Mohon tunggu...
Juna Hemadevi
Juna Hemadevi Mohon Tunggu... Guru - Pelajar

Seorang manusia yang masih terus belajar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Manusia Itu Makhluk Tertinggi yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

3 November 2022   15:00 Diperbarui: 3 November 2022   15:01 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Katanya sih, 'kamu nggak boleh manja, harus mandiri, harus bisa ini itu sendiri, jangan nyusahin orang lain'. Kenyataannya tidak seperti itu juga, karena secara teori, manusia merupakan makhluk sosial. Jadi manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia butuh orang lain untuk menjadi teman, dan ada beberapa saat kita sebagai manusia bisa melakukan apapun dengan tangannya sendiri, ada pula saat di mana kita benar-benar membutuhkan orang lain untuk membantu menyelesaikan suatu pekerjaan. 

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sendiri seperti menyetir sepeda motor, mengerjakan tugas individu, membuat artikel, makan sendiri, minum sendiri. Tapi dari hal-hal yang bisa kita lakukan sendiri itu pasti ada orang lain yang membantu kita untuk mengkondisikan adanya sepeda motor, tugas, artikel, makanan dan minuman.

Ada pabrik pembuat sepeda motor, ada guru yang memberi tugas, ada inspirasi dari orang lain untuk menulis artikel, ada pasar yang menyediakan sumber makanan dan minuman. Ya kita tidak secara sempurna melakukan apapun dengan tangan sendiri. Kalau dibilang harus mandiri, tapi dari orang lain tidak memberikan umpan, ya kita tidak bisa memberi umpan baliknya.

Manusia dalam Buddhisme

Kalau dalam ajaran Buddhisme, manusia itu makhluk tertinggi dengan alasan karena diantara makhluk-makhluk lainnya hanya manusia yang bisa merasakan sukha dan dukkha dengan penuh kesadaran. Sebagai manusia kita bisa sadar kalau kita sedang bahagia, buktinya kita bisa tersenyum, tertawa dengan lepas, ataupun bisa tidur dengan pulas. Saat merasakan kesedihan kita juga sadar, bisa tiba-tiba menangis atau tiba-tiba terpuruk sendirian di kamar tidak mau keluar selama seminggu.

Perasaan sukha dan dukkha secara bersamaan ini tidak bisa dialami makhluk lain di alam tinggi dan alam rendah. Seperti di alam rendah misal alam setan, alam binatang, mereka hanya bisa merasakan dukkha karena disiksa setiap hari dan tidak bisa berpikir layaknya manusia. Apalagi makhluk di alam tinggi seperti dewa hanya bisa merasakan kebahagiaan. Bahkan di alam brahma pun bisa dikatakan tidak tidak bahagia dan tidak tidak menderita, karena ada dua jenis alam yaitu arupa brahma dan rupa brahma. Di alam arupa brahma, mereka hanya bisa merasakan batin mereka tanpa adanya jasmani. Sedangkan di alam rupa brahma mereka hanya bisa merasakan jasmani tanpa adanya batin. 

Tapi, disamping sebagai manusia yang sadar merasakan sukha dan dukkha, terlahir sebagai manusia juga merupakan suatu karma yang sangat luar biasa dan sebenarnya menunjukkan bahwa betapa manusia tidak berdaya di hadapan dunia.

Manusia itu tidak berdaya

Kenapa manusia bisa tidak berdaya di hadapan dunia? Iya, coba baca kembali paragraf sebelumnya tentang sukha dan dukkha, manusia bisa menjadi superhero saat bahagia, karena mereka sadar bisa melakukan apapun termasuk membantu orang lain saat bahagia. Coba saja kalau manusia sedang sedih, jangankan membantu orang lain, membantu diri sendiri agar tidak sedih lagi itu sangat susah. Dan sebenarnya agar bisa membangkitkan kebahagiaan maupun menghapus rasa sedih, si manusia itu harus membutuhkan orang lain, alias saling bergantungan dengan manusia lainnya.

Kita bisa menghapus rasa sedih dalam diri apabila melihat orang lain yang lebih susah dari kita. Lama-kelamaan kita bisa menyadari alasan mengapa kita tidak harus sedih. Kita bisa merasakan kebahagiaan bila melihat orang lain bahagia, tentunya dengan ketulusan. Kalau dengan rasa tidak tulus, melihat orang lain bahagia kita malah jadi membencinya. Serba salah ya jadi manusia itu.

Lebih dari perasaan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai manusia, mulai dari makanan, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, bahkan belajar Dharma pun kita juga membutuhkan manusia lainnya. Dalam urusan makanan, kita bisa saja berperan sebagai petani untuk memproduksi sayur dan buah, asal kita punya lahan atau tempat untuk menanam sayuran dan buah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun