Junaidi Muhammad
Junaidi Muhammad

Bapak dengan 5 anak hebat, single parent, dan survivor gagal ginjal. Tujuan saya menulis untuk memotivasi sesama agar tetap kuat bertahan dalam sakit dan cobaan hidup yang mendera, serta meyakinkan bahwa kalian yang senasib dengan saya tidak sendirian.

Selanjutnya

Tutup

Energi

Buah Hati 04, Pembela Agama Allah

25 Desember 2017   10:21 Diperbarui: 27 Desember 2017   23:38 1133 0 0

11 April 2002, putra kami yang keempat lahir di rumah sakit dan dokter yang sama dengan kakaknya. Tepat pukul 19.00 malam, kelahirannya normal dan sehat. Saya sempat menunggui dan alhamdulillah tanpa kendala yang berarti.Menghabiskan dua hari di rumah sakit kemudian Bunda diperbolehkan pulang.Lagi-lagi kami pulang ke Jepara untuk sementara waktu. Untuk nama pangeran kecil saya kali ini, saya serahkan pada shohib karib saya pemilik BMT BUS Lasem. Tanpa menunggu lama beliau menelepon, dan nama yang diberikan begitu indah yang memiliki makna 'Pembela Agama Allah'.

'ndut' adalah panggilan sayang kami kepadanya. Karena dari bayi hingga sekarang posturnya gendut dan menggemaskan. Setelah menghabiskan satu bulan di Jepara, kami kembali ke kota Purwodadi tempat tinggal kami yang baru. Pada dua bulan usianya, dia mulai menampakkan gejala aneh.Tampak sangat hiperaktif dalam merespon sesuatu.Karena masih bayi jadi kami tidak terlalu khawatir. Menginjak usia satu tahun gejala hiperaktif yang sebelumnya tidak kami khawatirkan menjadi makin mencemaskan. 

Bunda mulai kewalahan dengan perilakunya yang susah diam dan seringkali terjatuh dari tempat tidur. Anehnya, ndut tidak pernanah rewel dan menangis seperti bayi-bayi yang lain. Pembawaannya diam namun banyak sekali tingkah.Apa saja barang dan mainan yang bisa dijangkaunya dibuang dan dibanting. Kala itu kami memiliki satu orang asisten rumah tangga, karena melihat perilaku ndut yang super aktif hingga Ibunya kewalahan, kami memutuskan untuk menambah satu asisten rumah tangga lagi. Semakin 'menggila' ketika berumur satu tahun tiga bulan ndut sudah bisa berjalan.Gerakannya luar biasa, berlarian kemana-mana, memanjat pagar dan pohon. Kemana-mana harus dipantau, jatuh bangun dengan luka lebam dan memar adalah biasa sehari-hari.Bunda sampai kurus dibuatnya.Pola makan dan minum susunya sangat kuat.

Seiring usia memasuki tahun ketiga, pernah terjadi kejadian yang membuat seisi rumah kaget.Jam satu malam kami sadari ndut menghilang dari kamar. Bunda terbangun kaget. Seisi rumah geger dan berhamburan keluar mencarinya, tetangga sebelah terbangun dan ikut sibuk. Satu jam lamanya ndut belum juga ditemukan. Bunda mulai menangis khawatir.Saya mencoba untuk tenang. Tiba-tiba ingatan saya tertuju pada kolam ikan lele yang ada dibelakang rumah, segera saya ke halaman belakang dengan lampu senter, saya sorot pojokan kolam, Subhanallah, dia dengan senangnya sedang bermain-main lele di kolam yang waktu itu sudah besar dan siap panen.

Belum berhenti sampai disitu, suatu pagi ketika Bunda disibukkan dengan persiapan sekolah kakaknya dia berulah lagi.Hilang entah kemana.Geger seisi rumah karena dari pukul 07.00 pagi hingga 15.00 belum juga ditemukan. Semua sudut kampung, rumah tetangga, kolam ikan dan semak belukar sudah diperiksa dan tidak ketemu. Ternyata, selama 8 jam dia berada di rumah tetangga sebelah, seorang penjual es keliling yang berangkat pagi hari dan pulang sore hari.  Tanpa sepengetahun pemilik rumah dia menyusup masuk di pagi hari sebelum si pemilik rumah berangkat.Karena tidak mengetahui keberadaannya, pemilik rumah pergi begitu saja menggembok rumahnya.Sepulangnya si penjual es kaget mendapati ndut yang sedang sibuk bermain memporak-porandakan seisi rumah. Sambil berteriak dia memanggil kami yang dari pagi sudah stres berat. Tanpa perasaan bersalah ndut pulang ke rumah dan langsung dimandikan serta diberi makan setelah seharian tidak makan dan tidak minum susu. Hari-hari selanjutnya pengawasan lebih diperketat.

Pernah pagi-pagi sekali saya hendak keluar dan memanaskan mobil. Tanpa sepengetahuan saya, ndut menyelinap masuk mobil. Menutup pintu lalu memutar semua panel dan tombol yang ada. Pintu terkunci, radio/tape dihidupkan full volume, kipas air kaca depan berputar kencang. Saya kerepotan karena kunci serep mobil ada dikantor yang berjarak 16 km dari rumah. Saya gagal berangkat ke Semarang (Ketika itu bertepatan dengan jadwal saya menghadiri peresmian kantor cabang baru di Semarang). Akhirnya kunci serep diantar oleh sopir kantor. Alhamdulillah drama menegangkan selama satu jam berlalu.

Saya sepakatdengan Bunda untuk membawanya ke psikolog anak, dan hasil diagnosanya mengarah ke autisme.Kami direkomendasikan untuk memacu pertumbuhan memori otak kirinya.Kursus Sempoa langkah pertama yang kami tempuh dan Alhamdulillah hasilnya positif.Ndut mulai "jinak" dan bisa dikendalikan. Keanehan lain muncul, ketika sedang memanjat pohon jambu depan rumah, dia dengan enjoy-nya tanpa rasa takut bermain dengan ular hijau berbisa (yang ujung ekornya merah). Seringkali juga menangkap burung-burung kecil dengan mudahnya.Bahkan ketika suatu hari kami sekeluarga mudik ke Sumbawa, ndut dengan leluasa bermain dengan anjing liar bahkan seolah-olah bersahabat.

Memasuki usia empat tahun, kami hijrah ke Jakarta. Kebiasaan baru muncul, ndutbersikeras tidak mau shalat dirumah.Lima waktu shalat dalam sehari selalu berlari ke masjid komplek yang jaraknya 100 meter dari rumah. Dan yang sangat menghawatirkan,pukul 04.00 jelang subuh,ndut sudah berani buka pintu sendiri dan menghilang kemasjid. Ta'mir masjid dan seluruh jamaah yang didominasi generasi tua telah menjadi temannya.Sepulang dari masjid seringkali diajak jalan-jalan keliling komplek dan pulang dengan membawa jajanan.Bahkan para tukang ojek komplek banyak yang sudah kenal. Singkat cerita,ndut lebih terkenal daripada seisi rumah yang lain.