Mohon tunggu...
Junanto Herdiawan
Junanto Herdiawan Mohon Tunggu... Jurnalis - Kelompok Kompasianer Mula-Mula

Pemerhati Ekonomi, Penikmat Kuliner, Penulis Buku, dan Pembelajar Ilmu Filsafat. Saat ini bekerja sebagai Direktur Departemen Komunikasi BI dan menjabat sebagai Ketua Ikatan Pegawai BI (IPEBI). Tulisan di blog ini adalah pandangan personal dan tidak mencerminkan atau mewakili lembaga tempatnya bekerja. Penulis juga tidak pernah memberi janji atau menerima apapun terkait jabatan. Harap hati-hati apabila ada yang mengatasnamakan penulis untuk kepentingan pribadi.

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama FEATURED

Masihkah Bank Indonesia Bermanfaat?

5 Januari 2014   10:24 Diperbarui: 5 Juli 2022   06:44 5030 34 21
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Beberapa waktu lalu, ada satu tulisan di Kompasiana yang mempertanyakan apa pekerjaan Bank Indonesia (BI) sekarang. Pertanyaan yang wajar mengingat sejak awal tahun 2014 ini, fungsi pengaturan dan pengawasan bank, yang semula dilakukan oleh BI, telah dialihkan ke lembaga baru bernama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Secara kasat mata terkesan tugas BI telah berkurang sepertiganya. Kini, BI “dianggap hanya” mengurusi kebijakan moneter dan sistem pembayaran nasional. Itupun, kata beberapa orang, BI dianggap belum mampu. Kita lihat sekarang bahwa nilai tukar Rupiah masih tertekan, inflasi masih menghadapi tantangan, dan pengedaran uang dianggap hanya urusan rutin belaka, yang tidak terlalu banyak menguras pikiran. 

Pertanyaan di tulisan tersebut kemudian adalah, masih bermanfaatkah Bank Indonesia bagi Republik ini? Apa kerja Bank Indonesia sekarang?

Bank Indonesia sebagai bank sentral, sebagaimana bank sentral di banyak negara, memang kerap disalahpahami masyarakat. Mereka dianggap “tabib” yang punya power besar dalam mengobati perekonomian. Kalau perekonomian memburuk, tabib biasanya disalahkan karena ketidakmampuannya menyembuhkan.

Paul Volcker, mantan ketua The Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS), mengatakan bahwa saat perekonomian berjalan baik dan lancar, tak banyak orang yang sadar akan keberadaan bank sentral. Orang menganggap kestabilan itu sesuatu yang “taken for granted”, atau terjadi begitu saja. Namun apabila krisis ekonomi terjadi, hampir seluruh kepala menoleh ke bank sentral dan menuduhnya tak mampu mengendalikan ekonomi.

Hal itu juga yang sempat memicu Ron Paul, seorang anggota kongres AS, untuk membuat petisi dan menulis buku yang berjudul “End The Fed”, atau “Bubarkan The Fed”. Ron Paul meyakini bahwa krisis global yang terjadi saat ini adalah akibat ulah The Fed yang menganut sistem ekonomi kapitalis merkantilis, dan memanjakan pasar keuangan. Ia mengusulkan untuk membubarkan saja bank sentral, karena tidak ada manfaatnya lagi. Tapi usulan Ron Paul ini tidak mendapat banyak dukungan di AS.

Pertanyaan Ron Paul itu sebenarnya juga muncul di banyak negara. Jawabannya tentu tak bisa dilihat dalam satu spektrum yang sempit atau kondisi yang situasional. Perjalanan panjang sejarah bank sentral, sejak diciptakan hingga saat ini, sarat dengan berbagai kisah boom and bust perekonomian.

Sebagai orang yang menyaksikan sendiri bisnis bank sentral selama lebih dari 17 tahun, saya merasakan bahwa pekerjaan bank sentral bukan sebuah pekerjaan sekali jadi, seperti membuat bangunan lalu selesai dan ditinggal. Tapi pekerjaan bank sentral adalah pekerjaan yang terus menerus, bukan hanya membangun, tapi juga memelihara, dan mengawasinya dari hari ke hari. Oleh karenanya, pekerjaan itu tak pernah usai.

Gubernur Bank Sentral Malaysia (BNM), Dr. Zeti Akhtar Aziz, pernah mengatakan bahwa “central banking is a never ending business, because the world are always changing”. Hal ini bermakna bahwa tugas bank sentral, adalah bisnis yang tak pernah final, tak pernah usai, karena lanskap dunia terus berubah. 

Credo Bank Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam undang-undangnya, adalah mencapai dan menjaga kestabilan nilai rupiah. Jelas, bahwa ini bukan tugas ringan, sekali jadi, yang dalam satu waktu singkat dapat dicapai, kemudian selesai. Persis seperti tujuan negara dan pemerintahan yang ingin mencapai masyarakat adil dan makmur. Sudah makmurkah negeri kita? Tentu itu sebuah perjalanan panjang. 

Kita tentu ingat, saat krisis moneter tahun 1998, nilai tukar rupiah menembus angka Rp.16.000 per dolar AS. Inflasi saat itu mencapai sekitar 70 persen.

Tapi kemudian berbagai langkah ditempuh, berbagai penyempurnaan dan perbaikan dilakukan, maka perlahan Rupiah dapat stabil di kisaran Rp10 ribu per dolar AS, dan inflasi kembali di bawah double digit.

Dari tahun 2008 hingga 2012 lalu, kita merasakan sendiri kondisi perekonomian Indonesia yang relatif stabil. Indonesia bahkan diramalkan akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh dunia di tahun 2030.

Rupiah, dalam kurun lima tahun tersebut, stabil dan berada di kisaran Rp 9000-an per dolar AS, inflasi terkendali di level 4 hingga 5 persen. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga rata-rata berada di atas 6 persen.

Dialog dengan pengusaha sapi di Jombang, Jatim. BI di daerah juga melakukan dialog antara investor asing, pemda, dinas terkait, dan pelaku umkm / photo junanto
Dialog dengan pengusaha sapi di Jombang, Jatim. BI di daerah juga melakukan dialog antara investor asing, pemda, dinas terkait, dan pelaku umkm / photo junanto

Namun, dunia terus berubah, dan ekonomi global terus bergerak dengan tantangan. Daya tahan dan daya saing ekonomi masing-masing negara berbeda.

Di sinilah kita perlu terus memperkuat pondasi ekonomi. Indonesia saat ini masih memiliki banyak tantangan struktural dalam perekonomian.

Akibatnya, apa yang terjadi di ekonomi global dan domestik, pada gilirannya berdampak pada kestabilan dan ketahanan ekonomi Indonesia.

Tentu saja tugas Bank Indonesia menjaga kestabilan itu tidak bisa sepenuhnya diselesaikan sendiri. Hampir seluruh tugas lembaga negara di negeri ini, mulai dari departemen, militer, kepolisian, membutuhkan sinergi, koordinasi, dan kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat. Kebijakan moneter harus selaras dan bersinergi dengan kebijakan fiskal dan sektor riil untuk dapat mencapai hasil optimal.

Di daerah-daerah, dari Sabang hingga Merauke, Bank Indonesia membentuk yang dinamakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Tugasnya melakukan koordinasi dengan segenap elemen daerah, mulai dari pemerintah, pelaku pasar, media massa, agar inflasi dapat dikendalikan bersama. 

Analisis sumber-sumber terjadinya inflasi dilakukan dengan cermat oleh para ekonom di Bank Indonesia. Para ekonom tersebut bekerja siang malam, bahkan di akhir bulan dan akhir tahun, banyak dari mereka yang tidak pulang ke rumah, untuk menyusun analisis kondisi makroekonomi, termasuk sumber inflasi. Dari situ, hasilnya dikoordinasikan dan dibahas dengan pemerintah daerah.

Beralihnya pengawasan bank ke OJK juga tidak otomatis menjadikan BI lepas tangan pada pengawasan bank. BI masih melakukan pengawasan bank.

Hanya saja, pengawasan dilakukan bukan per individu bank seperti dulu. BI kini melakukan pengawasan yang lebih bersifat makro, atau dinamakan dengan makroprudensial. Pengawasan itu diarahkan pada pengelolaan risiko sistemik, termasuk risiko likuiditas, risiko kredit, risiko pasar, dan penguatan struktur permodalan. Kita tentu perlu meyakini bahwa salah satu pilar ekonomi yang perlu dijaga adalah industri perbankan.

Oleh karenanya, kebijakan seperti Giro Wajib Minimum (GWM), atau Loan to value Ratio (LTV), yang berpengaruh pada industri perbankan secara makro, masih dilakukan oleh Bank Indonesia, bukan OJK.

Di sisi pengedaran uang, BI memiliki tugas yang sebenarnya paling berat. Itu bukan tugas rutin yang tidak perlu mikir. BI dituntut untuk mampu menyediakan uang Rupiah sampai ke pelosok negeri. Kita melihat bagaimana pegawai BI di Papua melakukan pengantaran uang, dikawal anggota Angkatan Laut menggunakan KRI, ke pulau-pulau terpencil di perbatasan.

Lalu, masalah penggunaan Ringgit, di daerah Sebatik, yang masih wilayah Indonesia, juga menjadi problem yang terus menerus diatasi oleh Kantor Perwakilan BI di Kalimantan.

Sistem pembayaran nasional, yang mencakup pula penggunaan kartu kredit, perlindungan konsumen, dan pelayanan non tunai lainnya, juga menjadi tugas berat yang terus menerus disempurnakan oleh Bank Indonesia mengingat tantangan ke depan yang semakin banyak. 

Di sisi lain, bank sentral di Indonesia memiliki keunikan karena berupaya menyeimbangkan antara gerak di pasar keuangan dengan dampaknya pada kepentingan masyarakat di daerah, termasuk pelaku UMKM.

Di sisi kemasyarakatan, BI juga merasa bertanggungjawab sebagai bagian masyarakat. Aneka kegiatan literasi, edukasi kemasyarakatan, hingga pemberdayaan UMKM dan wirausaha, dilakukan oleh Bank Indonesia di pelosok tanah air.

BI di daerah mendukung gerakan literasi masyarakat
BI di daerah mendukung gerakan literasi masyarakat

Mantan anggota The Fed, Alice Rivin, pernah mengatakan, “the job of central bank is to worry”. Tugas bank sentral adalah untuk khawatir. Ya, di negeri yang masih menghadapi banyak masalah, tantangan, dan problema struktural saat ini, kita perlu terus menerus khawatir. Tak heran kalau Gubernur Bank Indonesia berulangkali memberikan pernyataan tentang perlunya kehati-hatian dalam pengelolaan ekonomi negara.

Tentu saja dalam perjalanan akan banyak masalah dan kekurangan. Soal belum stabilnya rupiah, kedaulatan ekonomi, tekanan pertumbuhan, tekanan inflasi, adalah berbagai masalah yang terus menerus ada, dan terus menerus diselesaikan. Berbagai masukan dan kritik akan sangat bermanfaat untuk menyempurnakan tugas-tugas BI ke depan. 

Tugas belum usai, pekerjaan rumah masih banyak, tahun 2014 adalah tahun yang penuh tantangan. Mari kita semua bekerja pada tugasnya, bekerjasama, bersinergi, dan memberikan yang terbaik bagi negeri ini.

Salam optimis.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan