Mohon tunggu...
Junaidi Mamuntu
Junaidi Mamuntu Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

Buku, Kopi, Musik dan Jejak Langkah

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Karl Popper dan Falsifikasi

6 Desember 2022   16:37 Diperbarui: 6 Desember 2022   16:46 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Karl Popper (1902-1994) adalah salahsatu filsuf analitik yang berasal dari kelompok studi bernama lingkaran wina inggris. Sebagai filsuf, Karl Popper penemu suatu gagasan besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat ilmu, suatu gagasan filosofis dalam ranah sains. Gagasan itu kemudian disebut Falsifikasi. 

Gagasan Falsifikasi bukanlah antithesis total terhadap verifikasi, falsifikasi justru sebagai kritik atau kebaruan pembuktian ilmiah yang biasa dilakukan dengan metode verifikasi Logis dan faktual.

Jika soalnya. Bagaimana sebuah teori atau proposisi itu dianggap real? Apakah yang menjamin kebenaran sebuah teori ilmiah? 

Sebuah Perspektif Epistemologi tentu berkaitan dengan Perspektif Ontologisnya atau Ada berkaitan dengan Pengetahuan tentang Ada dan pengetahuan tentang Ada karena adanya sesuatu yang diupayakan untuk diketahui. 

Kiranya, dalam diskursus filsafat Ontologi terdapat pandangan anti-realis yang menganggap kebenaran suatu proposisi atau teori tidak perlu merujuk ke realitas atau tidak berdasarkan realitas karena itu cukup diuji dengan logika koherensinya (Koherensi logis) kalau koheren maka suatu proposisi, teori, benar adanya dan sebaliknya. 

Lain daripada itu, dalam pandangan kontrasnya yaitu realisme, dalam pandangan realisme yakni ada dunia yang mandiri dari pemikiran dan kebenaran suatu proposisi atau teori itu mesti berkorespondensi dengan realitas eksternal baik realitas alam pun realitas sosial. 

Jika terdapat sebuah proposisi, teori, gagasan, misalnya seandainya ada proposisi, "Setiap orang X itu kurang beradab", kebenaran dari sebuah proposisi itu akan terbukti dengan fakta dan data yang dikumpulkan dari lapangan X, jika sesuai antara proposisi dengan fakta dan data maka pernyataan itu benar adanya. Bukti demikian adalah bukti dengan verifikasi. Falsifikasi Karl Popper justru membuktikan kesalahannya, jika proposisi "setiap X itu kurang beradab", maka cukup temukan satu orang X yang beradab, maka proposisi, atau teori itu gagal seluruhnya. Contoh lain, terdapat suatu proposisi, "semua angsa berwarna putih", ternyata ditemukan "satu angsa berwarna hitam kebiru-biruan" maka proposisi "semua angsa berwarna putih gagal seluruhnya", sebab klaim general itu tidak memadai dengan difalsifikasi. 

Jadi Perbedaan antara kedua konsep tersebut sederhananya ialah kalau verifikasi ialah pengujian kebenaran fakta dan data dilapangan dari sebuah teori atau proposisi sehingga teori dianggap pasti benar, ketika teori mengatakan A fakta mengatakan A, teori benar sedang falsifikasi adalah pengujian suatu kesalahan dari sebuah teori atau proposisi, jika teori mengatakan A dan fakta empiris mengatakan B maka teori, proposisi pasti salah. Begitulah kira-kira. Maka, dimana posisi verifikasi dan falsifikasi dalam dua ranah perdebatan filsafat Ontologi itu? Menurut saya, dari pembahasan tersebut maka Verifikasi dan falsifikasi jelas berada pada posisi realisme, karena baik verifikasi maupun falsifikasi keduanya meyakini sebuah anggapan yang mendasarkan pada realitas entah kenyataan alam maupun kenyataan sosial.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun