Mohon tunggu...
June
June Mohon Tunggu... Freelancer - nggak banyak yang tahu, tapi ya nulis aja

Pengamat

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Pilihan

Kemacetan di Ibu Kota Menelanku!

7 November 2017   18:17 Diperbarui: 7 November 2017   18:20 2770
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: www.instagram.com/uber

Jakarta, oh Jakarta... kota metropolitan yang dipadati kuda-kuda besi. 

Jakarta merupakan ibu kota negara Indonesia. Selain itu, Jakarta pula menyandang status sebagai kota metropolitan. Status namanya yang besar tentu menjadi daya pikat masyarakat Indonesia secara luas. Banyak orang dari kota kecil hingga pedesaan terhipnotis oleh namanya. Mereka berdatangan ke Jakarta dengan jadwal yang dapat diprediksi. Setiap selepas libur lebaran dan akhir tahun, kuota urbanisasi meningkat pesat. Kedatangan orang-orang ke Jakarta selain karena modal nekat, juga karena dibawa oleh sanak keluarga yang sebelumnya telah lebih dulu berlabuh di salah satu kota tercerewet di dunia ini. 

Urbanisasi yang membludak otomatis memberi dampak yang besar bagi kota ini. Kepadatan penduduk yang meningkat tak terkendali, ditambah lagi dengan pelonjakan kepemilikan kendaraan pribadi (khususnya kendaraan roda empat) semakin menambah riuk kemacetan si kota ondel-ondel. 

Macet di Jakarta: "ah... sudah biasa" ?

Kemacetan di Jakarta bukanlah fenomena baru. Bahkan ketika melihat berita di televisi mengenai kemacetan yang terjadi di Jakarta, saya, dan mungkin sebagian besar dari anda juga akan jenuh melihat berita mengenai hal itu. Kenapa? tentu karena kita terlalu sering melihat dan bahkan mengalami kemacetan di kota ini. Harapan bisa bersantai menikmati pemandangan kota terkabulkan. Ya, terkabulkan.... tepatnya pemandangan macet. Ekspektasi selesai berkegiatan pulang cepat dan menikmati waktu santai di rumah atau tempat lainnya, yang ada justru menghabiskan waktu luang menghapalkan detail-detail di sepanjang jalan ibu kota. 

Banyaknya kendaraan yang bertambah pesat membuat jalan di Jakarta menjadi sesak, ujung-ujungnya ya macet. Ya Tuhan, masa iya hidupku hanya untuk menghapal detail jalan di ibu kota ini? 

Sepulang berkegiatan bukannya terlepas dari tekanan, yang ada justru sepanjang perjalanan mendapat tambahan tekanan, stres. 

Musuh dalam Selimut

Memiliki kendaraan pribadi, terkhusus mobil merupakan nilai tambah tersendiri. Setidaknya dengan mobil kita bisa terhindar dari panas dan hujan. Kenyamanan menggunakan mobil dalam berkendara menyusuri jalan ibu kota juga menjadi alasan banyak orang memilih untuk memakai mobil pribadi ketimbang memakai angkutan umum seperti bus trans. 

Di balik kenyaman menggunakan mobil pribadi tersebut, ternyata kebiasaan ini menjadi faktor besar penyumbang sebab-musabab kemacetan selama ini. Ibarat musuh dalam selimut, mobil pribadi yang diharapkan memberi perlindungan dari cuaca justru memerangkap kita dalam kemacetan. Harapannya membawa kenyamanan berkendara, malah stres tidak bisa apa-apa di jalan yang macet. Keadaan ini tentu memberi pengaruh pada aspek psikologis kita. Kejenuhan di jalan dapat menurunkan suasana hati. Suasana hati yang buruk ujung-ujungnya mempengaruhi kesehatan fisik. 

Problema kemacetan dampaknya tidak hanya sampai di situ. Durasi kendaraan yang tertahan lama di jalan dalam keadaan mesin yang menyala secara langsung memperparah tingkat pencemara udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar di mesin kendaraan. Polusi udara ini dapat menganggu kesehatan kulit dan pernafasan kita. Indera pengelihatan kita pun dapat terkena imbasnya.  Parahnya lagi kebiasaan orang-orang yang sesuka hati membunyikan klakson. Membunyikan klakson itu ada aturannya. Jangan menjadi tidak beretika dalam memakai kendaraan. Suara klakson yang bersahut-sautan di kemacetan ibu kota juga merupakan polusi, yakni polusi suara. Selain menggangu kualitas pendengaran, suara klakson yang tidak beretika tersebut juga dapat membuat suasana hati menjadi buruk, hingga stres. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun