Mohon tunggu...
jumaro alhamami
jumaro alhamami Mohon Tunggu... Pendidik
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Belajar sepanjang waktu

Selanjutnya

Tutup

Karir

Merdeka !, Kuli yang Tidak Memiliki Mental Kuli

13 Agustus 2019   23:06 Diperbarui: 16 Agustus 2019   09:43 0 3 0 Mohon Tunggu...

Mental Kuli Tidak Sama Artinya Dengan "Kuli Yang Tidak Memiliki Mental Kuli".

Kuli selalu di konotasikan dengan kerja kasar, mengekor , kerja berkotor - kotor,dan pekerja kasar ,menurut Kamus Besar Bahasa Indonesiakuli, /ku*li/ adalah orang yang bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisiknya (seperti membongkar muatan kapal, mengangkut barang dari stasiun satu tempat ke tempat lain) pekerja kasar..

Mental Kuli diartikan sebagai Orang yang selalu mengekor kepada orang lain, selalu nurut atas titah dan perintah orang lain, ia tak memiliki pendapatan sepeserpun apabila tidak bekerja pada orang lain, hidupnya selalu ketergantungan kepada orang lain, ia hanya mengandalkan kekuatan fisknya untuk memperoleh upah, hasil kerja  kekuatan ototnya.

Ketika kita sekolah di SD, guru selalu menasihati ," jangan kalian  memiliki mental kuli, kalian sekolah tidak didik untuk menjadi kuli, bangsa ini telah merdeka, kalau dulu Bangsa Belanda mendidik anak Bangsa untuk di jadikan pekerja Belanda, pembantu Belanda , kuli Belanda, namun kini kalian dididik untuk dapat mandiri, kerja keras membangun Negeri ini". Kalimat ini yang sering terlontar dari para guru.

Pengertian kuli waktu SD, ya hanya pembantu Belanda, karena guru waktu itu tidak menjelaskan arti kuli yang sebenarnya, ketika SMA sudah dapat mencerna arti kuli sesuai dengan KBBI.

Betul bahwa pendidikan tidak membentuk mental kuli, lain pula pengertianya, kuli yang tidak memiliki mental kuli, artinya ia memang kerja kuli, karena berbagai alasan,dan  keterbatasan modal, namun dari kerja kuli, ia akan mengumpulkan modal untuk dapat hidup mandiri sesuai dengan salah satu dari tujuan pendidikan nasional.

Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional juga untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mencermati kata " mandiri " pada tujuan pendidikan nasional berada pada urutan kata ke delapan, setelah Iman, Takwa,berakhlak mulia,sehat dan "mandiri", mandiri memiliki arti , lagi-lagi menurut KBBI,Arti kata mandiri di KBBI adalah: dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain.

Mandiri dapat berarti menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, memproduksi sendiri, menjual sendiri, keuntungannya untuk sendiri, menghidupi sendiri, atau berwiraswasta, wirausaha, bahasa kerennya adalah Enterprenership.

Semua pendidik tentu akan bersedih, kala melihat negeri kita hanya dapat mengirim tenaga kerja ke luar negeri  75 % yang memiliki SDM rendah, supir, pembantu rumah tangga,buruh dan buruh, padahal tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apakah kiranya dapat mengangkat peradaban bangsa yang bermartabat ? kalau kita terus-menerus mengirimkan TKI yang memiliki SDM rendah? pertanyaan ini sering muncul, namun penyelesaiannya masih buntu, apalagi banyak yang menyoroti " sebagai pahlawan devisa negara", tentu akan semakin berminat bagi masyarakat , karena memiliki predikat pahlawan.

VIDEO PILIHAN