Mohon tunggu...
Junaedi SE
Junaedi SE Mohon Tunggu... Wiraswasta - Crew Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID)

Penulis Lepas, suka kelepasan, humoris, baik hati dan tidak sombong.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Semesta Alam akan Melahirkan Tubuh dan Jiwa Sehat

10 Agustus 2021   13:03 Diperbarui: 10 Agustus 2021   13:06 123
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Ada yang bertanya,"apakah dengan oksigenasi dengan flow yang relatif rendah dengan durasi singkat akan mampu memperbaiki saturasi ?

Pertanyaan ini logis  bagi seseorang yang percaya bahwa rasa sakit hanya bisa diatasi dengan pendekatan medis, pendekatan obat dan serangkaian alat -- alat kesehatan. Tetapi pertanyaan tersebut menjadi tidak logis bagi seseorang yang mempercayai bahwa kesemestaanlah yang melahirkan tubuh dan jiwa yang sehat.

Kunjungan untuk mengantarkan obat dan oksigen sekedarnya hanyalah alat untuk mengembalikan daya hidup seseorang yang berada dalam kesendirian dan ketidakpastian, disaat tidak tahu lagi harus kemana, disaat tidak tahu lagi kepada siapa harus berkeluh kesah, disaat tidak tahu lagi harus melakukan apa, dan bahkan dalam kesendirian dna keterasingannya msaih juga terbayang bagaimana anak dan istrinya jika memang takdir menjemput ajal.

Kehadiran seseorang untuk duduk bersedia mendampingi dan mendengarkan keluh kesah dan sesekali mengusap punggung di saat nafas tersengal, ini jauh lebih memberikan energy positif bagi pulihnya daya hidup. Dan sebenarnya, sesederhana itulah yang diharapkan seseorang yang berada dalam ketidakbedayaan absolut.

Covid membuka semua tabir, bagi orang yang hanya memahami bahwa pandemi ini tidak sekedar problem medis saja, covid tidak hanya mendekonstruksi semua tatanan tanpa teriakan revolusi, akan tetapi covi juga membuka pemahaman,

Bagaiamana ada persoalan tata kelola kesehatan kita, tentang birokrasi yang canggung dan keteteran, tentang dominasi rezim medis dalam mengatasi rasa sakit, tentang sistem rantai pasok obat dan oksigen yang timpang, tentang diskriminasi dan eksekusi yang nyata ada dalam kesadaran sosial kita, tentang kompleksnya covid saat berhimpitan dengan kemiskinan, dan tentang kelas menengah yang ngehek.

Sekali lagi, saya garis bawahi bahwa pandemi covid jangan hanya di fahami secara leterlek problem medis saja. 

Sehingga dalam melakukan penanganan covid ini, tidak hanya berdasarkan pemeriksaan tanda tanda vital pasien saja, tetapi juga berdasarkan sisi kemanusiaan pasien juga harus diperhatikan, terutama sisi mental psikologis pasien ikut menjadi bagian dari penyembuhan pasien covid.

Dalam tulisan ini, saya akan mengaris bawahi juga tentang pernyataan mensana in corpore sano yang berarti bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat apakah masih relevan digunakan pada saat ini? 

Pernyataan ini logis bagi seseorang yang percaya bahwa jiwa yang kuat hanya milik orang yang sehat saja, tetapi tidak berlaku bagi seseorang yang mempercayai bahwa kesemestaanlah yang melahirkan  tubuh dan jiwa yang sehat.

Faktanya orang dalam gangguan jiwa (odgj)  tubuhnya tidak pernah sakit artinya sehat -- sehat saja, padahal kita tahu bahwa apa yang di makan odgj adalah sisa-sisa makanan, saat hujan kehujanan dan saat panas kepanasan. Tetapi sampai saat ini, saya belum pernah mendengar kabar/berita  bahwa ada odgj yang terpapar virus corona.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun