jati diri kita yang sesungguhnya. Kembali, saya kembali mempertanyakan mana yang katanya bangsa yang ramah itu? Mungkin hanya omong kosong manis dari orang luar, mengingat mental masyarakat ini yang kebanyakan suka hanyut dibuai pujian. Kejadian yang membuat saya pesimis dengan kemajuan masyarakat kelak. Masih untung bila hanya jalan di tempat, bagaimana jika mundur?

Saya pikir kejadian pemborongan apd seperti masker dan bahan makanan lainnya adalah mentok, hanya sampai disitu saja kebodohan yang ada. Saya coba untuk menarik nafas yang dalam untuk menenangkan diri. Nyatanya tidak demikian. Perlakuan buruk dari masyarakat terhadap tenaga medis kita ini membuat saya harus kembali sesak.

Kembali saya berharap bahwa hal itu cukuplah menjadi yang terakhir. Saya tidak mengharapkan adanya kebodohan yang lain bermunculan.

VIDEO PILIHAN