Junaidi Khab
Junaidi Khab Editor

Junaidi Khab lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

Selanjutnya

Tutup

Wisata

Bukit Bintang

13 November 2017   21:53 Diperbarui: 13 November 2017   22:11 206 1 0
Bukit Bintang
Dok. Pribadi

Sudah beberapa kali saat aku mengunjungi Piyungan Yogyakarta ingin ke Bukit Bintang. Aku ke Piyungan biasanya bersama seorang teman -- Marsus -- ke rumah mertua Kak Mahwi Air Tawar, Pak Tukiran. Tetapi, keinginan itu selalu kandas, entah karena malas atau kadang memang tak sempat. Berselang beberapa lama, aku jarang ke Piyungan. Baru akhir-akhir ini, keinginan berkunjung ke rumah mertua Kak Mahwi Air Tawar itu bangkit kembali. Selain untuk silaturahim karena dulu Marsus menempati dan menjaga rumah mertua Kak Mahwi Air Tawar, juga daerahnya di Piyungan cukup sejuk dan hening. Aku juga ingin melunasi hajat untuk berkunjung ke Bukit Bintang di Piyungan.

Sore ini, 29 Oktober 2017, setelah sebelumnya sempat gagal berkali-kali untuk berkunjung ke rumah mertua Kak Mahwi Air Tawar, hajat itu terlaksana. Usai shalat maghrib di kos Marsus daerah Sorowajan Baru Yogyakarta, aku berangkat ke Piyungan dengan mengendarai sepeda motor seperti biasanya saat berkunjung ke sana sebelumnya.

Ketika tiba di Piyungan, lampu rumah Pak Tukiran (mertua Kak Mahwi Air Tawar) sudah padam. Lalu, setelah tahu ada suara motor di luar halaman rumahnya, Ibu Tukiran menengok dari pintu samping dapur dekat kamar mandi. Kemudian, dia menyalakan lampu dan kami menyapa dengan salam. Ibu Tukiran menceritakan kalau lampunya memang dipadamkan saat itu karena tidak dipakai.

Aku pun setelah itu bersalaman, lalu dipersilakan masuk. Ada beberapa perbincangan hangat yang dimulai oleh Pak Tukiran saat aku berada di dalam rumahnya bersama Marsus. Pak Tukiran kelahiran tahun 40-an. Dia tergolong lelaki yang suka membaca meski hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR) zaman dahulu. Dari suaranya saat bicara, dia tampak seperti orang yang memiliki gaya bahasa yang menarik. Benar, meski dia lulusan SR, cara bicaranya pun tak kalah dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi. Aku percaya itu, karena dia sering (banyak) membaca: baca koran dan buku.

Ada banyak perbincangan yang aku dapatkan darinya: seperti cara kita hidup bersosial, urgensi pendidikan, moral, dan hingga pada persoalan keyakinan. Bahkan, dia sempat membicarakan tentang isu-isu politik, kenegaraan, dan kebangsaan. Coba bayangkan, lelaki paruh baya seperti dia masih fasih berbicara tentang pengalaman dan pengetahuannya yang didapat selama hidup secara otodidak. Mungkin, dia perlu ditiru oleh masyarakat Indonesia agar gemar membaca dan berbagi pengetahuan atau pengalaman positif dalam kehidupan ini. Aku tertarik ngobrol dengan Pak Tukiran. Dalam hal tema pembicaraan Pak Tukiran, tak cukup aku tuliskan dalam catatan ini. Cuma pada intinya, manusia hidup itu harus mengutamakan akhlak atau moral.

Baru setelah itu, sekitar pukul 21:20 WIB aku pamit untuk pergi ke Bukit Bintang bersama Marsus. Setelah dari Bukit Bintang, aku akan mampir ke sana lagi untuk menginap barang satu malam. Selain memang sedikit khawatir kalau kembali ke Yogyakarta saat terlalu malam, juga iklim sejuk daerah Piyungan rumah Pak Tukiran sangat aku suka.

Pukul 23:10 WIB, suasana kafe sederhana yang kutempati untuk menikmati pernak-pernik lampu kota Yogyakarta sudah mau tutup. Itu alasan bukit itu disebut Bukit Bintang yang sangat tepat jika menikmatinya pada malam hari. Karena dari bukit itu, gemerlap lampu kota Yogyakarta tampak bagai bintang. Pokoknya indah dan menawan. Aku sebenarnya ingin berlama-lama, tapi karena kafe yang kutempati akan tutup, jadi aku harus segera berberes diri untuk kembali ke rumah Pak Tukiran.

Oleh: JUNAIDI KHAB

Yogyakarta, 29 Oktober 2017